Minggu, 27 Desember 2015

Cerita 50 - Listrik oh Listrik

"Tenang aja, ditempatin dimana saja pasti sudah ada listrik. Wong listrik sudah masuk desa." - Mama
Sebelum berangkat ke penempatan, lebih tepatnya saat prakondisi dan memberi tahu mama ditempatkan di Kupang, via telepon saat itu, mama selalu bilang begitu.

Nyatanya, ketika sampai di Kupang yang merupakan ibukota provinsi NTT, listrik kerap kali mati. Sehari sebelum ke penempatan, di LPMP kami bertemu dengan Kepala Sekolah tempat tugas kami dan beliau bilang 
'Tenang sa Ibu, di AMBAL (Amfoang Barat Laut) su ada listrik, dari jam 6 sore sampai jam 12 malam." 
Mama ternyata salah. Sesampainya di penempatan Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, memang benar listrik hanya tersedia 6 jam. Jam 12 malam tepat, listrik mati. Gelap, sangat gelap. Agaknya jetlag, ketika biasanya bisa menyalakn lampu kapan saja, sekarang tiba-tiba harus terbiasa hanya terang ketika malam hari. Baterai hape dan laptop pun dipakai sehemat mungkin. Kadang aku dan Nesya jika ingin menonton film di laptop, harus bergantian. Maksudnya, jika laptop Nesya mati kita akan pindah nonton di laptopku.

Keuntungan hidup di dekat Bapa Kepala Desa adalah aku bisa mengetahui tentang semua yang ada di desa ini. Dan pertanyaanku pun muncul. Kenapa Listrik hanya 6 jam, sedangkan di Kupang 24 jam (ya walaupun banyak matinya dibanding nyalanya). Ternyata PLN belum masuk sini. Aku kaget. Lalu, dari mana asalnya listrik yang selama ini dipakai?

Jadi pada tahun *lupa*, pemerintah memberikan bantuan mesin diesel bertenaga solar untuk membantu penerangan desa. Masyarakat gotong royong untuk membuat aliran listriknya, seperti tiang listrik dan kabel semuanya dikerjakan oleh warga. Jangan pikir tiang listriknya sama seperti yang biasa kalian lihat, ya. Tiang listriknya hanya berupa batang-batang pohon yang ditanam di dalam tanah.

Walaupun satu desa diberi satu mesin, mesin itu tak dapat mengcover seluruh penerangan warga desa. Jarak antar rumah yang sangat jauh menjadi salah satu kendalanya. Dan kendala yang utama adalah masalah bahan bakar. Enam desa di kecamatan ini masing-masing mendapatkan mesin diesel, namun ketika saya datang pertama kali, hanya ada tiga desa yang menggunakan mesin tersebut. Sisanya? Mesin hanya didiamkan begitu saja hingga lama-kelamaan seperti tumpukan besi yang tak berguna.

Alasan utama kenapa mesin tidak digunakan adalah masalah solar. Seperti yang Bapak Desa pernah bilang kepadaku, masalah listrik ini masalah yang pelik. Untuk menyalakan listrik selama 6 jam, mesin membutuhkan 35liter solar. Dengan harga bahan bakar di wilayah amfoang yang diatas harga normal, ditambah kebutuhan solar yang tidak sedikit, dan perawatan mesin yang membutuhkan biaya, warga harus membayar listrik tiap bulan sebesar Rp. 50.000,- (sebelum bbm naik). harga itu mrupakan hanya pemakaian penerangan saja, jika memiliki barang elektronik selain lampu, harganya akan bertambah.

Dengan kemampuan ekonomi warga yang jauh dari kata cukup, hal ini membuat masalah listrik menjadi masalah yang tak pernah berujung. Sehingga tiga desa tersebut memutuskan untuk tidak menggunakan mesin lagi. Sehingga desa menjadi gelap ketika malam tiba.

Hal yang sama juga terjadi di desa Oelfatu, Desa penempatanku. Percaya atau tidak, setiap awal bulan Bapak menyuruhku untuk mengetik tunggakan listrik warga desa. Bapak lelah mengurus masalah listrik. bahkan setiap awal bulan listrik pasti mati, karena desa tak mampu untuk membeli solar. Hingga akhirnya, pada bulan Januari listrik desa Oelfatu benar-benar mati.

Aku dan Nesya yang saat itu baru datang dari Kupang karena liburan semester kaget ketika Mama dan Bapa memberitahuku. Aku dan Nesya hanya saling tatap, sedih. Selama listrik mati setiap malam aku dan Nesya hanya mengobrol sambil ngemil atau minum, duduk bercerita dalam gelap dan bantuan lilin. Aku belum terbiasa untuk membaca dalam gelap. Jadi hanya itu yang bisa kami lakukan. Untuk kebutuhan cas, setiap malam Minggu, genset gereja dihidupkan, sehingga aku dan Nesya biasa mengisi daya baterai alat elektronik kami.

Masalah listrik ini memang masalah yang tak berujung. Kebanyakan daerah di Kabupaten Kupang memang tak dilengkapi dengan listrik. Entah mengapa P*N tak masuk ke desa-desa di Kab. Kupang. Lalu yang kuadari bahwa medan disini sangat berat. Contoh paling gampang adalah desaku. Desa penempatanku dihubungkan dengan sungai-sungai besar yang jika musim hujan arusnya sangat dahsyat, mungkin itu hal yang mendasari P*N tidak masuk sisni. Tapi anehnya, kecamatan sebelah, Amfoang Utara yang merupakan kota kecamatan sudah dialiri aliran listrik dari P*N walau hanya 12 jam. Entahlah apa yang menyebabkan hal itu. Mereka hanya bilang karena kota kecamatan, jadi pembangunan  utama akan berpusat di kecamatan tersebut.

Semoga, tahun-tahun kedepannya akan ada sumber daya listrik yang lain yang dapat menerangi desa. Karena memang tak bisa dipungkiri bahwa listrik merupakan salah aspek untuk meningkatkan kualitas SDM.

Rabu, 11 November 2015

Cerita 49 - Amfoang juga Indonesia!

Dulu sebelum sampai di tempat ini aku berfikir. Perjuangan ke sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo itu klise. Tidak mungkin di saat zaman yang sudah canggih begini, kecuali dulu, jaman ketika mama dan papaku bersekolah. Kurasa sekarang sudah zamannya angkot, atau bahkan ojek. Berjalan kaki berkilo-kilo untuk sekolah bagiku mustahil. Sekolah ku pun jauh sekitar 5km, tapi aku bisa naik angkot. Aku selalu berpikir begitu.

Dulu sebelum tiba di tempat ini aku selalu berpikir, Indonesia ya seperti ini, seperti kotaku Cirebon. Tidak ramai namun juga tidak sepi. Akses mudah walaupun sedikit gedung tinggi. Kalau Indonesia Negara kepulauan, ya menurutku yang berbeda hanyalah suku, ras dan budayanya. Selebihnya ya sama saja. Semua dapat di jangkau.
ketika mereka berjalan di kali, ketika musim hujan.

Kali, ketika hujan mulai deras

Setelah sampai sini, pikiranku kemudian berubah. Kufikir Indonesia belum merdeka. Perjalanan berkilo-kilo untuk sampai ke sekolah memang benar adanya. Aku melihat sendiri, betapa anak muridku harus berjalan paling jauh 13km untuk sampai ke sekolah. Melewati hutan dan sungai dengan bahaya yang bisa datang kapan saja. Mereka harus menempuh perjalanan 2 jam dengan kaki untuk sampai ke sekolah. Tidak heran kalau di sekolah mereka hanya tinggal lelahnya saja.

Aku pernah ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki sejauh itu. Aku ingin mengunjungi temanku yang rumahnya di desa paling atas, sama seperti desa tempat tinggal siswaku. Aku ingin berjalan kaki. Anak-anak meremehkanku. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki jauh. Dan, ya 13 km ditempuh dengan 3 jam, melewati hutan dan entah berapa kali menyebrangi sungai. Jalanan yang tidak rata, bebatuan membuatku berkali-kali hampir jatuh. Setibanya di tempat tinggal kawanku, rasanya kakiku mau copot. Capek sekali, dan aku hanya bisa tidur setelahnya.

Aku tak bisa bayangkan mereka harus pulang pergi berjalan kaki sejauh itu.  Mereka memang sudah biasa, dan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kalau tidak berjalan kaki sejauh itu, mereka tidak sekolah.  Kalau mau naik kendaraan misalnya naik ojek, itu sangat mahal sekali, harga pulang pergi bisa sampai Rp. 100.000. Tidak sebanding dengan penghaslian mereka. Belum lagi kalau musim hujan, mereka harus berkejaran dengan sungai-sungai banjir yang memakan korban. Kenapa tidak dibagun jembatan? Well yeah tempat ini memang sedikit sekali tersentuh pembangunan, pembangunan yang ratusan juta terkadang hanya meninggalkan papan belaka. Lagipula kalau memang dibangun jembatan, berapa km jembatan yang harus dibangun? Ah, pelik.


Sehingga setelah sampai sini aku pupn tersadar bahwa, Indonesia bukan hanya Cirebon. Indonesia bukan hanya Jawa yang pembangunannya tak pernah habis. NTT juga masuk Indonesia kan? Amfoang juga kan? Kenapa tidak dibangun juga?

Cerita 48 - Bintang di Langit Gelap; Siswa Cerdas

Mengajar di daerah terpencil membuatku untuk tidak menaruh harapan yang tinggi. Karena terkadang ekspektasi hanya berujung kekecewaan atau bahkan membuat  terkejut. Tapi aku tidak boleh berputus asa, aku yakin mereka bukan tidak bisa melainkan tidak adanya fasilitas, lagi-lagi masalah akses. Aku pun tak melulu hanya mengajarkan mereka tentang program linear ataupun matriks, aku lebih mengajarkan tentang hidup pada mereka, paling tidak mereka tidak sekedar tahu yang itu-itu saja.

Setahun mengajar, sudah lumrah rasanya melihat hampir 90% siswaku remedial. Hal biasa, karena rasanya sulit memang mengajarkan polynomial ketika mereka belum pernah belajar aljabar atau mengajarkan program linear ketika perkalian mereka belum khatam. Pemahaman mereka memang harus dibentuk. Tidak cukup jika setahun. Logikanya kita belajar matematika di SMP selama tiga tahun, dan mereka tidak merasakan belajar matematika saat SMP, dan tiba-tiba setahun mereka harus paham semuanya, mustahil rasanya.

Hari-hari berlalu, dan aku mengajar semampuku. Aku paham betul fungsi sekolah untuk mereka. Sekolah merupakan tempat istirahat dari pekerjaan fisik yang cukup melelahkan. Ya, siswaku tak seperti siswa kebanyakan yang tugasnya hanya belajar. Banyak pekerjaan yang mereka lakukan di pagi hari sehingga siang hari ketika sekolah mereka hanya beristirahat. Fisik mereka lelah, mungkit otak mereka hanya menginginkan satu kata, tidur.

Tapi bagiku, mengajar mereka merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Mereka memang lelah dan beristirahat di sekolah, namun mereka tetap excited dengan pelajaranku, walaupun ujungnya nanti mereka bilang “Beta pusing ibu, kermana bisa begitu?”. Lalu aku menjelaskannya berulang-ulang sampai nanti mereka bilang “Nah, kalau begini beta su mengerti, tapi beta yakin besok pasti su lupa lagi.”

Diantara siswa yang seperti itu ada dua orang siswa yang menurutku sangat cemerlang. Mereka bagai bintang di hamparan langit luas. Aku tak berlebihan. Mereka adalah Tirsa Natbais kelas XI IPA dan Yani Taemnanu kelas X. Tirsa dan Yani tak hanya pintar matematika, mereka pintar sema pelajaran dan selalu menjadi juara umum.

Tirsa pernah tidak masuk sekolah karena sakit saat pelajaranku. Keesokan harinya di sekolah, dia bertanya padaku tentang pelajaran kemarin. Ketika ulangan, dia mendapat nilai paling besar. Ketika akan diadakan olimpiade matematika se-Kab. Kupang aku merekomendasikan dirinya. Aku pun menjadi pembimbingnya. Dia bersemangat sekali. Dia bisa menjawab soal denga benar. Aku hanya perlu mengajarkan sekali, dan dia sudah benar-benar paham. “Walaupun tidak jadi mengikuti olimpiade, paling tidak saya sudah belajar banyak, lebih dari teman-teman saya.” Itu kata Tirsa setelah akhirnya mengetahui kami tidak jadi ikut Olimpiade karena hujan besar yang melanda mengakibatkan jembatan putus, sehingga kami tak bisa ke kota.

Lain halnya dengan Yani. Yani adalah adik dari teman guruku di sekolah, dan anak perepmuan satu-satunya di keluarga. Dia pendiam orangnya, tapi otaknya sangatlah encer. Aku pernah melihat dia membaca buku dengan pelita saat aku berkunjung ke rumah teman guru. Dia juga satu-satunya siswa yang membawa buku untuk belajar saat disuruh orang tuanya membantu memasak untuk kami, guru-guru. Ketika aku bertanya di kelas, dia hanya menjawab lirih. Dia pemalu, padahal semua jawaban yang keluar dari mulutnya benar. Nilainya untuk mata pelajaran matematika juga selalu bagus. Pernah kakaknya (teman guru) bilang “Yani pernah dapat ulangan nilainya kecil, dia tak henti-hentinya menangis., dan nanti belajarnya akan lebih keras lagi.

Lalu aku tersadar. Selalu ada lilin terang di setiap kegelapan. Aka nada anak yang cemerlang di tengah semua keterbatasan. Aku yakin, jika Tirsa dan Yani hidup dari kecil di Jawa yang fasilitas serba ada, mereka akan menjadi bintang. Mereka cerdas alami, tanpa bantuan buku yang memadai, tanpa penerangan, dan tanpa fasilitas.

Yani (Tengah)

Tirsa (Kanan)


Aku berpesan pada kedua orang tua mereka saat berpamitan “Mama, mereka (Yani dan Tirsa) harus sekolah sampai tinggi. Mama harus tau, anak mama berdua sangat pintar.” Berkata seperti itu membuat orang tua mereka menangis, kemudian berkata “Pasti Bu, kami akan menyekolahkan mereka setinggi mungkin yang kami bisa.”

Rabu, 09 September 2015

Cerita 47 - Pengakuan Dosa

Selama setahun ini selain mengabdi (ciyeee) ada beberapa dosa yang harus kuakui. Duh sebenarnya malu untuk mengakuinya.
Yang pertama adalah aku pernah makan daging sapi dimana bukan aku yang menyembelihnya. Aku tahu aku diharamkan untuk memakan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, tapi saat itu apa daya. Setan banyak hingga aku memakannya. Makannya banyak lagi. Maaf ya Allah.
Yang kedua adalah pulang pagi saat pesta. Disini kalau pesta memang dari malam sampai pagi. Awalnya aku pulang pesta paling jam 12 malam, tapi lama kelamaan karena menganggap pesta adalah suatu hiburan aku pulang pagi, pernah pulang pesta jam lima pagi. Lalu di pestanya dansa sana sini. Abis gimana aku diajari dansa oleh tetua disana, dan diajak dansa sana-sini. Kalau nolak tidak enak. Lagian di jawa kan mana pernah pesta kaya gitu.
Yang ketiga adalah aku pernah ngamplopin ke pesta hanya dua ribu perak. Jadi biasanya adat disini ketika diundang acara syukuran atau pesta, para tamu memberikan amplop berisi uang. Aku tau dari bapa desa ketika aku berangkat pesta. Awalnya aku memberi amplop dalam jumlah yang banyak selayaknya di jawa. Tapi lama-kelamaan teman guru bilang, jangan banyak-banyak. Akhirnya menurun seiring berjalannya waktu, paling kecil lima ribu rupiah. Sampai suatu waktu saat mau pesta aku tidak memiliki uang pecahan. Cari sana sini tidak ada, akhirnya teman guru memberikan uang seribuan dua, yang kucel dan lecek lalu bilang. “Sudah ibu dua ribu ju son apa-apa.” Akhirnya Rizky datang ke pesta dengan amplop dua ribu rupiah, dan makan kenyang.
Yang keempat adalah aku pernah menyuruh orang minum sopi. Ini benarbenar terpaksa karena aku diminta minum untuk adat oleh tetua. Daripada terus menerus disuruh aku cari orang untuk minum sopi sebagai penggantiku. Disana juga aku tahu bau sopi, tahu warnanya, Duh, aku justru malah dekat-dekat dengan sopi karena mau tahu bentauk, warna dan baunya seperti apa.
Yang kelima aku sering ikut ibadah “mereka”. Jangan punya pikiran negative dulu. Biasanya disana banyak acara-acara pengucapan syukur, atau kalau disini lebih ngehitznya acara syukuran. Biasanya acara syukuran diawali dengan ibadah syukur. Aku mau tak mau harus duduk diam disitu. Kebanyakan ketika ada ibadah seperti itu aku duduk sambil tidur. Hehehe.

Hal-hal di atas merupakan dosa-dosa besarku selama setahun disana. Selebihnya Insya Allah aku masih tetap berada di jalan yang lurus. Malu sebenarnya mengakui hal ini. Tapi aku sudah berusaha seminimal mungkin untuk melakukan hal-hal diatas. Semoga Allah mengampuni dosaku.

Cerita 46 - Bapa Desa

Aku tinggal di dekat Bapa Desa, dan aku bersyukur tinggal disana. Bapak adalah sesosok pemuda yang semangat membangun desanya. Dengan kumis sepotong macam hitler Bapak justru tak ada hitlernya. Bapa amat sangat baik. Seperti kepadaku, Bapa menerima orang baru yang ingin memajukan Desanya. Dia bilang harus menghargai orang yang jauh-jauh datang untuk membuat pintar anak disini. Bapak memang bukan sarjana, tapi kalau sudah ngobrol sama Bapak, sarjana juga kalah pintarnya. Bapa memang gaptek, tapi dia tidak malu mengakui dirinya yang gaptek, Bapak tak segan meminta tolong padaku, bahkan kadang minta tolong padaku untuk mengajarkannya.

Bapak memiliki cirri khas, yaitu tertawanya. Sepanjang satu tahun disini aku tak pernah melihat Bapak seharipun tidak tertawa. Bahkan kadang aku yang bingung ini Bapak tertawa atau sedang marah. Tapi Bapak kalu marah juga serem. Hihi. Ciri khas yang lain adalah sirih pinag. Bapak merupakan “sirih pinang addict”. Bisa stress kalau tidak ada sirih pinang dan tembakau. Makanya bibir Bapak selalu merah gonjreng. Bapak juga yang menghadiahi aku sirih pinang ketika aku ulang tahun. Kalau kemana-mana tas Bapak selalu Mama isi bekel, apa bekelnya? Ya sirih pinang.

Seperti kebanyakan orang disana, Bapak hobi bercerita. Dan aku hobi mendengarkan cerita Bapak. Bahkan teman-teman SM3T yang berkunjung ke desaku menjuluki Bapak sebagai “Bapak Asik” atau “Bapaknya kita semua”. Karena tiap ada temanku yang abis berkunjung pulang ke penempatannya Bapak selalu bilang “Hati-hati ibu, jangan lupa pulang kesini ya.”  Makanya aku merasa memiliki seorang Bapak disini.

Sebagai Kepala Desa, Bapak sangat totalitas dalam melayani masyarakat. Bahkan kadang aku dan Mama yang ribut karena Bapak kerja tak tahu waktu. Bayangkan kadang ada warga desa yang malam hari minta ini itu, Bapak tetap melayani. Belum lagi rapat ini itu yang menghabiskan waktu berjam-jam. Atau orang laporan yang membuat denda adat Bapak juga harus duduk berjam-jam dengan masyarakat. Ah Bapak, seharusnya Kepala Desa bekerja 8 jam, Bapak malah 24 jam. Bapak hanya bilang “Pelayanan harus dengan sepenuh hati to Ibu.” Temanku sampai bilang “Kalau Bapak jadi calon presiden, kami siap jadi tim suksesnya.”

Itulah Bapak yang bercerita tanpa habis. Yang memiliki cita-cita setinggi langit. Yang ingin anaknya sekolah tinggi tidak seperti dirinya. Ah Bapak, kadang aku iri dengan keikhlasan dan ketulusannya dalam mengabdi. Yang sehat-sehat terus ya Pak. Semoga Bapak bisa jadi anggota DPR sesuai cita-cita Bapak. Mudah-mudahan seperti yang Bapak bilang “Ibu, biasanya orang yang pernah mengabdi di Oelfatu selepasnya dia akan menanjak dalam karirnya.” Aku aamiin kan Pak.



Sampai ketemu lagi Pak. Semoga aku bisa bertemu Bapak lagi. Terima Kasih Pak atas ilmu yang diberikan, semoga Bapak selalu diberi berkat lebih oleh Tuhan.