Sabtu, 04 Januari 2014

Sesimpel itu

Hidup itu pilihan
Seperti perjalanan
Kamu boleh memilih untuk belok kanan atau kiri
Boleh juga lurus
Atau kamu ingin mundur lagi
Itu juga boleh
Sesimpel itu...

Hidup itu pilihan
Seperti tanda baca dalam kalimat
Kamu boleh berhenti sejenak lewat koma
Boleh juga bertanya-tanya bahkan melakukan perintah
Atau kamu ingin berhenti seperti titik
Itu juga boleh
Sesimpel itu...

Hidup memang simpel, bagi orang-orang yang membuatnya menjadi mudah.
4 Januari 2014
Rizky Purnama

Jumat, 03 Januari 2014

What I want to be?

Sudah 2 bulan pasca kelulusan, dan 2 minggu pra wisuda saya masih bingung, mau jadi apa nanti saya? Terdengar janggal bagi manusia seumuran saya yang telah memasuki umur twenty something, yang sudah mengenyam pendidikan tinggi lalu masih bingung."What I want to be?" Well, yeah I am.

Tentang bagaimana seharusnya bekerja, atau tentang ingin kerja dimana, atau tentang setelah ini mau ngapain lagi? Mengingat itu bikin semuanya terasa buram. Karena saya masih bimbang. Rasanya, seakan tak produktif jika harus dirumah berdiam diri, cuma sekedar nonton televisi atau sekedar blog walking. Ya, ndak begitu terus sih. Tapi, apa yang dicari setelah lulus ini? Pekerjaan? Well, actually yes!

Prinsip. Ini yang membuat saya makin bingung. Bukan saya sok idealis, tapi prinsip ini yang membuat saya memilah. Memilah apa yang cocok dengan saya, yang sekiranya nggak bikin bosan, dan bisa jadi pegangan hidup berupa materi, dan juga tidak dilarang agama alias HALAL dan barokah. Prinsip ini yang kadang di nyinyirin orang lain,dibilang sok inilah itulah. Sama seperti ketika sebulan kemarin, ketika saya mendapat panggilan dari sebuah perusahaan yang menjajikan gaji besar dengan jenjang karir yang bagus, namun saya menolak. Tolakan saya ini saya fikir baik-baik bukan asal tolak menolak (karena saya pun butuh pekerjaan). Saya juga bukan menolak rizki, sungguh tidak. Saya tahu dalam agama saya tidak baik menolak rizki, tapi dalam agama saya pula mengajarkan untuk mencari rizki yang halal juga berkah. Itu yang jadi prinsip saya, yang (mungkin) orang lain tidak setuju bahkan mungkin keluarga saya.

Ketika dipanggil perusahaan tersebut, kakak saya bilang "coba pikirkan baik-baik bagaimana perusahaannya, sistemnya?". Saya pikirkan masak-masak, kemudian terbesit suatu pernyataan bahwa, masa saya memberi uang pada ibu saya yang tidak berkah. Kemudian saya menolak. Keberkahan ini merupakan suatu kenyamanan hidup. Ya, gaji besar ndak berkah mungkin akan selalu kurang. Bukankah ketenangan hati tidak bisa dibeli dengan milyaran rupiah? Lalu saya menolak dengan dicap bodoh oleh teman-teman saya. Tapi saya yakin, bukankah rizki itu sudah Tuhan atur dan tak akan tertukar walau sepeserpun? Ini prinsip saya, ndak suka yaudah. Biarlah, mungkin Tuhan ingin saya mencari, terus mencari, belajar dan terus belajar hingga nanti saya menemukan, menemukan yang Tuhan telah gariskan.
Kadang ingin menjadi guru, seperti latar belakang pendidikan saya.
Kadang ingin menjadi  dosen, yang terus mengupgrade pendidikan sampai profesor.
Kadang ingin menjadi pegawai BUMN yang gajinya besar.
Kadang ingin menjadi reporter biar bisa jalan-jalan dan menyampaikan berita paling update.
Kadang ingin menjadi pekerja kantoran, yang keren dengan tampak elegan.
Kadang ingin menjadi pengusaha, yang bisa kerja sesuka hati, tanpa ada yang mengatur.
Kadang ingin menjadi ibu rumah tanggah yang fulltime mengurus rumah tangga.
Kadang saya juga ingin menjadi semuanya :))
Seperti Mario Teguh bilang, ketika bekerja anggaplah 2-3 tahun sebagai pencarian, dan selebihnya biarlah pekerjaan yang mencarimu. Semangat mencari! Ketika mencari jangan lupa belajar. Ketika belajar akan menemukan ilmu baru. Dan ilmu itu pasti akan berguna, walau nanti dikemudian hari.


Kerahkan tangan mu sepenuh tenaga, biarkan tangan-tangan Tuhan yang bekerja selebihnya-Rizky Purnama

Rabu, 01 Januari 2014

Tolong ingat ini, Tuan!

Masih ingat ini, Tuan?
Bagaimana saat awal kita berjumpa
malu-malu saling berkenalan
bertukar nama juga saling bercakap
antara aku dan kamu

Masih ingat ini, Tuan?
Saat kita lama tak berjumpa
kemudian bertrmu kembali
lalu berjanji untuk saling menjaga hati
antara aku dan kamu
menjadi kita

Masih ingat ini, Tuan?
Ketika hari-hari menjadi pelangi
Berbagi tawa juga kasih
berjanji untuk saling tak menyakiti
tak saling membebani

Tolong diingat, Tuan!
Tolong diingat, masa-masa itu
agar kau tak amnesia

Tolong ingat saat itu, Tuan!
agar ketika ada yang baru datang
yang menurutmu lebih manis
kau tidak lupa
bagaimana kita bersana
bersusah payah untuk bertahan

Tapi sepertinya kau tidak ingat, Tuan.
Kau terlampau bahagia dengan yang baru.
Kau sudah lupa, Tuan.
Atau dia memaksamu untuk melupa?
Tapi aku tidak, Tuan.
Karena aku tak amnesia sepertimu

Tolong diingat, Tuan!
Kau boleh pergi dengannya
Tapi kau perlu ingat ini, Tuan.
Hatiku bengkak, amat bengkak
ketika kau lebih memilihnya.

Rizky Purnama
20 Desember 2013

Senin, 23 Desember 2013

4 cm; Perjalanan 4 sahabat ke Yogyakarta – Day 3

Soooo, abis hari pertama dan kedua, inilah hari ketiga kita di Yogyakarta. Hari terkahir. Tiket kereta kepulangan jam 15.30, dan masih ada beberapa jam lagi untuk berkeliling Yogyakarta.

can you see tourist over there?
karena nggak kesampaian naik delman
foto di dekatnya pun ora papa

KE-RA-TON
Kita memutuskan untuk ke Keraton Ngayogyakarta. Jalan kaki sambil lewat Malioboro, membeli yang belum dibeli kita jalan terus ke Keraton. Sampe Keraton, duduk dulu sebentar karena nggak paham masuknya lewat mana. Setelah tanya, ternyata masuknya lewat samping, ke pagelaran dan siti hinggil. Muter bentar terus keluar. Kami fikir keratonnya udah sampai situ aja, taunya masih banyak lagi spot yang lain yang HTM nya pun beda lagi. karena lelah , kami memutuskan untuk nggak masuk-masuk keraton yang lainnya. Tadinya berencana mau langsung ke hotel, check out terus balik.


Tapi aku pengen banget ke Tamansari. Aku merujuk ke mereka "Tamansari tuh di fotonya bagus, kesana yuuuk, mumpung di jogjaaaa". Rujukan akupun berhasil, mereka mau temenin aku ke tamansari. hehe. Dari keraton ternyata cukup jauh ke tamansari, kita ngebecak lagi. Sampe Tamansari, Linda Nining udah cemberut dan kelelahan. Aku masih excited banget. Akhirnya aku dan Fitri yang jalan-jalan, Linda dan Nining tunggu di depan Tamansari. Jadi Tamansari itu ternyata nggak satu tempat. Yang kita masukin baru pemandiannya aja. Ada guide yang bersedia buat nganterin kita ke tempat-tempat yang lainnya. Well, kalo nggak dianter sama guide mungkin kita nggak tau kalo ada tempat lainnya, soalnya tempatnya nyatu sama pemukiman penduduk. Lewatin pemukiman, banyak tembok yang di batik, keren lah pokonya. Kita diajak ke bunker, masjid melingkar, dan lainnya. Tempat yang biasa dilihat di tv aku kunjungin sendiri hehe. Hawanya beda-beda. Yah you know what I mean. Setelah puas berkeliling, kami pun naik becak dan pulang ke hotel buat check out and go home~

look! #instasky above me~
mereka sudah lelah dan ingin pulang



itu atapnya kena gempa *infoguide*
masih nggak habis fikir, how to ngebatik in the wall? 
Sampai hoteel, bebenah barang-barang bawaan. Barang-barang yang tadinya cuma dikit menjadi dua kali lipat banyaknya. Nggak paham deh beli apa aja, Bisa sampe banyak kaya gitu. Stelah beres dan pamitan sama yang punya hotel kita pergi ke Lempuyangan pake travel SoSweet (lagi). Selain rekomendasi bapak hotel juga pemaksaan mas-mas yang lainnya. Sampe Lempuyangan kita langsung naik keretanya. Perjalanan pulang ini diwarnai dengan canda tawa tanpa tidur. Enam jam bermain kartu, sambil lempar-lemparan cemilan juga canda. "Jadi uangnya tinggal berapa", "Sebulan kedepan puasa ya!", atau "Abis ini kita mau kemana lagi" :)).

Kita berempat buta Jogja, tapi kita berempat bisa menaklukan jogja. Ya, kita berempat. Karena ketakutan sesungguhnya ialah ketakutan melawan rasa takut itu sendiri. Ini akhir perjalanan aku dan sahabatku berkelana jogjakarta. Kota yang awalnya hanya jadi angan. Next time, bakal ada perjalanan lagi, yang lebih menyenangkan, pasti.

Bukan berapa banyak uang yang habis dibelanjakan. Bukan berapa hari yang kita habiskan. Bukan sejauh apa perjalanan yang kita lewati. Tapi pengalaman terindah bersama sahabat yang tak akan dapat digantikan atau dibeli dengan apapun. Pengalaman sebelum memasuki masa kerja sesungguhnya. Pengalaman yang mungkin takkan terulang. Pengalaman bagi kami, empat orang sahabat semasa kuliah. Pengalaman ini membayar semuanya!

Money can not buy many things, experience one of them.

(Sepulang dari Jogja, kami langsung kembali menghadapi rutinitas masing-masing. Ada yang bekerja, mengajar, juga ngeles. Dan perjalanan ini bikin cerita baru, tiap kita ketemu. Udah kaya radio yang disetel kaset, kemudian di rewind terus menerus)

Sabtu, 21 Desember 2013

21122013

HAPPY 22nd BIRTHDAY RIZKY


Alhamdulillahirobbil alamiin...
Selain ucap syukur di pertambahan usia
Minta apa di usia 22 tahun, Rizky?
Banyak...
Selain minta diberi kebahagiaan dan kesehatan,
Masih banyak pinta-pinta lain yang kuucapkan pada-Nya
Lebih bersyukur, lebih dewasa
Lebih menghargai hidup, lebih beruntung
Lebih sholehah, lebih birul walidain

Selebihnya? Biar tangan Tuhan yang bekerja :)))


Sabtu, 21 Desember 2013
02.15
Rizky Purnama