Kamis, 14 November 2013

Selamat harimu, Mama!


Kutitipkan salam hormat
pada seorang wanita tangguh
yang bangun sebelum ayam bersuara
untuk sekedar mencari rizki halal
demi kelima anaknya
karena dia adalah orangtua tunggal
yang ditinggal meninggal suaminya

Kurasakan berjuta kasih sayang
pada seorang wanita periang
yang rela makan terakhir
setelah anak-anaknya
atau bahkan makanan sisa anaknya
hanya untuk tahu
bahwa anaknya makan dengan cukup
sehat dan kenyang

Kuisyaratkan cinta mendalam
pada seorang wanita penyayang
yang selalu khawatir jika anaknya tak kunjung datang
dan riak menghadang
karena ia tak ingin,
tak ingin anaknya berada dalam kesusahan

Kuucapkan doa pada-Nya
untuk seorang wanita hebat
yang tak pernah mengeluh
yang mendedikasikan seluruh hidup untuk anaknya
yang terkadang berpura-pura sehat
agar anaknya tak khawatir
dan menangis di sepertiga malam
hanya untuk mendoakan anak-anaknya

Wanita itu adalah Mama
seorang ibu paling hebat
seorang sahabat paling menyenangkan
seorang chef paling handal
dan seorang hamba yang taat

Selamat harimu, Mama!
Selamat hari kelahiranmu
Selamat berusia setengah abad
Banyak pintaku pada-Nya
seperti yang kau bilang,
Ia Maha mendengar
maka kuucapkan doa lirih ini untukmu, Mama

Agar kau selalu sehat,
Agar kau selalu bahagia,
Agar kau selalu dekat dengan-Nya
Agar Tuhan memanjangkan umurmu
hingga kau dapat melihat
kami (anak-anakmu)
satu per satu
meraih sukses demi membahagiakanmu

Selamat harimu, Mama!
Selalu bahagia
semoga kami
dapat menjadi penyejukmu
dikala dirimu merasa gundah
dan lagi
semoga kami dapat menjadi penyelamatmu
ketika nanti
di akhirat kelak
agar kita dapat berkumpul
di Jannah-Nya

Selamat harimu, Mama!


Salam sayang untuk mama tersayang :*





14 November 2013
Rizky Purnama

Minggu, 10 November 2013

Ini Tentang Mereka

Ini tentang mereka yang hidupnya tak seberuntung kita
Berjalan tanpa alas kaki di jalanan
Bekerja tanpa kenal waktu tanpa keahlian
Menengadahkan tangan
Menjual suara tanpa ada yang dengar
Atau sekedar mengharap belas kasihan

Ini tentang mereka yang hidupnya tak setenang kita
Takut akan rotan yang melayang
Tangan berbatu akik yang siap menerjang
Atau bahkan tangkapan aparatur pemerintah
yang tak pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya

Ini tentang mereka yang hidupnya tentu tak sesehat kita
Tak mengenal makanan bergizi
Perut yang diisi makanan sisa dari tempat sampah
Kepulan asap yang terus menerus masuk ke hidung
kemudian paru-paru tanpa permisi
Dan hisapan lem yang perlahan merusak organ

Ini tentang mereka
yang seharusnya mampu bahagia seperti kita
Yang sangat beruntung
hidup tanpa ketakutan
hidup tanpa penyakit

Lihatlah ke kanan ke kiri
berputarlah
karena banyak yang akan kita temukan
dalam hidup ini
dalam Negara yang katanya kaya
dan dalam kehidupan Tuhan Yang Maha Adil

19 Oktober 2013
Rizky Purnama

Sabtu, 09 November 2013

Reward untuk Sarjana

"Kita sering memberikan hadiah kepada orang lain, namun kadang kita lupa untuk memberikan hadiah pada diri kita sendiri atas pencapaian hidup yang telah kita lakukan" - Rizky Purnama
Kalimat di atas muncul ketika aku mengerjakan skripsi. Ketika mengerjakan skripsi banyak sekali hal yang ingin aku lakukan, dan aku beli. Namun kupikir sekali, dua kali, dan berkali-kali. Ah, nanti dulu. Banyak yang harus dikeluarkan dalam skripsi, maksudnya tenaga, waktu dan biaya. Harus Fokus. Akhirnya aku memutuskan nanti setelah skripsiku selesai, dan setelah dinyatakan sah sebagai sarjana aku akan menghadiahi diriku dengan apa yang ingin aku beli ketika skripsi. Dan ini lah hadiah dariku kepada diriku sendiri karena telah menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu :) 

1. Buku Rantau 1 Muara (A. Fuadi)

Sekitar tiga atau empat bulan yang lalu, buku ini terbit. Aku yang sudah menunggu buku ini sangat excited untuk memilikinya. Buku ini adalah buku ke-3 dari Trilogi Negeri 5 Menara. Buku ke-1 dan 2, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna sudah aku miliki. Tadinya mau langsung beli. Tapi apa daya, karena harganya yang nggak murah, dan waktu itu uang dan waktuku lagi kejer-kejeran dengan skripsi, akhirnya aku berjanji dengan diri sendiri "Pokoknya kalo udah selesai harus beli". Setelah ketuk palu aku menjadi sarjana, setelah menyelesaikan urusan yang ada di kampus, akhirnya aku pergi ke toko buku besar di kotaku, dan membeli buku ini. Senang? Tak terkira. Ah, bagaikan anak kecil yang diberi permen. Aku langsung membaca buku ini. Hanya dalam sehari aku mengkhatamkan buku setebal 395 halaman. Bukunya sangat cocok untukku yang baru lulus dan bingung mau kemana. Membacanya bagai disuntik semangat. Ah, happy! Alhamdulillah.


2. KarenaPuisiItuIndah (Tia Setiawati)

Jika ada yang bertanya "kenapa jadi suka dengan puisi?" Jawabannya adalah karena membaca tumblr karenapuisiituindah.tumblr.com Secara tak sengaja aku memfollow tumblr milik Kak Tia tersebut. Kata-kata puisinya menyenangkan, sungguh. Mudah untuk dipahami, dan aku senang membacanya. Percaya atau tidak, jika sudah mulai suntuk dengan skripsiku, aku langsung membuka tumblrnya. Tumblr itu berhasil membuatku senyum setelah jenuh seharian bargulat dengan skripsi. Dari tumblr itu juga aku tahu kalau kak Tia sudah memiliki buku kumpulan puisi yang berjudul KarenaPuisiItuIndah. Bukunya terbit sejak 2012, namun aku baru tahu sekitar pertengahan 2013, saat sedang mengerjakan skripsi. Banyak yang berkomentar bahwa susah sekali menemukan bukunya. Kak Tia bilang dia masih memiliki 5 eksemplar lagi dirumahnya, jika ingin membeli silahkan untuk berkirim email. Aku takut kehabisan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengirim email pada kak Tia. Dia merespons sangat baik, dan Alhamdulillahnya buku KPII tak terlalu mahal. Akhirnya aku membeli buku KPII lewat Kak Tia dengan permintaan dikirimnya bulan November, dan inilah balasan dari kak Tia.



Ah, romantis bukan balasan emailnya; *lebay*. Selepas sidang aku langsung kirim email kepada kak Tia. Dan kemarin hari Kamis, 7 November 2013. Buku KPPI sampai kerumahku. Senang bukan main, apalagi tertulis kata-kata di halaman depannya khusus buatku.

"Dear Rizky Purnama,
Selamat atas salah satu pencapaian besar dalam hidupmu.
Benar kan, memang tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Melangkahlah dengan lebih maju.
Love,
Tia Setiawati P."

membaca halaman depannya membuatku terharu. Ya, ini rewardku sebagai sarjana. Hadiah dariku untuk diriku. Orang lain pun ikut mengapresiasinya. Alhamdulillah. Happy :)


Ini adalah dua reward yang aku berikan kepada diriku sendiri. Sebenarnya masih banyak lagi yang aku ingin berikan, namun apa daya karena keterbatasan hanya dua ini yang dapat kuberikan. Tapi tak apa. Ah, dua saja sudah membuatku tersenyum sepanjang hari. Dua saja dapat membuat aku lebih berwarna. Dua saja membuat aku sadar akan pentingnya menghadiahi diri sendiri ;)
Alhamdulillahirabbil 'alamiin.

Love,
Kiky

Kamis, 07 November 2013

lembar persembahan

Ada hal yang paling lama saya susun di skripsi. Bukan proposal, bukan tiap Bab, atau juga hasil penelitian. Tapi adalah lembar persembahan. Ya, lembar yang bagi kebanyakan orang terlihat sepele. Dari awal saya udah mau susun kata demi kata di lembar persembahan ini, tapi entahlah, saya bingung apa yang harus saya tulis. Yah, ucapan terimakasih tentunya udah saya tulis di kata pengantar. Bahkan bagi saya, hal tersebut kurang. Dosbing saya nyuruh kata pengantar hanya sebatas keluarga. Nggak lebih. Setelah lama saya fikirkan, akhirnya jadi juga motto dan persembahan skripsi saya  Nulisnya pake cucuran keringat dan air mata pulak (agak lebay).

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”- (QS: 94,5-6)
“A journey of a thousand miles begins with a single step – Lao Tzu
“Tuhan tak pernah terburu-buru, Ia selalu tepat waktu”-Tia Setiawati
“If you never try you’ll never know” - Coldplay

PERSEMBAHAN
Untuk tiap tawa yang tak ternilai
Untuk tiap tangis yang terhapus
Untuk tiap jatuh dan bangunnya
Untuk tiap peluang ditengah putus asa
Untuk tiap doa dan dukungan

Sebuah mini mahakarya ku persembahkan kepada:
  1. Mamah yang selalu mendoakanku, menyayangiku, menyemangatiku, membesarkan hatiku, dan menghapus lelahku.
  2. Papah yang berada di sisi Allah, akhirnya aku menjadi sarjana pendidikan sesuai yang papah harapkan J semoga papah bahagia melihatku disana.
  3. Aa, Yayu, Bila, Apit, dan kedua kakak ipar yang menyayangiku tanpa pamrih, mendukung di setiap langkahku, dan memompa semangatku dikala mulai lelah.
  4. Bu Lala dan Bu Trusti, dosen pembimbing yang tak sekedar membimbing, tapi juga memberikan motivasi yang besar hingga karya ini selesai.
  5. Sahabat seperjuangan Fitri, Linda, dan Nining yang memberi warna di kala penatnya kehidupan kampus.
  6. Teman-teman Kelas D Pendidikan Matematika 2009 yang selama empat tahun saling berbagi ilmu, canda, tawa, pengalaman, dan pelajaran tentang hidup.
  7. Teman-teman yang namanya tak dapat kusebutkan satu per satu yang setia mengiburku, memberikan dukungan dan semangat.
  8. Teman-teman PPL “14” dan KKN “Pekalangan”. You are ROCK!
  9. Seluruh guru kehidupan yang pada mereka aku belajar tentang arti kehidupan.


its not the end, but its just a new beginning
(Rizky Purnama, 2013)

Lembar ini mengingatkan saya akan banyaknya tangan  yang membantu hingga akhirnya skripsi ini selesai, betapa banyak mulut yang dengan ikhlas berdoa sehingga semuanya terasa lebih mudah, dan betapa banyaknya curahan kasih sayang yang mengobarkan semangat untuk menyelesaikan mini mahakarya ini. Saya yakin, jika saya berusaha untuk membalasnya niscaya balasan yang saya berikan tak setimpal dengan apa yang telah mereka berikan. Karena bantuan dan dorongan yang mereka berikan tak ternilai harganya. Semoga Tuhan memberikan balasan yang lebih kepada mereka yang dengan ikhlasnya membantu saya. Sehingga saya persembahkan mini mahakarya ini kepada mereka yang telah berjasa dalam perolehan gelar sarjana pendidikan ini. Terimakasih…



Senin, 04 November 2013

Setengah Jam untuk Empat Tahun

Sabtu, 2 November 2013
Mungkin hari itu adalah salah satu hari pentingku dalam empat tahun perjalan kuliahku. Perjuangan akan lulus atau tidak. Mempertanggungjawabkan semua yang aku tulis dalam enam bulan terakhir. Penguasaanku akan materi diuji. Mentalku pun diuji. Siap atau tak siap, waktu terus berjalan. Tanpa boleh sekalipun aku menghambatnya.

Sebelum hari itu, aku mempersiapkan semuanya. Hingga tak ada yang tertingal apapun. Kubaca tugas akhirku yang semuanya 320 halaman. Kubolak balikan melihat apakah ada yang janggal. Menerka apa yang penguji akan tanyakan. Tapi semua di luar jangkauanku. Aku pun tak bisa menebaknya.

Tak lupa, aku pun berdoa pada-Nya agar semua dimudahkan, dilancarkan. Meminta restu ke mama, papa, dan keluargaku. Meminta doa pada semua orang yang akku temui. Hanya untuk satu tujuan, dimudahkan.

Hari itu pun datang, lebih cepat dari yang aku bayangkan. Majelis siding pertama, dengan seorang professor di dalamnya. Aku berusaha tenang, dan tidak panik. Satu per satu temanku masuk ruangan siding untuk di uji. Hati rasanya tak karuan, menebak apa yang akan terjadi dalam ruang sidang. Wajah temanku beragam, ada yang tersenyum, langsung menangis, murka, dan bahkan langsung memuntahkan isi perutnya.
Tiba giliranku. Aku berusaha menenangkan diriku. Mulutku tak berhenti mengucap doa lirih kepada-Nya. Bismillah. Aku masuk dan memperkenalkan diri. Yah, seperti biasa penguji langsung berkata “Rizky Purnama? Seperti nama laki-laki” ini sudah aku prediksi. Aku mempresentasikan point-point tugas akhirku, namun di stop oleh sang professor karena bicaraku yang terlalu cepat, aku pun memperlambat tempo bicaraku. Pertanyaan datang satu persatu, tentang instrument yang aku gunakan, model pembelajaran yang aku gunakan, hasil pembelajarannya, latar belakang, sampel, dan aku disuruh mengajar. Semuanya aku lewati dengan tangan gemetar, hati dagdigdug, ngomong blibet, dan perasaan tak karuan. Semuanya terlewati, walau ada pertanyaan yang akhirnya harus ku jawab “maaf Pak, tidak terfikirkan”. Suasana sidang terasa mencekam namun hangat, diselingi canda tawa tapi tetap serius. Aku terima nasihat setiap pengujiku dengan seksama.

Tiga puluh menit berlalu. Aku pun keluar dari ruangan itu dengan hati tak menentu. Bagaimana kalo tidak lulus, bagaimana kalau sidang ulang. Batinku. Ah entahlah. Aku pun menangis, entah apa yang aku tangisi. Dosen pembimbingku layaknya ibu peri yang menenangkan aku, dan dua anak bimbingannya yang lain. Aku pun merasa tenang. Tenang karena ujian ini telah selelai. dan aku telah berusaha dengan optimal.

Jam 13.00, yudisium. Pengumuman lulus atau tidaknya. Pengumuman peringkat. Kami semua (18 mahasiswa, penguji, dan petinggi kampus) berkumpul di ruang Fakultas. Aku berdoa dalam hati. Berharap dapat lulus seperti yang aku dan orang lain harapkan. Setelah pembukaan dari Dekan (professor yang mengujiku), tibalah saat pengumuman. Pengumuman peringkat. Peringkat ketiga, peringkat kedua. Untuk peringkat pertama, Dekan bertanya pada dosen siapa gerangan yang cocok untuk peringkat pertama. Dan salah seorang dosen menyebut namaku, aku kaget. Dosen lain pun demikian. Dan ya, aku lulus dengan peringkat pertama sidang gelombang 1. Tangisanku buncah oleh rasa senang yang tak terkira. Ucap syukur tak henti dari mulutku. Ini adalah prestasi di akhir masa kuliahku, yang akupun tak menyangka. Namaku dipanggil pertama, aku mendapat surat dengan angka 1 di amplopnya. Aku menyalami semua dosen, dan aku memeluk dosen pembimbingku. Alhamdulillahirobbil alamin.

Perjalanan satu hari yang amat panjang, yang tentunya tak dapat aku lupakan. Teimakasih untuk semuanya. Akhirnya perjalanan empat tahunku membuahkan hasil dalam tiga puluh menit ini. Terimakasih.

Salam,






















Rizky Purnama, S. Pd.