Minggu, 26 Juni 2016

Pemimpin dan Dipimpin

sumber gambar

Beberapa waktu yang lalu kami (aku dan teman asrama) tidak pergi ke masjid untuk sholat taraweh karena satu dan lain hal. Kami merencanakan untuk sholat sendiri di asrama secara berjamaah. Seperti biasa, ketika akan sholat berjamaah yang isinya perempuan semua, kami akan saling tunjuk imam. Terkadang ada yang berebut iqomah karena tidak ingin menjadi imam. Pada akhirnya aku yang disuruh menjadi imam, padahal kami semua setara, bacaan kami ya hanya itu-itu saja. Daripada membuang waktu saling tunjuk imam, akhirnya aku mengalah.

Dimulailah dengan shalat Isya. Aku ingat sekali, aku mengantuk, dan bacaan surat pilihanku ada yang salah. Aku merasa berdosa. Yang kutahu, ketika imam salah, berarti dosa makmum ditanggung imam. Selepas shalat isya, aku meminta maaf dan berkata “Kalau ada yang salah bacaannya, tolong dibenerin, ya!” Kemudian aku melanjutkan dengan shalat taraweh. Ini kali pertama bagiku. Lalu, aku merasa lelah, ternyata menjadi imam melelahkan. Ternyata menjadi imam shalat tidak semudah dibayangkan. Tidak hanya memimpin sholat, tapi membaca dengan benar, bahkan menanggung dosa. Duh.

Kemudian… aku berfikir.

Perkara memimpin dan yang dipimpin. Menjadi imam adalah perkara yang tak mudah. Bukan hanya perkara memimpin, membaca Quran yang bagus, tapi juga perkara tanggung jawab. Perkara ini yang sulit. Seperti kita memilih imam kelak, memilih imam harus yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk membimbing kita ke jalan yang benar. Bertanggung jawab akan diri kita. Bertanggung jawab akan dosa-dosa kita

Imam dan makmum juga harus bersinergi. Makmum mempercayai imam, dan imam berusaha agar dapat dipercaya. Makmum akan mengikuti semua gerakan imam, semua bacaan imam, asalkan benar dan tak menyalahi aturan sholat. Imam dan makmum juga harus saling membantu. Saling mengingatkan. Seperti halnya manusia biasa, imam pun tak luput dari kesalahan. Makmum boleh mengingatkan. Bukankah makmum yang baik adalah makmum yang dapat mengingatkan?

Dan yang kutahu, menjadi imam itu adalah pekerjaan berat lagi lelah. Makmum seyogyanya menghargai imam, mempercayainya dan mendukungnya. Karena bagiku, makmum dan imam adalah satu tim yang seharusnya solid. Wallahualam.


*Tulisan ini adalah tulisan iseng ketika menjelang fajar, selingan menulis buku kajian tugas pesantren yang tak kunjung selesai

Senin, 20 Juni 2016

Mencari dan Menemukan

sumber gambar
Hari ini aku pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan demi seminar proposal yang sudah di depan mata. Entahlah apa jadinya proposal penelitianku yang seperti mie instan, dikerjakan dalam waktu singkat. Mudah-mudahan tak seperti mie instan betulan yang mudah mengembang, namun sulit membuat kenyang *apasih*. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan. Ada hal yang membuatku belajar di perpustakaan siang ini. Belajar materi proposal, itu pasti. Tapi lagi-lagi sering kubilang, belajar tentang kehidupan adalah hal yang paling penting, menurutku. Dan hari ini aku menemukan suatu pembelajaran yang implisit namun berarti.

Di perpustakaan aku mencari buku-buku penunjang bahan proposalku. Dimulai melihat tesis yang ada di perpustakaan, kemudian melihat daftar pustakanya lalu mencari bukunya di katalog online yang disediakan oleh perpustakaan. Aku mulai mengetik judul buku dan keluarlah nomor katalog buku. Aku pun mencarinya, satu kali tak ketemu. Aku kembali menyusuri lorong, tapi nomor buku yang kucari tak kunjung terlihat, 370 nomor buku yang kucari. Tak kunjung dapat. Sampai akhirnya aku pergi ke mesin pencari buku (lagi). Aku mengetik judulnya. Dan kali ini aku menulis semua nomor bukunya, 370.152. Aku tak ingin gagal lagi. Akupun menyusuri lorong-demi lorong, dan tak kunjung dapat.

Aku mulai jengah, dan kembali ke tempat duduk sambil menggerutu. Kemudian salah seorang temanku bertanya “Ky, cari buku nomor 370? Itu ada di lorong sebelah sana.” Aku pun mulai semangat lagi untuk mencari. Pelan-pelan kucari, namun tak kunjung ketemu. Sampai akhirnya aku menysuri satu persatu bukunya, perlahan-lahan, dan voila. Ketemu! Ternyata buku yang kucari daritadi ada di depan mataku, hanya kapasitas mata manusiaku yang tak dapat melihatnya. Ternyata buku yang kucari hanya sediikit terselip atau mungkin “ngumpet”, karena bukunya kecil, tertutup buku-buku lain. Dan selepas menemukan buku itu, rasanya senang sekali. Bagaikan mendapat secercah harapan karena proposal yang tak kunjung selesai. Ah senang rasanya.

Lalu aku kemudian mendapatkan suatu pelajaran baru. Pelajaran tentang mencari dan menemukan. Mungkin saat ini ada yang sedang mencari namun tak kunjung dapat. Mungkin kita mencari tergesa-gesa hingga tak menemukan yang dicari. Mungkin kita mencari di tempat yang salah, hingga tak kunjung menemukan. Mungkin yang kita cari ada di depan mata kita, namun kita sibuk mencari ke tempat yang lain sehingga yang dicari seakan-akan tak terlihat. Mungkin mata kita kurang terbuka lebar hingga yang dicari seakan-akan terlampau kecil untuk terlihat. Atau mungkin, kita butuh bantuan orang lain agar dapat menemukan pencarian kita.

Jadi, pelajarannya adalah sabar, jangan tergesa-gesa, dan jangan menyerah. Siapa tahu yang dicari sedang menunggu untuk ditemukan. Dan percayalah, setiap pencarian pasti akan menemukan.

Selamat mencari dan selamat menemukan. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan yang mudah lagi berkah dalam proses penemuanmu.

Minggu, 12 Juni 2016

PILIHAN YANG DIPILIH


Hidup memang suatu pilihan. Tapi bagaimana jika kalian yang menjadi suatu pilihan. Bukan pilihan utama melainkan pilihan kedua. Pilihan yang sebenarnya tak akan dipilih, namun hanya diberi harapan untuk dipilih. Bagaimana jika kalian seperti itu? Bagaimana jika pada akhirnya harapan patah karena dia lebih memilih (pastinya) pilihan yang pertama?

Jika diibaratkan antara pilihan pertama dan kedua seperti Bunga, mungkin begini jadinya:

Seseorang akan menanam dua bunga pada waktu yang berbeda. Pertama, dia menanam bunga A. Selang beberapa waktu dia menanam bunga B.

Bunga A berasal dari bibit yang baik, disiram setiap hari. Dan tumbuh seiring berjalannya waktu, hanya perlu matahari dan air bunga tersebut tumbuh baik. Merekah dan indah. Sampai  dikiranya bunga itu akan dipelihara terus menerus, dan dirawat terus menerus.

Selang beberapa waktu dia menanam bunga B.
Bunga B berasal dari bibit yang baik, disiram dan diberi pupuk setiap hari, ditambah vitamin-vitamin pendukung. Dan bunga tersebut tumbuh lebih pesat dibanding bunga A. Tumbuh lebih merekah dan lebih indah dibanding bunga A. Bunga itu tumbuh baik bukan hanya karena matahari dan air saja, namun juga ditambah pupuk dan vitamin-vitamin pendukung.

Lalu ketika harus memilih, dia pasti akan memilih bunga yang lebih cepat pertumbuhannya dibanding bunga alami yang lama pertumbuhannya. Belum lagi pendukung-pendukung yang membuatnya semakin merekah.

Pada akhirnya dia memilih bunga B, dan bagaimana nasib bunga A? Bunga yang terlanjur merekah itu dia buang begitu saja, tanpa memikirkan bagaimana jika dia mencari faktor pendukung lain agar bunga A cepat merekah. Dirinya begitu saja memutuskan, tanpa berusaha. Dirinya begitu pasrah untuk memilih bunga B. Terlalu cepat, mungkin hanya karena melihat pertumbuhannya.

Tapi lagi-lagi itu pilihan sang penanam bunga. Hak preogratifnya untuk memilih. Mau berusaha atau tidak, bukankah yang lebih cepat justru lebih baik? Untuk apa berusaha lebih untuk hasil yang belum pasti juga nantinya. Lebih baik melihat yang sudah ada, kemudian langsung memilih. Perkara Bunga A, sudah dibuang, ya sudah. Bukankah hanya sebuah bunga?

Seperti itu analogi pilihan. Bagaimana jika kalian menjadi bunga A? Disiram terus menerus, namun dibuang begitu saja pada akhirnya. Tidak diperjuangkan atau memang tak ingin berjuang. Sakit? Kecewa? Patah? Begitulah nasib menjadi pilihan, dipilih atau ditinggalkan, dibuang atau diperjuangkan.

“Jangan berharap pada manusia, karena pada akhirnya kamu akan kecewa.” – Ali bin Abi Thalib

Pesan moral : Jika menjadi pilihan, jangan sedikitpun berharap. Berharap akan menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan akan menimbulkan kesedihan dan pastinya penyesalan.

“Ketika seseorang benar mencintaimu karena agama, dia akan memperjuangkanmu sebagaiman yang dianjurkan agama” - @jalansaja_
------- Mungkin memang dia tak ingin berjuang, karena kenyataannya dia tak mencintaimu

“Akan ada, dan pasti ada. Orang yang bisa menerimamu sedemikian rupa” – Kurniawan Gunadi



Minggu, 10 April 2016

Chapter 1 – Selamat Datang di Pondok Pesantren Guru

Cerita SM-3T telah berakhir, tulisannya sudah ku rangkum disini. Sekarang aku akan memulai chapter baru yaitu PPG alias Pendidikan Profesi Guru yang biasanya diplesetkan menjadi Pondok Pesantren Guru.

Agustus 2015 kemarin, kami (peserta SM-3T angkatan IV), pulang ke daerah asal. Enam bulan masa transisi (pengangguran) dihabiskan dengan berbagai macam kegiatan ada yang menjadi traveler, ada yang kerja kantoran, ada yang mengajar, ada juga yang hanya makan dan bobo cantik alias menganggur.

Aku pun demikian, enam bulan pasca SM-3T kuhabiskan dengan mengajar privat, menjaga toko kakaku, dan jalan-jalan. Rasanya agak kaget mengingat kehidupan yang serba bebas di penempatan, lalu pulang kerumah dengan kebiasaan yang berbeda, budaya yang berbeda, dan karakter yang berbeda. Jenuh dan bosan itu pasti, namun mau apa lagi. Ingin kerja yang terikat pun bingung, karena program PPG pasca SM-3T yang rumornya dimulai bulan Maret.

Enam bulan berlalu, tepatnya bulan Februari (kebanyakan) anak SM-3T mengalami kegalauan akan PPG yang tak kunjung memberikan kabar kepastian, ibarat digantung pacar mau putus atau lanjut, begitulah kira-kira pemerintah menggantungkan nasib kami. Berita Hoax pun bermunculan, dari mulai katanya diundur tahun depan, bulan Juni, bahkan katanya PPG ditiadakan. Semua panik, semua bingung, semua galau.

source : google
Sampai akhirnya ada angin segar pada awal Maret, mengenai info PPG. Hari-hari berlalu, makin lama hilal PPG makin jelas. Plotingan penempatan keluar, peserta disebar ke berbagai LPTK seluruh Indonesia. Aku sendiri kembali ke LPTK dimana aku daftar, UPI Bandung. Padahal aku berdoa mendapat LPTK lain, namun doa Mama mengalahkan segalanya. Registrasi online selesai, registrasi kampus selesai, saatnya berangkat ke tempat tujuan selama satu tahun, Bandung. Tempat yang kata Pidi Baiq bukan hanya masalah geografis namun juga melibatkan perasaan.

Tanggal 15 Maret aku berangkat bersama ketiga temanku yang berasal dari Cirebon. 7 jam perjalanan Cirebon-Bandung (entah kenapa lama sekali) akhirnya kami sampai di asrama. Kenapa asrama? Jadi PPG ini adalah program berasrama, selama satu tahun, dan katanya asrama UPI adalah asrama yang paling ketat.

lorong asrama
Asrama kami terletak di paling belakang, terdiri dari empat lantai, putra di sayap kiri dan putri di sayap kanan. Aku mendapatkan kamar di lantai 4, mungkin Allah mengijabah keinginanku untuk menurunkan berat badan. Teman asramaku Sari dan Ulfa, yang sudah kukenal sebelumnya, mereka berasal dari LPTK UPI dan prodi matematika, sama sepertiku. Lalu aku berdoa “Ya Allah, semoga kehidupan asramaku bersama mereka, bisa berjalan berdampingan tanpa selisih paham yang berarti. Bisa menjadi keluarga disaat jauh dari keluarga, dan bisa menghangatkan udara Bandung yang dingin” Aamiin.

kamar mandi
Setiap lantai di asrama memiliki dua lorong, masing-masing lorong memiliki enam kamar mandi yang terdiri dari tiga wc dan tiga kamar mandi, satu pantry, dan jemuran. Satu lorong terdiri dari enam kamar. Kamar kami terdiri dari tiga kasur plus ranjang, dua lemari, dua meja belajar, dan tiga kursi.
kamarku~~~~~

Keesokan harinya dimulailah orientasi PPG Pasca SM-3T. Semacam ospek tanpa plonco, Orientasi berjalan tiga hari memulai perjalanan satu tahun ini. Orientasi seperti layaknya duduk kuliah, mendengar materi, kemudian makan. Ha-ha, diawali dan diakhiri dengan Kartika Sari dan ditengahi oleh jajanan pasar.


Setelah Orientasi, kami mulai memasuki perkuliahan yang sesungguhnya. Kami harus mulai beradaptasi dengan cuaca Bandung yang tiap sore hujan, air yang sangat dingin dan makanan manis. Kemudian aku berdoa lagi "Ya Allah, semoga dalam setahun ini semuanya berjalan lancar, diberi kecerdasan, memahami materi yang diberikan, lulus dengan baik dan seperti tujuannya menjadi guru profesional" Aamiin. Yap, Selamat datang di Pondok Pesantren Guru! 

Jumat, 04 Maret 2016

Cerita 54 - Perpisahan



Bagiku perpisahan tak akan pernah menyenangkan, Entah itu dengan pacar,keluarga, sahabat, atau bahkan saat ini. Aku tahu tugasku disini hanya satu tahun, dan ketika ada pertemuan pastinya akan ada perpisahan. Perspisahan yang bagi sebagian orang merupakan suatu kesedihan, tapi mungkin bagi sebagian lagi merupakan suatu kebahagiaan. Kalau bagiku saat ini perpisahan camur-campur rasanya antara senang dan sedih. Senang karena masa tugasku telah habis, aku akan bertemu keluargaku di tanah kelahiranku. Tapi perpisahan ini juga membuatku sedih, meninggalkan keluarga baru yang sudah setahun ini menemaniku, teman, sahabat, anak murid, dan kebiasaan-kebiasaan satu tahun ini. Ini yang membuat perpisahan menjadi sulit.

Satu tahun bukan waktu yang sebentar mengukir pengalaman disini. Hal-hal yang dulu kuanggap tabu harus menjadi biasa disini. Hal yang sebelumnya tak pernah kufikir bisa kulakukan, kulakukan disini. Hal-hal yang belum pernah aku lakukan, kulakukan disini. Hal yang tak pernah kutahui, aku tahu disini.Ah begitu banyak hal-hal tersebut yang membuatku sedih meninggalkan tempat ini. Tapi, perpisahan ini memang harus begini adanya. Karena setiap yang bertemu memang harus berpisah.

Minggu-minggu akhir berada disini rasanya memang tak ingin pulang. Banyak kegiatan disini, dari mulai sekolah, desa sampai kecamatan. Teman-teman guru dan anak-anak makin sering berkunjung kerumah. Bahkan di akhir-akhir setiap hari mereka ke rumah hanya untuk sekedar menemani atau bersenda gurau sambil ngecas hape. Lalu mereka membuat kopi dan aku memasak alakadarnya. Kami semua makan sambil tertawa. Sudah malam kuusir mereka karena aku yang mengantuk, tapi mereka pasti bilang “Nanti do ibu, Ibu su mau pulang ju.” Jadilah aku tidak jadi tidur. Menunggui mereka yang belum pulang.

Minggu-minggu terakhir juga aku makin sering mengobrol dengan orang rumah. Mama dan Bapa yang super sibuk. Kadang aku menemani mama yang bertani di belakang Balai Desa. Atau iseng-iseng bertamu kerumah orang. Atau main ke rumah Bai Tapatab gara-gara mau makan ikan lele, dan Bai bilang “cukup empat su”, padahal aku ambilnya lima. Atau juga memasak bareng mama dan anak-anak. Mereka bilang masakan Jawa. Entah aku masak apa pokonya nanti mereka akan komentar “Enak dan Pedis.” Padahal aku yakin makananku kurang ini kurang itu, maklum koki amatiran.


Sampai di acara perpisahan. Banyak yang menitihkan air mata. Aku pun demikian. Aku baru melihat Bapa menangis sampai tersedu-sedu. Teman-teman guru juga demikian. Bahkan anak-anak yang histeris. Lalu aku sadar, tinggal beberapa hari lagi, aku tak akan bertemu mereka dan entah kapan aku bisa menginjakkan kaki kesini lagi.

Sampai saatnya tiba aku pamit kepada masyarakat, aku mendatangi rumah mereka satu per satu dan tangis itu mulai pecah. Tangis yang tulus dari dalam diri mereka. Tangisan yang penuh arti bagiku. Dan juga kata-kata mereka “Pulang bae-bae Ibu, terimakasih.” Seharusnya aku yang berterimakasih, bukan mereka.



Tim sepakbola sekolah tak menghadiri perpisahan
karena harus bertanding di kecamatan
malam harinya mereka datang ke tempat tinggalku dan berkata
'Ibu su mau pulang, mari kotong foto!"

Perjalanan satu tahun ini merupakan perjalanan yang luar biasa bagiku. Trelalu berlebihan jika dikatakan “mengabdi”. Justru aku yang banyak belajar disini, belajar tentang arti hidup sesungguhnya, belajar untuk lebih bersyukur, dan belajar bahwa banyak anak kurang beruntung yang harus kudidik. Terimakasih atas pembelajaran kehidupan yang telah diberikan. Aku tidak akan melupakan pengalaman yang luar biasa ini. Semoga semuanya dapat bermanfaat. Aamiin yra.

Rizky Purnama
SM-3T IV UPI
Kab. KUPANG