Kamis, 09 April 2015

Cerita 17 : Awas! Scorpio King

Dini hari sekitar jam 3 pagi aku dikejutkan oleh teriakan Nesya. Kaget, aku langsung bangun dan bertanya ada apakah gerangan?

"Ada yang gigit lengan gue." Ujarnya sambil merintih kesakitan.

"Gigit apaan? Ngimpi kali." Aku yang masih mengantuk menjawab seadanya.

"Engga, beneran ada yang gigit, coba lo periksa!" Suruhnya.

Aku bingunh langsung mengambil senter yang sudah kami siapkan di kasur, siapa tahu ada hal-hal yang tidak diinginka seperti sekarang  dan lampu sudah mati, gelap, jadi kalau butuh senter langsung ambil saja. Nesya tidur di pojok, dia langsunh bangkit berdiri. Aki langsung memeriksa sekeliling kasur dan ranjang.

"Gak ada apa-apa". jawabku

"Coba sekali lagi". Nesya menyuruhku sekali lagi.

Aku menurut, aku langsung memeriksa ulang. Dan aku menemukan binatang yang entah apa namanya di pojok antata kasur dan ranjang.

"Bunuh cepet!" Nesya menyuruhku.

"Gak berani gue, gimana?"

"Yaudah lo ke sebelah aja bangunin orang suruh matiin" Nesya udah ribut aja.

Aku juga takut untuk keluar, tapi daripada tidak tidur akhirnya aku beranikan diri untuk kerumah Bapa Desa dengan syarat Nesya berdiri melihatku dari pintu.

Sembari takut-takut aku mengetuk pintu. Cukup lama mengetuk pintu, akhirnya mama desa bangun.

"Mama, ada binatang di kasur, beta dan Ibu Nesya takut untuk bunuhnya". Ucapku pada Mama.

Aku dan mama langsung menuju tempat tinggalku dan Nesya. Mama langsung membunuh binatang itu. Dan ternyata itu adalah kalajengking yang cukup besar
Melihatnya aku sampai merinding. Beruntungnya Nesya digigit di siku tangan, kalau di kaki katanya nanti akan sakit seluruh badan bahkan sampai kepala.

Kami jadi makin waswas. Pasalnya, mereka bilang jika musim hujan, makin banyak kalajengking.

Kali ini aku bersyukur, Tuhan masih melindungi kami.

Jumat, 13 Maret 2015

Cerita 16 : pelajaran SD

Mengajar matematika di sekolah ini menuntut kesabaran. Paling tidak, mungkin setiap selesai pembelajaran aku selalu mengelus dada. Ada saja hal yang membuat demikian. Tapui mungkin ini tantangannya. Apakah aku bisa mengajar mereka, atau aku disini hanya sebagai symbol semata.

Seperti hari ini. Aku sudah kehilangan cara mengajarkan anak-anak tentang operasi hitung bilangan, positif dan negative. Menggunakan garis bilangan sudah, menggunakan perumpamaan pun acap kali aku lakukan. Tapi yaaaa, ketika mengajarkan paham, lewat sedikit babyar, lupa semuanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajarkan mereka klasikal seperti anak SD.

Aku tulis di papan tulis besar-besar “Operasi Hitung Bilangan Bulat”. Aku lalu bertanya

“Bosong tahu ini pelajaran kelas berapa?”

Mereka serempak menjawab “Pelajaran SD ibu.” Lalu ada yang nyeletuk “Ibu, masa kotong di kasih pelajaran SD. Nanti kalau-kalau ada anak SD yang melihat, kotong malu na ibu.”

Aku lalu tersenyum. Ini anak-anak ada juga rasa-rasa gengsinya. “Nah, kalau bosong son mau anak SD tahu, bosong harus paham betul materi ini. Kalau bosong son bisa, ibu son hapus materi ini. Ibu kasi tinggal sa materi di papan, biar nanti besok anak SD tahu.

“Jangaaaaaaan ibuuuuuu”

Aku pun mengajarkan mereka. Dan baru kali ini, mereka bersemangat sekali belajar matematika. Padahal yang aku ajarkan hanya seputar tambah, kurang, bagi, dan kali. Ketika pembahasan, mereka berteriak kencang-kencang. Aku senang. Yang kutangkap, mereka malu jika ketahuan tidak bisa pelajaran SD.

Hari ini, paling tidak mereka sudah mulai paham tentang bilangan positif dan negative. Walaupun setelahnya tetap saja masih banyak yang lupa, paling tidak mereka sudah belajar. Pembelajaran seharusnya memang seperti itu, kan?


Cerita 15 – berlebaran a la anak rantau

Lebaran Idul Adha sebentar lagi. Berarti sebentar lagi akan pergi ke kota. Aku dan Nesya sudah menunggu hari dimana kita akan ke kota. Setelah sebulan hidup di Kampung yang serba terbatas, kota merupakan salah satu kebahagiaan tersendiri. Walaupun LPTK kami berbeda, tapi agenda turun ketika lebaran merupakan agenda wajib. Dan walaupun Nesya tidak berlebaran, dia juga ikut ke Kota. Ijin sudah di tangan, waktu pulang sudah tiba.

H-2 lebaran aku dan Nesya pergi ke kota. Pagi-pagi, bahkan dari malam harinya kami sudah siapkan semuanya. Tadinya aku mau bawa kurung kupat untuk di kota, tapi kufikir lagi, nanti sayang-sayang kurung kupatnya layu terkena panas di bis. Kami turun membawa madu sebagai oleh-oleh untuk teman-teman disana, maklum madu Amfoang sudah terkenal nikmatnya.

Ini adalah lebaran Idul Adha. Sebelumnya, anak SM3T sudah sepakat untuk berkurban bersama. Tadinya aku mau cari kambing di Amfoang saja, katanya harga kambing murah, 500 ribu sudah dapat yang besar. Tapi karena kesepakatan kolektif akhirnya aku urung membeli. Aku cukup transfer kepada teman yang di kota, dan semua beres.

Aku dan Nesya berangkat menggunakan bis cepat om AKA, kenapa namanya bis cepat? Orang sini bilang karena om Aka nyupirnya “bajingan”. Oke jangan kaget dengar kata bajingan. Bajingan disini artinya bukan kasar, melainkan hebat, keren dan sebagainya. Kami turun kota bersama Menik dan Uyun yang dari Amfoang Utara, Berti dan Erma yang dari Amfoang Barat Daya. Bis kami, selain mengangkut sepeda motor, kali ini membawa empat ekor kambing. Kambingnya ditaro di bagasi atas. Kasian juga liat kambing yang kepanasan.

Setelah 6 Jam perjalanan yang diwarnai dengan tiga kali ban pecah dan akhirnya harus naik angkot, akhirnya kami sampai di penginapan. Bale Dikmas.Rasa kantuk, capek, lelah seketika karena bertemu teman-teman yang sudah sebulan tak berjumpa. Bercerita, bersenda gurau, ah menyenangkan. Membuang uang gaji di kota juga sangat menyenangkan. Ramayana dan Hypermart jadi tempat yang menyenangkan untuk melihat gemerlapnya kota, ceileh. Hahah

Tapi, tahukah kalian? Berlebaran di Kupang ini rasanya seperti tidak berlebaran. Kali pertama merantau, kali pertama berlebaran, aku berada di tempat yang minoritas. H-1 lebaran. Jangan Tanya ada wangi opor. Takbirpun tak terdengar. Sedih? Sangat. Apalagi kami tinggal di asrama. Yang tidak bisa sebebasnya bertakbir atau melakukan kegiatan-kegiatan khas lebaran. Ah, rindu lebaran di rumah, ketika semua sudah tersaji di meja makan, ketika takbir silih berganti berkumandang. Ini tanah rantau, dan ini bukan rumah.


Lebaran pun datang. Bergantian kami mandi, bersiap-siap untuk sholat Ied. Berjalan kaki bersama menuju tempat sholat. Dan sholat Ied bersama-sama. Tiba-tiba aku menitikan air mata, sedih ternyata berlebaran jauh dari orang tua, sanak saudara. Setelah shalat, kami langsung menuju ke tempat penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban kami tersebar di berbagai masjid kota Kupang. Tapi kebanyakan menuju ke masjid terdekat.

Lapar mendera, jangan harap opor ayam dan ketupat seperti layaknya lebaran di rumah. Kami makan nasi bungkus di depan masjid. Sedih, tapi ini lebaran! Harus gembira. Walaupun jauh dari keluarga, tapi aku merasa dekat, teknologi memudahkan semuanya. Aku webcam-an dengan mama dan keluargaku disana, yang (padahal) kebanyakan kakakku pamer dengan makanan yang ada di rumah. Tapi paling tidak itu membuat rasa sepi lebaranku terobati.

Lalu, aku diajak teh Kiki untuk pergi ke rumah Saudaranya di daerah fatufenoy. Kami dijemput. Aku, Mba Weli dan Anggun pergi kesana. Dan tahukah? Kami disuguhi lontong, opor ayam, sambal goreng, rending. Ah rejeki anak sholeh. Lalu kami diajak main banana boat di Lasiana. Ini Lebaraaaan! Sore hari kami pulang ke asrama, beberapa anak tengah memasak untuk kami makan bersama. Ada sate dan tongseng.

Malamnya kita makan bersama. Sungguh menyenangkan. Memang, tidak ada pengganti keluarga. Tapi hal ini merupakan pelengkap keluarga ketika kita berada jauh dari keluarga. Alhamdulillah.


Cerita 14 – Perkalian

Aku penasaran bagaimana kemampuan matematis siswa disini. Jadwal pelajaran sudah aku dapatkan, hari ini aku akan mengajar. Kelas X dan XI, kurikulum 2013. Aku siap mengajar. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya kepada mereka, materi apa saja yang mereka sudah pelajari.

Di Kelas XI
“Waktu kelas X, Kalian belajar Bab apa saja?”
Ekspektasi : Mereka akan menyebutkan semua materi di kelas X.
Realita : Mereka hanya menyebutkan dua bab pertama. Lalu mereka bilang “Pak yang mengajar guru SMK, jadi jarang mengajar. Pak juga jahat ibu, kami belajar takut-takut.”

Di Kelas X
“Waktu SMP, masih ingat tidak kalian belajar matematikanya tentang apa saja?”
Ekspektasi : Mereka akan berebut menjawab pertanyaanku. Saling menjawab tentang materi apa saja yang telah mereka pelajari. Menceritakan pengalaman pembelajaran matematikanya.
Realita : Kebanyakan mereka diam. Hanya sebagian berkata “kotong sonde belajar matematika ibu.”
Kecamatan Amfoang Barat Laut ini, ada 4 SMP di desa Saukibe, desa Leonai, desa Honuk dan desa Soliu. Dan ternyata dari keempat sekolah, tidak ada guru matematikanya. Memang, kenyataannya mereka tidak belajar matematika. Malah ada yang bilang, selama di SMP diajar matematika oleh guru yang bukan guru matematika, alhasil belajarnya pun ngaco. Ada juga yang bilang kalau selama SMP hanya belajar perkalian saja. Astaga.

Tapi, pembelajaran harus tetap berjalan, kan? Eksponen dan Logaritma. Bab 1 dalam materi matematika kelas X.

“Kalian tahu lima pangkat empat berapa?”
“Dua puluuuuuh.” Mereka menjawab. Ada yang diam, dan ada beberapa yang benar. Aku pun menjelaskan secara pelan-pelan. Aku perhatikan, bukan hanya perpangkatan yang mereka kurang pahami, tapi perkalian. Banyak diantara mereka yang belum paham tentang perkalian. Kaget. Masa iya aku harus mengajarkan perkalian pada anak SMA yang seharusnya mulai belajar integral dan turunan? Tapi ya ini mereka. Mereka belajar dengan semua keterbatasan yang ada. Yang penting mereka semangat belajar.


Aku memulai pembelajaran kelas X ini dengan mengingatkan mereka lagi dengan perkalian.

Cerita 13 – Mama Kiky Sakit

Satu minggu sudah aku hidup disini dengan semua keterbatasan yang ada. Hidup seadanya. Tapi hidup seperti ini justru membuatku lebih bersyukur.

Hari ini badanku tidak seperti biasanya. Lemas dan panas. Aku melakukan kegiatan pagi seperti biasa, mencuci piring dan baju, juga bercengkrama dengan mama bapa dan anak-anak.
Sepertinya aku sakit…

Aku beristirahat. Nesya memegang keningku. Dia bilang panas. Aku kemudian berbaring saja, tak enak makan. Tak enak beraktivitas. Aku hanya memakan pisang. Nesya merawatku, memperhatikanku. Alhamdulillah, teman satu penempatanku, baik sekali. Aku pun izin tidak masuk sekolah.

Aku sendirian di rumah, hanya tidur-tiduran saja.Sepi ternyata. Sakit seperti ini aku merindukan mama. Coba ada mama…

Tapi, bukankah ini pilihanku?


Aku harus kuat. Harus!