Jumat, 07 Agustus 2020

Rumahku Surgaku

"Ibu adalah pelita di rumah, kalau pelitanya redup, cahaya rumah pasti ikutan redup"

Seorang teman memberiku nasihat sebelum hari pernikahanku. Yang aku tanggapi dengan senyum simpul. 

Selepas menikah, kami harus LDR karena kewajiban pekerjaan kami. Setiap Jumat suamiku pulang ke Cirebon, dan Minggu sore berangkat ke Bandung. Sedih rasanya, pengantin baru yang seharusnya kemana-mana berdua eh malah harus bertemu seminggu sekali. 

Setelah dinyatakan positif oleh dokter, kami merancang life plan. Awalnya, setelah kontrak kerjaku selesai, aku akan ikut suamiku ke Bandung, tapi karena satu damln lain hal, kami mengubah rencana hidup kami, suamiku akan pindah ke Cirebon. Bismillah.

Kami memiliki keinginan, ketika kami tinggal bersama, kami harus sudah mandiri. Tidak tinggal lagi dengan orang tua, kami ingin membangun keluarga kecil kami dengan mandiri. Kami pun mulai mencari rumah, yang sesuai dengan budget kami. Setiap suamiku pulang, kami selalu menyempatkan survey rumah.

Dari ujung Cirebon, sampai ujung Cirebon kami cari. Mulai dari mulut ke mulut, lihat iklan, tanya kerabat untuk mendapatkan rumah yang kami inginkan. Rumah yang kami cari simple, tidak terlalu besar (sesuai dengan budget), kompleknya sudah penuh tetangga, dan hangat.

Singkat cerita, setelah mencari hampir beberapa bulan, aku mulai lelah dan jenuh. Aku ingat, hari itu aku survey sampai panas-panasan dengan suamiku, tapi tak membuahkan hasil. Aku bete dan akhirnya bilang 

"Udahlah, udah capek nyari rumahnya. Istirahat dulu aja, jangan cari-cari rumah dulu." Aku misuh-misuh ke suamiku sambil selonjoran

Kami pulang dan beristirahat, lalu tanpa sengaja suamiku membuka web jual beli rumah. Ada rumah yang menarik hatinya, langsung ku telpon si empunya rumah. Sore hari langsung kami survey, dan kami jatuh cinta pada pandangan pertama. Rumah mungil yang jaraknya hanya 5-10 menit dari rumah ibuku. Tak butuh waktu lama, kami langsung membelinya. Mungkin ini yang orang-orang bilang "mencari rumah itu ibarat mencari jodoh."

Rumah yang kami beli rumah yang sudah jadi, hanya perlu polesan sedikit agar lebih nyaman. Awalnya aku berencana untuk pindah sebelum melahirkan, namun keluargaku menyarankan untuk pindah rumah setelah melahirkan.

Agustus 2019 aku melahirkan. Dua bulan setelah melahirkan, kami nekat pindah rumah. Sebelum pindah ibuku selalu bertanya "sudah siap?". Aku memang siap tak siap pindah rumah, tapi aku harus memaksakan diri untuk pindah. Aku takut terlalu nyaman tinggal dirumah ibuku. 

Sebelum pindah, suami selalu mengingatkan.
"Nanti setelah pindah, kita akan hidup mandiri. Jangan kaget, ya! Pasti nanti banyak kejutan, karena kita masuk fase  kehidupan yang. Mungkin ga gampang, tapi kita yakin, pasti bisa! Bismillah ya."

Hari itu pun datang, kami pindah rumah. Kami pindah di hari Jumat, agar Sabtu Minggu suamiku libur dan kami bisa berbenah. Aku ingat, malam hari setelah pindah kami kelaparan. Gas belum dipasang, dan aku tidak mau ditinggal dirumah dengan Zhafran yang kapan  saja bisa menangis. Chaos.

Hari Seninnya, suamiku mulai bekerja. Malamnya Zhafran rewel, dan aku bangun kesiangan. Suamiku buru-buru berangkat kerja. Aku yang baru tidur pagi hari tak sanggup untuk beberes. Belum mandi, belum sarapan. Dirumah sendirian. Untungnya ibuku datang, membawa Bi Teni, yang biasa bebersih rumah ibuku. Aku terselamatkan. 

Aku si anak manja yang jarang beberes rumah tiba-tiba dihadapkan dengan urusan bersih-bersih, urusan dapur, dan urusan anak. Tak jarang, aku misuh-misuh ke suami karena kelelahan atau karena rumah yang berantakan.

Setiap akan berangkat kerja, suamiku selalu berpesan "kalau anaknya tidur, ibunya juga tidur." Memang benar, kalau aku beristirahat sejenak, malam hari aku tidak cranky. Hehe. Tapi ketika aku tidur, rumah akan tetap berantakan. Pilih apa?

Jika aku mulai misuh-misuh, suamiku langsung bilang "Kalau capek, tidak usah dikerjakan. Bisa nanti, bisa besok. Fokusnya ke anak saja. Kalau istri marah-marah, rumahnya jadi horor, ga hangat lagi." Begitulah cara suamiku untuk mencairkan suasana hatiku. Pada akhirnya suamiku turun tangan membersihkan rumah. 

Setelah pindah, entah berapa kali aku bangun kesiangan. Entah berapa kali aku tidak menyapu lantai. Entah berapa kali aku tak masak. Entah berapa kali aku mandi hanya sekali. Sampai suamiku bilang "kita belum menemukan ritme nya". 

Seiring waktu berjalan, kami pun menemukan ritmenya. Kami saling membagi tugas dalam mengurus rumah ini. Dan kami (aku lebih tepatnya) harus tetap waras dan sadar akan rumah yang tidak harus selalu rapi. Karena  ketika rumah berantakan, ada anak kecil yang sedang mengeksplor dirinya. Yang perlu kami lakukan adalah tetap bahagia, dan mengisi rumah ini dengan kasih sayang, agar rumah kami menjadi surga bagi keluarga kami. Insya Allah. 

Jumat, 31 Juli 2020

a new becoming

Hai blogspot! Long time no write ekek.
Maafkan ya, setelah perjalanan panjang beberapa tahun membuatmu bersarang, akhirnya aku mulai lagi memberanikan diri untuk menulis kembali.

Brapa tahun ya? 2 tahun. Selama 2 tahun ini banyak yang tidak kutuliskan. Dan kumulai dengan... 

"when a baby born, a mother born"

2 tahun ini adalah perjalanan panjang. Dimulai dari September 2018, Allahamdulillah aku menggenapkan separuh agamaku. Saat itu, rasanya campur aduk, bahagia dan terharu jadi satu. Aku menikahi teman satu kampus saat PPG, teman satu kelas, dan teman satu kelompok. Azis Septiana namanya. Kami menjalankan pernikahan dengan LDR. 

2 bulan setelah menikah, aku dinyatakan hamil. Saat itu kami masih LDR. Alhamdulillah, kehamilanku diberi kemudahan oleh-Nya. Aku tetap beraktivitas seperti biasa. Mengajar di sekolah, kemudian ngeles. Makanan pun semuanya masuk. Janin di perutku sehat, Alhamdulillah. Maha Baik Allah. 

Saat kehamilanku masuk usia 7 bulan. Aku resign dari pekerjaanku. Ini merupakan kesepakatan kami, jika memiliki anak kami ingin mengasuh sendiri. Tidak dititip ke keluarga, kerabat, ataupun nanny. Suamiku pun resign dari pekerjaan di Bandung dan pindah bekerja di Cirebon. Lagi-lagi Allah mudahkan, suamiku langsung mendapat pekerjaan.

Setelah resign, dan menunggu kelahiran hari-hariku diisi dengan olahraga pagi (jalan kaki), membantu mama memasak, tidur siang, dan menunggu suami pulang. 

Sampai di hari kelahiran anakku, 2 Agustus 2019, semua Allah mudahkan. Proses kelahirannya terhitung cepat, kontraksi jam 10 pagi, Pembukaan lengkap jam 4 sore, dan anakku lahir jam 17.39. Kami beri nama Zhafran, yang berarti keberuntungan. Semoga kelahiran Zhafran menjadi keberuntungan bagi kami dan semoga Zhafran menjadi seorang yang beruntung. 

Setelah Zhafran lahir kemudian, Aku menjadi Kiky seorang Ibu. Aku menjafi Full time Ibu yang membersamai 24 jam anaknya. Sudah siapkah aku? Pertanyaan yang mungkin tak bisa ku jawab, tapi akan terjawab seiring berjalannya waktu. Bismillah. 

Selasa, 27 Maret 2018

Merekam Memori

Setelah jadwal mengajar selesai, saya iseng membaca chat whatsapp yang dulu-dulu. Kebiasaan saya memang untuk tidak menghapus chat whatsapp, bahkan kadang saya back up. Simple, karena bagi saya membaca chat yang sudah lama, bisa membuat saya senyum-senyum. Konyol sih, tapi memang begitu. Tingkat humor saya memang receh.

Kali ini yang saya baca adalah grup kelas saat saya PPG. Ada hal yang menarik dalam chat, ketika saya meminta bantuan karena terkunci di kamar. Deg, saya langsung tertawa.

Saya mengingat-ingat. Apa yang membuat saya terkunci. Tapi saya lupa. Yang saya ingat, saya terbangun dari jam 3, mau ke kamar mandi tapi pintu tak bisa di buka. Sampai Sari dan Ulfa (trman sekamar) bangun, kami pun tak bisa membukanya.

Saya kembali tertawa, mengingat hal itu. Silly. Bisa-bisanya terkunci, sampai akhirnya pintu di jebol. Dan kalau tidak salah, beberapa hari kemudian, saya pun terkunci lagi. Kalau itu memang pure, kesalahan saya yang menutup pintu terlalu keras.

Saya memang ceroboh. Kalau diingat-ingat, kecerobohan saya saat PPG banyak sekali. Dimulai dari kaki yang terkena setrika, usb Ulfa yang meleleh akibat saya setrika, tupperware yang gosong karena kelamaan di magic com, jatoh di tempat jemuran karena lupa pake rok span. Ah, banyak sekali.

Bulan ini bulan maret, pas sekali ketika 2 tahun lalu. Di bulan Maret saya dan teman-teman mulai PPG.  Kemudian PPG telah usai. Ternyata, bukan hanya foto yang menyimpan memori. Tapi kumpulan obrolan, juga dapat merekam memori.

Minggu, 04 Maret 2018

Tuhan Maha Baik

Tuhan Maha Baik.
Kalau saja, kebahagiaan hanya diukur berdasarkan uang. Mungkin bahagia hanya milik orang-orang yang beruang.

Tuhan Maha Baik.
Kalau saja, kebahagiaan hanya diukur berdasarkan jabatan. Mungkin bahagia hanya milik orang-orang yang berpangkat.

Tuhan Maha Baik.
Kalau saja, kebahagiaan hanya diukur berdasarkan fisik. Mungkin bahagia hanya milik orang-orang yang rupawan.

Tuhan Maha Baik.
"Lalu nikmat Tuhan manalagi yang kalian dustakan" - Q.S Ar-Rahmaan

Minggu, 05 November 2017

Pindah Rumah

Beberapa minggu belakangan mama selalu bercerita tentang rencananya untuk pindah rumah, ke daerah dekat tempat tinggal kakak saya. Terkadang saya berpikir, mama ini hanya bercanda, tapi sering juga saya menemukan serius dalam obrolan pindah rumah ini.

Mama ingin pindah rumah, bukan tanpa alasan. Beberapa alasan logis mama kemukakan pada saya. Yang pertama, adik perempuan saya mondok, dan adik laki-laki saya rencananya akan melanjutkan smp di tempat kakak perempuan saya, dan otomatis mama tinggal hanya dengan saya. Yang kedua, saya insyaallah ingin menikah (aamiin) artinya, sebagai perempuan saya pasti dibawa keluar dari rumah oleh suami saya. Dan praktis, mama akan tinggal sendiri.

Mama bukan tipe orang yang bisa hidup sendirian. Mama senang tinggal bersama banyak orang. Saya tahu persis, sepeninggal papa, kemudian dua kakak saya keluat dari rumah (karena menikah) mama merasa kesepian.

Perkara pindah rumah ini bukan perkara sepele bagi saya dan keluarga saya. Beberapa kali mama utarakan dan bertanya pendapat saya. Dan saya selalu menjawab "kiky mah gimana mama, yang penting mama tinggal nyaman dan aman". Itu adalah jawaban saya yang alakadarnya. Padahal, untuk meninggalkan rumah ini, banyak hal yang akan berbeda tentu.

Saya tahu, lambat laun saya pasti akan pergi dari rumah ini. Mungkin juga hanya berkunjung sesekali, atau mungkin beberapa kali. Tapi rumah ini adalah rumah tempat masa kecil saya. Tempat saya menyimpan kenangan dengan papa. Saya belum terbayang, jika harus pulang tapi ke tempat yang berbeda. Misalnya, rumah baru. Rumah baru, pasti akan bertemu dengan lingkungan baru.

Pertimbangan saya tentang pindah rumah adalah Mama. Mama bukan tipe orang yang mudah bergaul, apalagi dengan orang baru. Apakah bisa mama nantinya hidup nyaman dengan lingkungan yang baru. Saya takut, ditengah perjalanan mama ingin kembali kerumah kami yang dulu. Pindah rumah, tak semudah pergi bertamasya.

Tapi, semua orang memang harus berpindah. Nabi pun bilang untuk hijrah, itu yang mama selalu bilang. Mama ingin hijrah ke tempat baru, mungkin dengan berpindah, kehidupan akan lebih baik. Dan sampai tulisan ini saya tulis. Perbincangan tentang pundah rumah adalah perbincangan yang tak pernah henti dibahas.

Minggu, 17 September 2017

RANDOM

Tiba-tiba kangen nulis....................
.
.
.
.
Sibuk kerja
Kebanyakan buka feeds instagram
.
.
.
kemudian lupa nulis
.
.
atau mungkin.
.
.
hidup saya terlalu stagnan sampai bosan dan tidak ada cerita yang menarik untuk ditulis?
.
.
entahlah......


Kamis, 15 Juni 2017

Pelajaran Hidup; Mamang Cuankie


source : google
Beberapa malam belakangan, saya rasanya berat sekali untuk pergi tarawih di Masjid. Ada saja alasannya, dari mulai belum mandi sepulang kerja (padahal saya pulang jam 3 sore), capek, atau nanti kalau di masjid shalat tarawihnya lama (?). Oke itu adalah sebagian alasan saya untuk tidak ke masjid. Saya melakukan tarawih di rumah, tidak ada yang salah, namun lebih cepat, sangat cepat.

Setelah beberapa hari absen ke masjid, akhirnya saya mulai tarawih lagi. Sepulang tarawih, saat di jalan saya berpapasan dengan mamang cuankie. Mamang cuankie berjalan, sambil membunyikan kentongan kayu tanda suara khas tukang cuankie.

Kemudian saya berpikir. Mungkin banyak orang-orang yang ingin tarawih di masjid, tapi karena harus mencari nafkah, mereka tidak bisa shalat di masjid. Lalu, kenapa dengan saya yang mendapat kemudahan untuk pergi ke masjid, beribadah dengan leluasa, tapi menyia-nyiakannya?

Banyak hal di dunia ini yang saya sia-siakan yang padahal orang lain belum tentu mendapatkan kesempatan seperti saya. Mungkin pramusaji di restoran-restoran ingin berbuka puasa dengan keluarga, tapi karena harus bekerja, mereka tidak bisa berbuka bersama dengan keluarga.

Lagi-lagi, saya kurang bersyukur. Mudah-mudahan di Ramadhan ini akan lebih banyak hikmah dan perubahan ke arah yang lebih baik. Aamiin.

Selasa, 14 Maret 2017

Being a jobseeker (again)


Menjadi fresh graduate lagi berarti siap untuk menjalani hidup sebagai jobseeker (lagi). Dan untuk yang kedua kali, bagiku ini tak mudah. Di usia yang seharusnya sudah menghasilkan, tapi kenyataannya masih mencari kerja memang tak mengenakkan. 

Lulus PPG pada akhir Januari, aku mulai melamar pekerjaan. Bayangan lulus langsung bekerja, pupus. Karena starting point ku yang salah. Ya, dalam dunia pendidikan, lowongan pekerjaan akan dibuka pada tahun-tahun ajaran baru which is, bulan Juli dan Januari, berarti harus mulai melamar pada bulan-bulan sebelumnya. Dan aku terlambat.

Awal Februari, aku mulai stress. Aku juga aneh, baru lulus satu minggu. Aku mulai galau, akan kemana nantinya aku kerja. Dan ibuku melarang aku untuk “pergi” lagi, alias aku harus menetap di Cirebon. Ketika mendapat panggilan kerja di luar kota, terjadilah drama, yang akhirnya aku mebgalah. Aku akan bekerja di Cirebon.

Aku terlalu ngoyo dalam mencari pekerjaan. Aku memiliki proyeksi-proyeksi ke depan yang ternyata tak sejalan dengan kenyataan. Stress pada minggu-minggu pertama. Sampai ketika seseorang mengatakan “niat kamu apa cari kerja?”. Ternyata ada yang salah, niat. Nitaku salah selama ini. Aku pun mulai memperbaiki niatku. 

Kemudian aku mengikuti tes di salah satu sekolah. Setelah tes berkali-kali pada akhirnya, aku dinyatakan diterima bekerja. Tapi, aku ragu. Entahlah, bagi seorang jobseeker sepertiku, diterima bekerja rasanya pasti akan senang. Tapi berbeda. Dengan pertimbangan matang, aku pun memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan yang padahal pernah aku impikan. Ternyata memilih pekerjaan, lebih sulit dibanding mencari pekerjaan.

Rizki di sisi Allah luas. Aku pun berdoa, agar diberikan pekerjaan yang terbaik buatku. Aku bukan pilih-pilih pekerjaan. Aku hanya mencari yang terbaik, yang mudah-mudahan lelahnya menjadi lillah. Seperti yang temanku bilang 
Pekerjaan itu ibarat rumah. Kita harus nyaman tinggal di rumah itu, karena hampir sepertiga waktu kita dalam sehari akan dihabiskan di dalamnya. Ketika mendapat suasana rumah yang tidak nyaman, pasti kita ingin cepat-cepat pergi dari rumah tersebut. Carilah rumah yang nyaman, membuat kamu senang, dan kamu bahagia tinggal di dalamnya. 
Dan aku sedang mencarinya.

Senin, 27 Februari 2017

Jepang! Negara dengan Budaya Menarik dan Ramah Wisatawan

pict source
Sudah kita ketahui  Jepang adalah Negara yang sangat maju dalam bidang industri dan teknologi. Sebut saja merk kendaraan. Hampir 60% barang-barang tersebut yang ada di Indonesia diimpor dari Jepang. Jepang memang terkenal dengan etos kerja yang gigih dan bersungguh-sungguh. Itu semua karena system kerja di Jepang mengharuskan para pekerjanya bekerja keras dengan disiplin dan semangat yang tinggi, tak heran jika penduduk Jepang hidup dengan keteraturan. Teratur dalam bekerja, mengantri, berbelanja, bahkan sampai antri masuk kereta api.

Selain kemajuan industri dan teknologi, etos kerja serta keteraturan hidup di Jepang, ada banyak hal yang membuat negara yang sistem pemerintahannya demokrasi parlementer ini menarik yang membuat kita ingin wisata ke Jepang.

1. Jepang Memiliki 4 Musim
Berbeda dengan Indonesia yang hanya memiliki 2 musim, Jepang memilikin 4 musim, dimana setiap musimnya mempunyai karakteristik dan kebiasaaan berbeda bagi penduduk Jepang.

Musim Dingin
Musim dingin berlangsung pada bulan Desember sampai bulan Februari. Pada musim dingin di Jepang akan turun salju. Musim dingin di Jepang, membuat waktu malam hari di Jepang menjadi lebih panjang dibanding siangnya. Pada musim dingin penduduk Jepang banyak pergi ke tempat yang banyak turun salju, untuk main ski. Hokkaido adalah tempat terbaik untuk menghabiskan musim dingin di Jepang, ada beberapa perayaan atau festival musim dingin di Jepang diantaranya adalah Sapporo Snow Festival dan Asahikawa Winter Festival. Penduduk Jepang biasanya memakai baju berlapis-lapis ketika musim dingin karena dinginnya dapat mencapai -20 Derajat.

Sapporo Snow Festival
Pict Source
Jika mendengar kata "musim semi" otak kita langsung tertuju pada Sakura. Jepang memang terkenal dengan keindahan bunga sakuranya. Tapi ternyata Sakura di Jepang akan mekar berangsur-angsur pada setiap daerahnya. Bunga sakura akan mekar mulai dari daerah Jepang yang paling bawah atau paling hangat, hingga terus naik ke atas ke daerah yang dingin. Umur bunga sakura mekar hanya 2 minggu, setelah terkena angin kencang dan hujan bunga sakura akan berguguran, dan pohon sakura akan kembali seperti biasa dengan daun-daunnya yang hijau. Musim Semi berlangsung dari bulan Maret sampai April. D musim inilah banyak turis asing yang wisata ke Jepang.

Hokkaido's Cherry Blossom
Pict Source

Musim Panas
Musim Panas di Jepang berlangsung pada bulan Juni sampai bula Oktober. Musim panas di Jepang sangat disukai penduduk remajanya, karena pada musim panas waktu siangnya lebih panjang dibanding malamnya. Ketika musim panas, penduduk Jepang pergi untuk surfing dan hiking.Cemilan paling favorit saat musim panas adalah semangka. Seperti musim-musim lain, pada musim panas juga ada perayaan Natsu Matsuri atau Summer Festival, yaitu permainan menangkap ikan, meyalakan kembang api, dan orang-orang menari Bon Odori.

Hanabi Matsuri
Pict Source

Musim Gugur
Musim gugur adalah musim dimana kita dapat melihat daun-daun berguguran. Musim gugur berlangsung pada bula November. Pada musim gugur banyak orang yang pergi ke berburu momiji atau sering disebut sebagai Momijigari. Saat momijigari kita bisa menikmati perubahan warna daun momiji  dari hijau menjadi merah atau kuning pada musim gugur.

Kuil Rurikoin saat Momiji
Pict Source

2. Penduduk Jepang yang Ramah
Penduduk Jepang terkenal dengan keramahan dan kesopanannya, baik dengan penduduk asli maupun pendatang seperti turis. Tak heran kita sering melihat orang jepang membungkukkan badan sambil mengucapkan salam. Itu adalah budaya khas penduduk Jepang. Selain ramah dan sopan, penduduk Jepang juga memiliki sifat saling menghargai. Bentuk penghargaan mereka adalah pengucapan "Arigatou" yang sering mereka ucapkan. Juga ada budaya salling memberi. Maksudnya, jika kita memberi kepada penduduk Jepang, mereka pasti akan memberi balik ke kita juga. 

Tradisi Membungkuk (Ojigi)
Pict Source
Kebanyakan penduduk Jepang memang tidak bisa berbahasa Inggris, mereka masih menjunjung tinggi kebudayaan mereka yaitu berbahasa Jepang. Tapi jangan khawatir tersesat di Jepang. Jika kita bertanya ke penduduk Jepang, walaupun dengan bahasa yang tidak dimengerti satu sama lain, mereka akan membantukita dengan pelayanan yang maksimal. Sifat penduduk Jepang inilah membuat Jepang menjadi Negara ramah wisatawan.

3. Transportasi di Jepang yang Keren, Aman dan Nyaman
Jepang memiliki sistem transportasi yang maju di dunia. Sebut saja shinkansen kereta api super cepat ke semua tempat di Jepang.  Penduduk Jepang sangat sadar akan transportasi umum, sehingga jarang terjadi kemacetan di Jepang, bahkan di Tokyo kota paling padat di Jepang. Seperti bus dan kereta api. Transportasi umum di Jepang sangat nyaman dan tepat waktu. Tak heran Penduduk Jepang memilih transportasi umum untuk melakukan aktivitasnya.

Shinkansen
Pict Source
Ada hal yang menarik dari kereta api di Jepang. Kereta bawah tanah (Subway) hanya ada di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo dan memberikan pelayanan yang cepat dan efisien. Yang unik adalah banyaknya gerbong ditentukan dari jam, dan tempat. Misalnya di perkampungan, jika pada jam sibuk ada 4-5 gerbong, tapi jika pada jam biasa hanya ada 1 gerbong. Berbeda jika di kota, pada jam sibuk ada sekitar 6-7 gerbong dan pada jam biasa ada 4 gerbong. Berbeda lagi jika ada acara-acara tertentu, jumlah gerbong akan ditambah dimana ada acara tersebut. Hal ini memperlihatkan kemampuan Jepang dalam mengefisiensikan dana untuk transportasi.

4. Gaya Hidup Sehat Penduduk Jepang
Penduduk Jepang terkenal dengan usianya yang panjang. Hal ini dikarenakan saat muda mereka melakukan gaya hidup sehat. Terlihat dari makanan yang dikonsumsi dan kebiasaan berjalan kaki. Penduduk Jepang tidak memasak makanan terlalu lama, banyak mengkonsumsi ikan dan rumput laut yang tinggi proteinPenduduk juga juga membiasakan hidup bahagia dan hidup atas asas kebermanfaatan. Mereka akan membuat hal-hal yang bermanfaat dan menghabiskan waktu untuk hal-hal  yang bermanfaat juga. Semua yang mereka buat akan dipikirkan betul manfaatnya sedetail mungkin.

Kebiasaan Berjalan Kaki
Pict Source
Dari keunikan-keunikan Jepang yang yang membuat kita amaze, rasanya ingin sekali berwisata ke Jepang yang menarik, aman, nyaman dan ramah wisatawan. Apalagi, sekarang di Indonesia untuk pergi ke Jepang bebas visa. Untuk pergi ke Jepang, banyak turis yang melakukannya dengan sendiri (backpacker) atau menggunakan jasa travel agent. Travel yang paling recomended adalah HIS Travel Indoneisa. HIS Travel indonesia memiliki berbagai keunggulan diantaranya adalah : 
  1. kenyamanan servis
  2. keamanan terjamin
  3. harga terbaik
  4. unggul dalam individual tour
  5. unggul dalam perjalanan ke Jepang
Dari poin 5 terlihat bahwa HIS Travel Indonesia memiliki keunggulan dalam peralanan wisata ke Jepang, sesuai dengan destinasi wisata yang diinginkan. Apalagi HIS Travel Indonesia memiliki program HAnavi.


HAnavi merupakan program kerja sama antara HIS dengan ANA, salah satu maskapai di Jepang. Program ini menawarkan paket penerbangan dan hotel selama wisata di Jepang. Pelayanan dari pemesanan tiket pesawat, hotel, dan tempat wisata di Jepang, dan itinerary disediakan dengan baik dan harga yang bersaing. Bagi yang memiliki waktu terbatas dan bingung untuk menentukan lokasi, dan mempersiapkan perjalanan selama di Jepang HIS Travel Indonesia melalui HAnavi adalah solusinya.

Wisata ke Jepang saat ini bukan hanya mimpi. Berbagai kemudahan yang ada membuat Gunung Fuji terlihat lebih dekat dan Sakura yang mekar terlihat lebih indah. 



**) Blog ini diikutsertakan dalam Blog Competition Amazing Sakura dari HIS Travel Indoensia


HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Senin, 13 Februari 2017

Another Chapter In My Life

*disclaimer: tulisan ini adalah tulisan orang yang sudah lama tidak menulis, sehingga kaku dan tidak berisi.

Kalau dilihat dari data statistik 2016, ternyata produktivitas menulisku sangat kurang. Padahal itu saat PPG, dimana Wi-Fi kebutnya seperti mobil ferari. Dibilang sibuk, padahal gak sibuk-sibuk amat, alasannya mungkin malas? Ah begitulah. Intinya saat PPG berasrama, aku menemukan pengalaman baru, hidup bersama dengan orang-orang yang baru dikenal, seatap, berbagi kamar, berbagi makanan, berbagi cerita. Kadang ada sedihnya, tapi alhamdulillah banyak menyenangkannya.



Dan, Pada akhirnya tanggal 19 Januari 2017 kemarin, aku yudisium. Setelah drama ujian bertubi-tubi, dan diakhiri dengan pencapaian UTN lolos satu putaran (sumpah, seneng banget pas pengumuman), dua huruf gelar disematkan di belakang namaku. Bukan gelar sebenarnya yang terpenting, toh justru aku malu namaku ada gelarnya, tapi perjuangan selama ini akhirnya menemukan titik yang hmm, ternyata aku bisa.

Satu tahun, ternyata bukan waktu yang sebentar. Pengalaman SM-3T kemarin mengajarkan bahwa waktu yang dijalani akan berjalan cepat, baHkan lebih cepat dari yang dibayangkan. Tak akan mundur, akan terus maju. Begitu juga saat PPG. Saat-saat kaget karena kamar asrama ada di lantai 4, senin sampai jum'at harus pulang-pergi Asrama Jica yang jaraknya lumayan, belum siang hari dari Jica harus ke asrama lagi karena makan siang gratis adanya di asrama. Kegiatan asrama yang suka mendadak kaya tahu bulat. Kajian Alfurqon yang bukannya niat mencari pahala Allah, malah niat lillahitaabsen. Semua ternyata begitu cepat.

Satu tahun, antara kehidupan asrama dan kehidupan akademik, juga kehidupan pribadi hehehe. Semuanya berjalan lancar. Masalah-masalah kecil tumbuh di asrama, wajar. Karena selalu butuh penyesuaian ketika harus hidup dengan orang-orang baru yang 24/7 bersama. Dan aku baru menyadari, ternyata hidup dengan banyak orang yang tak ada hubungan darah di dalmanya juga menyenangkan, walaupun jadinya tak ada rahasia diantara kami. Dengan orang-orang yang selalu ingin tahu urusan orang (termasuk aku) hahah, tapi justru ada hal yang lebih kental dibanding darah, yaitu persaudaraan. 

Satu tahun, bagaimana dengan kuliah. Kuliahku memang luar biasa, lelahnya. Kuliahku seperti pekerja kantoran yang berangkat jam 08.00 dan pulang jam 16.00. Duduk, diam mendengarkan dosen, membuat RPP dan perangkat pembelajaran lain, kadang-kadang peer teaching, dan sering ujian kompetensi yang soalnya sering lebih susah dibanding ujian hidup. Dan beruntungnya, teman-teman satu prodi ku orangnya absurd. Paling tidak, saat lelah mendengar dosen di depan ada saja yang membuat tersenyum atau terbahak.

Satu tahun, jika ditanya "dapat apa selama satu tahun", maka kubilang pelajaran. Karena bagiku selain pelajaran yang ada di bangku kuliah, yang terpenting adalah pelajaran hidup. Pelajaran tentang menghargai, tentang bertetangga, tentang mempersiapkan masa depan. Dan lainnya yang tak dapat kusebutkan satu persatu. 

Dan setelah satu tahun ini? Apa yang akan dilakukan ke depan?
Aku sedang merencanakannya. Semoga berhasil. Aamiin.





Kamis, 18 Agustus 2016

Buah Jatuh Jauh dari Pohonnya

Papa adalah seorang guru olahraga yang bertugas di sekolah dasar. Biasanya jika orangtua mengampu suatu mata pelajaran, sang anak otomatis akan menjadi ahli di mata pelajaran tersebut, tapi tidak denganku. Aku payah dalam olahraga. Badanku ringkih dan penyakitan saat kecil. Nilaiku selalu di ambang batas untuk mata pelajaran olahraga. Bukannya Papa tak mengajariku olahraga. Papa rutin mengajak kami berenang, sekedar berlari, main ke stadion olahraga, bahkan Papa mengajak anak satu komplekku untuk main kasti di lapangan setiap hari Minggu. Hanya saja, aku yang selalu “bermain” ketika Papa mengajariku olahraga.

Saat Sekolah Dasar, Papa rutin mengajak aku dan kedua kakakku berenang. Kami berenang bersama teman-teman satu komplek, atau hanya berempat. Aku yang saat itu masih kecil, kerjanya hanya “main air”. Bahkan ketika kedua kakakku sedang serius berlatih renang, aku hanya bermain, sambil sesekali mengganggu mereka yang sedang belajar. Ketika papa ingin mengajariku, aku malah lari, tak ingin belajar renang, terus bermain, dan bermain. Alhasil, hingga sebesar ini aku tak bisa renang. Hingga Papa meninggal, dan kami berenang sekeluarga, kakakku berenang dengan gaya-gayanya. Sedangkan aku, hanya bisa menatap iri. Sambil berkata pada mereka “Ko, Kiky ga bisa sih.” Kakakku hanya tersenyum sambil berkata “Makanya, dulu waktu diajarin berenang sama Papa jangan main terus.” Aku menyesal.

Saat SMP, Papa mengikuti pendidikan wasit bola voli, dan Papa resmi menjadi wasit voli. Banyak pertandingan yang Papa pimpin, skala local hingga skala nasional. Suatu kali, ada pertandingan Pro Liga di kotaku. Papa mengajakku untuk menonton. Aku selalu senang pergi dengan Papa, bukan karena suka dengan voli, melainkan jika pergi dengan Papa, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku pun duduk di bangku penonton ketika Papa memimpin pertandingan. Yang kulihat dari atlet volley adalah mereka semua cantik, hahaha. Saat jeda pertandingan aku diajak papa makan. Kami makan sambil ngobrol. Papa bilang ‘Tau ngga, De? Itu pemain volley itu hampir rata-rata pemain bayaran. Perusahaan yang narik dia untuk main buat perusahaannya. Kerjaan yang cari mereka, bukan mereka yang cari kerjaan.” Papa kemudian membujukku untuk masuk klub volley. Setiap pulang sekolah Papa menyuruhku latihan volley, dan aku selalu ada saja alasannya. Aku tak suka volley. Hingga mungkin Papa jengah, dan berhenti membujukku. Hingga aku sebesar sekarang, aku sama sekali tidak bisa main volley. Ketika ada pertandingan, aku hanya bisa jadi penonton yang meramaikan, bukan yang ikut andil dalam permainan.

Sampai ketika SMA, aku ikut ekskul olahraga. Softball. Ikutan Kakakku yang ikut softball juga. Itu pun mainnya gak bagus-bagus banget. Latihannya juga males-malesan. Berbeda dengan  kakakku yang main hingga Bandung, dan menang pula. Sampai kalau latihan suka dibandingkan. Dan aku paling tak suka kalau papa menontonku ketika latihan atau pertandingan. Pasti kmentar Papa banyak, dan aku tak suka dikomentari, apalagi komentar yang jelek.

Hingga usia yang menginjak seperempat abad, aku memang tak bisa olahraga. Rasanya menyesal karena dulu yang tak serius ketika belajar olahraga bersama Papa. Kadang  sempat terfikir “Coba kalau dulu belajar bener, pasti kalo ada volley bisa ikutan”, Ah tapi ya sudahlah.

Papa memang tak memaksakan kami untuk jago dalam olahraga, Papa hanya menganjurkan kami olahraga agar badan kami sehat dan bugar. Aku memang buah yang jatuh jauh dari pohonnya, tapi aku tetap buah yang tumbuh dari pohonnya, Ah Papa, aku rindu.


Minggu, 31 Juli 2016

Lebaran a la Anak Rantau

Lebaran, tak akan pernah sama. Selalu ada cerita berbeda di setiap tahunnya. Seperti saat ini, saat dimana aku tidak bisa berlebaran bersama keluarga karena tugasku yang belum selesai. Aku adalah seorang guru SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar Tertinggal) yang ditempatkan mengajar di Kab. Kupang NTT.

Kali ini aku harus berlebaran jauh dari keluarga. Karena di kampung tempat tugasku hanya aku satu-satunya yang beragama muslim, aku dan dua orang temanku dari kampung sebelah berencana untuk berlebaran di Pulau Flores, di tempat keluarga yang menampung kami saat liburan Paskah, April lalu. Setelah urusan di kampung selesai, kami pun bersiap pergi ke kota dan menyebrang ke pulau Flores, tepatnya ke Larantuka, Flores Timur.

Tiket sudah di tangan, aku yang belum pernah mudik  sangat excited. Bagaimana tidak, melihat barang bawaan penumpang, euphoria penumpang yang berdesakkan khas mudik bagiku sangat menyenangkan. Kami (aku dan kedua temanku) sampai tak dapat kasur untuk beristirahat, akhirnya dengan terpaksa kami duduk di pinggiran lorong kapal. Kapal penuh sesak, semua memiliki satu tujuan, untuk berkumpul bersama keluarga.

Di kapal, kami bertemu dengan kerabat dari keluarga yang akan kami tinggali di Flores. Yang paling kusuka dari orang NTT adalah kekerabatan yang sangat erat. Mereka semua bersaudara.

Tiga belas jam perjalanan Kupang-Larantuka, akhirnya kami sampai di pelabuhan. Kami pergi naik angkutan bersama-sama untuk sampai ke tempat. Setengah jam berlalu, kami pun sampai di rumah Pak Badar dan Umi Nur. Mereka adalah orang tua yang baru kami kenal bulan April lalu, ketika kami nekat pergi ke Flores, Pak Badar dan Umi menyediakan kami tempat tinggal. Kami tinggal di rumah Pak Badar selama 10 hari padahal kami hanya kenal kerabat Pak Badar. Mereka dengan baik hati mengizinkan kami tinggal di rumahnya dan memakai fasilitas yang ada dirumahnya, cuma-cuma.
Sebelum pulang dari liburan Paskah, Pak Badar juga Umi meminta kami untuk berlebaran di rumah mereka. Kami pun mengindahkan permintaan mereka untuk berlebaran bersama mereka.  Kami disambut dirumahnya bersama dengan 3 orang anak perempuan mereka yaitu Ummu, Rayyan, dan Zahra.

H-5 lebaran. Hari-hari dihabiskan dengan membantu Umi dan Pak Badar menyiapkan lebaran. Jauh dari orang tua memang tak pernah menyenangkan, tapi pak Badar dan Umi melengkapi kami sebagai orang tua. Kami senang tinggal dengan keluarga mereka yang menganggap kami juga sebagai keluarga.

H-1 lebaran kami membantu Umi memasak untuk esok hari raya. Kalau di Larantuka, kebanyakan masyarakat tidak memakai ketupat, melainkan kalesong. Hampir mirip seperti ketupat, bedanya hanya di bentuk, ukuran, dan mungkin bahan-bahannya. Umi juga biasanya tak membuat opor, namun melihat ada kami, Umi mendadak membuat opor. Umi bilang, agar kami serasa berelebaran di rumah.

Lebaran pun tiba. Kami sholat id di lapangan kantor Bupati Larantuka. Sedih rasanya lebaran jauh dari keluarga. Sedih rasanya hanya melihat orang-orang yang berkumpul dengan keluarganya. Kami hanya bisa meminta maaf dengan keluarga via telpon, tapi itu tak mengurangi esensi dari lebaran.

kami dan keluarga Pak Badar
Setelah shalat Id, kami ikut Pak Badar dan Umi berkeliling ke keluarga mereka di Larantuka untuk bersilaturrahmi. Siang harinya kami diajak Umi untuk menyebrang ke pulau Adonara. Pulau asal kelahiran Umi, dan orang tua Umi. Pulau Adonara adalah pulau kecil di seberang Flores Timur. Untuk sampai ke Adonara kita harus naik kapal motor.

Sesampainya di Pelabuhan kami dijemput keluarga Umi untuk menuju Desa Terong. Desa tempat tinggal Umi. Hebatnya di Desa ini semuanya bersaudara, aku sampai bingung ketika bertanya pada Ummu, siapa orang itu. Ummu selalu menjawab saudara. Kadang Ummu bingung menjelaskan silsilahnya.

Lebaran di desa selalu lebih ramai dibanding di kota. Apalagi Di desa Terong. Lebaran di desa Terong disambut dengan suka cita. Sore hari, kami diajak berkumpul di lapangan. Semua warga ternyata turut kumpul di lapangan. Mereka menari bersama. Para mama dan bapak memakai sarung menari sambil bernyanyi diiringi tabuhan alat music tradisional. Pemuda-pemudi juga turut ambil bagian dalam acara ini. Ternyata acara menari seperti ini sudah ada sejak dulu.. Yang keren adalah, panitia acara ini adalah para pemuda pemudi asli Desa Terong yang masih sekolah atau kuliah, entah itu di daratan NTT atau di Pulau lain. Karena bagi mereka, lebaran merupakan waktunya berkumpul di kampung halaman. Kami pun di ajak menari. Kalau tak salah namanya tari lilin. Katanya menari seperi ini adalah salah satu cara untuk mendapat jodoh. hihi, tapi sayang kami tak dapat. Lebaran disini benar-benar terasa seperti lebaran, ramai dan meriah. Disini terlihat ragam budaya Indonesia yang masih dilestarikan oleh warga sekitar.
mereka menari dengan satu orang yang memimpin di ujung barisan

semua yang menari menggunakan sarung

Keesokan harinya kami diajak pergi ke pantai air panas. Aku juga bingung kenapa air panas, padahal ketika kami mandi di laut airnya sama dinginnya. Ternyata, ketika kita menggali pasir pantainya hingga dalam dan keluar air, airnya hangat. Dan di dekat pantai, ada sumur yang airnya panas. Padahal di sekelilingnya air dingin biasa. Tak lupa kami ikut mandi-mandi di sumurnya. Alam Flores ini sungguh luar biasa. Dari pantai kami bisa melihat gunung-gunung yang sangat indah. Puas main-main di pantai, kami diajak pergi ke pasar. Tak lupa membeli tenun asli motif khas Adonara.

pantai air panas
Berlebaran di Adonara ini membuatku merasa seperti berlebaran di rumah. Penerimaan baik dari keluarga Umi dan Pak Badar membuat kami merasa nyaman tinggal dengan mereka. Padahal, kami baru mengenal mereka. Seperti yang pernah ku bilang, aku sampai menggeneralisasikan bahwa semua orang NTT ini baik, semua mereka anggap sebagai keluarga.

Tak terasa waktu berjalan, kami harus pulang. Tidak ada kapal dari Adonara menuju Kupang. Ada dua pilihan, kami ke Larantuka terlebih dahulu, atau ke Pulau Lembata. Kami pun memilih untuk naik kapal dari Pulau Lembata. Kami dititipkan ke keluarga Pak Bdar dan Umi yang ada di Lembata. Kami pun dijemput di pelabuhan Lewoleba, Lembata. Menginap sehari, baru kami pulang ke Kupang.

karena berlebaran bersama mereka seperti berlebaran bersama keluarga

Sehingga lebaran kalli ini, dalam waktu semingggu kami menyebrangi 4 Pulau, yaitu Timor – Flores – Adonara – Lembata. Dalam seminggu juga kami mendadak memiliki banyak sekali saudara yang menerima kami dengan baik, yang membuat kami belajar untuk menerima orang yang abru dikenal dengan penerimaan yang baik, yang memberikan pengalaman baru bagi kami, yang mengajarkan kami tentang budaya turun-temurun mereka yang tak pernah mereka tinggalkan. Dan dalam seminggu ini kami melihat sisi lain Indonesia, budaya dan keramahan khas Indonesia.


Memang, tak pernah ada yang bisa menggantikan keluarga. Tapi selalu ada yang bisa melengkapi sebagai keluarga di setiap perjalanan.




*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition CERIA "Cerita Lebaran Asyik" yang diadakan oleh Diary Hijaber dan Blogger Perempuan

Hari Hijaber Nasional
  • Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
  • Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
  • Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

Minggu, 26 Juni 2016

Pemimpin dan Dipimpin

sumber gambar

Beberapa waktu yang lalu kami (aku dan teman asrama) tidak pergi ke masjid untuk sholat taraweh karena satu dan lain hal. Kami merencanakan untuk sholat sendiri di asrama secara berjamaah. Seperti biasa, ketika akan sholat berjamaah yang isinya perempuan semua, kami akan saling tunjuk imam. Terkadang ada yang berebut iqomah karena tidak ingin menjadi imam. Pada akhirnya aku yang disuruh menjadi imam, padahal kami semua setara, bacaan kami ya hanya itu-itu saja. Daripada membuang waktu saling tunjuk imam, akhirnya aku mengalah.

Dimulailah dengan shalat Isya. Aku ingat sekali, aku mengantuk, dan bacaan surat pilihanku ada yang salah. Aku merasa berdosa. Yang kutahu, ketika imam salah, berarti dosa makmum ditanggung imam. Selepas shalat isya, aku meminta maaf dan berkata “Kalau ada yang salah bacaannya, tolong dibenerin, ya!” Kemudian aku melanjutkan dengan shalat taraweh. Ini kali pertama bagiku. Lalu, aku merasa lelah, ternyata menjadi imam melelahkan. Ternyata menjadi imam shalat tidak semudah dibayangkan. Tidak hanya memimpin sholat, tapi membaca dengan benar, bahkan menanggung dosa. Duh.

Kemudian… aku berfikir.

Perkara memimpin dan yang dipimpin. Menjadi imam adalah perkara yang tak mudah. Bukan hanya perkara memimpin, membaca Quran yang bagus, tapi juga perkara tanggung jawab. Perkara ini yang sulit. Seperti kita memilih imam kelak, memilih imam harus yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk membimbing kita ke jalan yang benar. Bertanggung jawab akan diri kita. Bertanggung jawab akan dosa-dosa kita

Imam dan makmum juga harus bersinergi. Makmum mempercayai imam, dan imam berusaha agar dapat dipercaya. Makmum akan mengikuti semua gerakan imam, semua bacaan imam, asalkan benar dan tak menyalahi aturan sholat. Imam dan makmum juga harus saling membantu. Saling mengingatkan. Seperti halnya manusia biasa, imam pun tak luput dari kesalahan. Makmum boleh mengingatkan. Bukankah makmum yang baik adalah makmum yang dapat mengingatkan?

Dan yang kutahu, menjadi imam itu adalah pekerjaan berat lagi lelah. Makmum seyogyanya menghargai imam, mempercayainya dan mendukungnya. Karena bagiku, makmum dan imam adalah satu tim yang seharusnya solid. Wallahualam.


*Tulisan ini adalah tulisan iseng ketika menjelang fajar, selingan menulis buku kajian tugas pesantren yang tak kunjung selesai

Senin, 20 Juni 2016

Mencari dan Menemukan

sumber gambar
Hari ini aku pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan demi seminar proposal yang sudah di depan mata. Entahlah apa jadinya proposal penelitianku yang seperti mie instan, dikerjakan dalam waktu singkat. Mudah-mudahan tak seperti mie instan betulan yang mudah mengembang, namun sulit membuat kenyang *apasih*. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan. Ada hal yang membuatku belajar di perpustakaan siang ini. Belajar materi proposal, itu pasti. Tapi lagi-lagi sering kubilang, belajar tentang kehidupan adalah hal yang paling penting, menurutku. Dan hari ini aku menemukan suatu pembelajaran yang implisit namun berarti.

Di perpustakaan aku mencari buku-buku penunjang bahan proposalku. Dimulai melihat tesis yang ada di perpustakaan, kemudian melihat daftar pustakanya lalu mencari bukunya di katalog online yang disediakan oleh perpustakaan. Aku mulai mengetik judul buku dan keluarlah nomor katalog buku. Aku pun mencarinya, satu kali tak ketemu. Aku kembali menyusuri lorong, tapi nomor buku yang kucari tak kunjung terlihat, 370 nomor buku yang kucari. Tak kunjung dapat. Sampai akhirnya aku pergi ke mesin pencari buku (lagi). Aku mengetik judulnya. Dan kali ini aku menulis semua nomor bukunya, 370.152. Aku tak ingin gagal lagi. Akupun menyusuri lorong-demi lorong, dan tak kunjung dapat.

Aku mulai jengah, dan kembali ke tempat duduk sambil menggerutu. Kemudian salah seorang temanku bertanya “Ky, cari buku nomor 370? Itu ada di lorong sebelah sana.” Aku pun mulai semangat lagi untuk mencari. Pelan-pelan kucari, namun tak kunjung ketemu. Sampai akhirnya aku menysuri satu persatu bukunya, perlahan-lahan, dan voila. Ketemu! Ternyata buku yang kucari daritadi ada di depan mataku, hanya kapasitas mata manusiaku yang tak dapat melihatnya. Ternyata buku yang kucari hanya sediikit terselip atau mungkin “ngumpet”, karena bukunya kecil, tertutup buku-buku lain. Dan selepas menemukan buku itu, rasanya senang sekali. Bagaikan mendapat secercah harapan karena proposal yang tak kunjung selesai. Ah senang rasanya.

Lalu aku kemudian mendapatkan suatu pelajaran baru. Pelajaran tentang mencari dan menemukan. Mungkin saat ini ada yang sedang mencari namun tak kunjung dapat. Mungkin kita mencari tergesa-gesa hingga tak menemukan yang dicari. Mungkin kita mencari di tempat yang salah, hingga tak kunjung menemukan. Mungkin yang kita cari ada di depan mata kita, namun kita sibuk mencari ke tempat yang lain sehingga yang dicari seakan-akan tak terlihat. Mungkin mata kita kurang terbuka lebar hingga yang dicari seakan-akan terlampau kecil untuk terlihat. Atau mungkin, kita butuh bantuan orang lain agar dapat menemukan pencarian kita.

Jadi, pelajarannya adalah sabar, jangan tergesa-gesa, dan jangan menyerah. Siapa tahu yang dicari sedang menunggu untuk ditemukan. Dan percayalah, setiap pencarian pasti akan menemukan.

Selamat mencari dan selamat menemukan. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan yang mudah lagi berkah dalam proses penemuanmu.

Minggu, 12 Juni 2016

PILIHAN YANG DIPILIH


Hidup memang suatu pilihan. Tapi bagaimana jika kalian yang menjadi suatu pilihan. Bukan pilihan utama melainkan pilihan kedua. Pilihan yang sebenarnya tak akan dipilih, namun hanya diberi harapan untuk dipilih. Bagaimana jika kalian seperti itu? Bagaimana jika pada akhirnya harapan patah karena dia lebih memilih (pastinya) pilihan yang pertama?

Jika diibaratkan antara pilihan pertama dan kedua seperti Bunga, mungkin begini jadinya:

Seseorang akan menanam dua bunga pada waktu yang berbeda. Pertama, dia menanam bunga A. Selang beberapa waktu dia menanam bunga B.

Bunga A berasal dari bibit yang baik, disiram setiap hari. Dan tumbuh seiring berjalannya waktu, hanya perlu matahari dan air bunga tersebut tumbuh baik. Merekah dan indah. Sampai  dikiranya bunga itu akan dipelihara terus menerus, dan dirawat terus menerus.

Selang beberapa waktu dia menanam bunga B.
Bunga B berasal dari bibit yang baik, disiram dan diberi pupuk setiap hari, ditambah vitamin-vitamin pendukung. Dan bunga tersebut tumbuh lebih pesat dibanding bunga A. Tumbuh lebih merekah dan lebih indah dibanding bunga A. Bunga itu tumbuh baik bukan hanya karena matahari dan air saja, namun juga ditambah pupuk dan vitamin-vitamin pendukung.

Lalu ketika harus memilih, dia pasti akan memilih bunga yang lebih cepat pertumbuhannya dibanding bunga alami yang lama pertumbuhannya. Belum lagi pendukung-pendukung yang membuatnya semakin merekah.

Pada akhirnya dia memilih bunga B, dan bagaimana nasib bunga A? Bunga yang terlanjur merekah itu dia buang begitu saja, tanpa memikirkan bagaimana jika dia mencari faktor pendukung lain agar bunga A cepat merekah. Dirinya begitu saja memutuskan, tanpa berusaha. Dirinya begitu pasrah untuk memilih bunga B. Terlalu cepat, mungkin hanya karena melihat pertumbuhannya.

Tapi lagi-lagi itu pilihan sang penanam bunga. Hak preogratifnya untuk memilih. Mau berusaha atau tidak, bukankah yang lebih cepat justru lebih baik? Untuk apa berusaha lebih untuk hasil yang belum pasti juga nantinya. Lebih baik melihat yang sudah ada, kemudian langsung memilih. Perkara Bunga A, sudah dibuang, ya sudah. Bukankah hanya sebuah bunga?

Seperti itu analogi pilihan. Bagaimana jika kalian menjadi bunga A? Disiram terus menerus, namun dibuang begitu saja pada akhirnya. Tidak diperjuangkan atau memang tak ingin berjuang. Sakit? Kecewa? Patah? Begitulah nasib menjadi pilihan, dipilih atau ditinggalkan, dibuang atau diperjuangkan.

“Jangan berharap pada manusia, karena pada akhirnya kamu akan kecewa.” – Ali bin Abi Thalib

Pesan moral : Jika menjadi pilihan, jangan sedikitpun berharap. Berharap akan menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan akan menimbulkan kesedihan dan pastinya penyesalan.

“Ketika seseorang benar mencintaimu karena agama, dia akan memperjuangkanmu sebagaiman yang dianjurkan agama” - @jalansaja_
------- Mungkin memang dia tak ingin berjuang, karena kenyataannya dia tak mencintaimu

“Akan ada, dan pasti ada. Orang yang bisa menerimamu sedemikian rupa” – Kurniawan Gunadi



Minggu, 10 April 2016

Chapter 1 – Selamat Datang di Pondok Pesantren Guru

Cerita SM-3T telah berakhir, tulisannya sudah ku rangkum disini. Sekarang aku akan memulai chapter baru yaitu PPG alias Pendidikan Profesi Guru yang biasanya diplesetkan menjadi Pondok Pesantren Guru.

Agustus 2015 kemarin, kami (peserta SM-3T angkatan IV), pulang ke daerah asal. Enam bulan masa transisi (pengangguran) dihabiskan dengan berbagai macam kegiatan ada yang menjadi traveler, ada yang kerja kantoran, ada yang mengajar, ada juga yang hanya makan dan bobo cantik alias menganggur.

Aku pun demikian, enam bulan pasca SM-3T kuhabiskan dengan mengajar privat, menjaga toko kakaku, dan jalan-jalan. Rasanya agak kaget mengingat kehidupan yang serba bebas di penempatan, lalu pulang kerumah dengan kebiasaan yang berbeda, budaya yang berbeda, dan karakter yang berbeda. Jenuh dan bosan itu pasti, namun mau apa lagi. Ingin kerja yang terikat pun bingung, karena program PPG pasca SM-3T yang rumornya dimulai bulan Maret.

Enam bulan berlalu, tepatnya bulan Februari (kebanyakan) anak SM-3T mengalami kegalauan akan PPG yang tak kunjung memberikan kabar kepastian, ibarat digantung pacar mau putus atau lanjut, begitulah kira-kira pemerintah menggantungkan nasib kami. Berita Hoax pun bermunculan, dari mulai katanya diundur tahun depan, bulan Juni, bahkan katanya PPG ditiadakan. Semua panik, semua bingung, semua galau.

source : google
Sampai akhirnya ada angin segar pada awal Maret, mengenai info PPG. Hari-hari berlalu, makin lama hilal PPG makin jelas. Plotingan penempatan keluar, peserta disebar ke berbagai LPTK seluruh Indonesia. Aku sendiri kembali ke LPTK dimana aku daftar, UPI Bandung. Padahal aku berdoa mendapat LPTK lain, namun doa Mama mengalahkan segalanya. Registrasi online selesai, registrasi kampus selesai, saatnya berangkat ke tempat tujuan selama satu tahun, Bandung. Tempat yang kata Pidi Baiq bukan hanya masalah geografis namun juga melibatkan perasaan.

Tanggal 15 Maret aku berangkat bersama ketiga temanku yang berasal dari Cirebon. 7 jam perjalanan Cirebon-Bandung (entah kenapa lama sekali) akhirnya kami sampai di asrama. Kenapa asrama? Jadi PPG ini adalah program berasrama, selama satu tahun, dan katanya asrama UPI adalah asrama yang paling ketat.

lorong asrama
Asrama kami terletak di paling belakang, terdiri dari empat lantai, putra di sayap kiri dan putri di sayap kanan. Aku mendapatkan kamar di lantai 4, mungkin Allah mengijabah keinginanku untuk menurunkan berat badan. Teman asramaku Sari dan Ulfa, yang sudah kukenal sebelumnya, mereka berasal dari LPTK UPI dan prodi matematika, sama sepertiku. Lalu aku berdoa “Ya Allah, semoga kehidupan asramaku bersama mereka, bisa berjalan berdampingan tanpa selisih paham yang berarti. Bisa menjadi keluarga disaat jauh dari keluarga, dan bisa menghangatkan udara Bandung yang dingin” Aamiin.

kamar mandi
Setiap lantai di asrama memiliki dua lorong, masing-masing lorong memiliki enam kamar mandi yang terdiri dari tiga wc dan tiga kamar mandi, satu pantry, dan jemuran. Satu lorong terdiri dari enam kamar. Kamar kami terdiri dari tiga kasur plus ranjang, dua lemari, dua meja belajar, dan tiga kursi.
kamarku~~~~~

Keesokan harinya dimulailah orientasi PPG Pasca SM-3T. Semacam ospek tanpa plonco, Orientasi berjalan tiga hari memulai perjalanan satu tahun ini. Orientasi seperti layaknya duduk kuliah, mendengar materi, kemudian makan. Ha-ha, diawali dan diakhiri dengan Kartika Sari dan ditengahi oleh jajanan pasar.


Setelah Orientasi, kami mulai memasuki perkuliahan yang sesungguhnya. Kami harus mulai beradaptasi dengan cuaca Bandung yang tiap sore hujan, air yang sangat dingin dan makanan manis. Kemudian aku berdoa lagi "Ya Allah, semoga dalam setahun ini semuanya berjalan lancar, diberi kecerdasan, memahami materi yang diberikan, lulus dengan baik dan seperti tujuannya menjadi guru profesional" Aamiin. Yap, Selamat datang di Pondok Pesantren Guru! 

Jumat, 04 Maret 2016

Cerita 54 - Perpisahan



Bagiku perpisahan tak akan pernah menyenangkan, Entah itu dengan pacar,keluarga, sahabat, atau bahkan saat ini. Aku tahu tugasku disini hanya satu tahun, dan ketika ada pertemuan pastinya akan ada perpisahan. Perspisahan yang bagi sebagian orang merupakan suatu kesedihan, tapi mungkin bagi sebagian lagi merupakan suatu kebahagiaan. Kalau bagiku saat ini perpisahan camur-campur rasanya antara senang dan sedih. Senang karena masa tugasku telah habis, aku akan bertemu keluargaku di tanah kelahiranku. Tapi perpisahan ini juga membuatku sedih, meninggalkan keluarga baru yang sudah setahun ini menemaniku, teman, sahabat, anak murid, dan kebiasaan-kebiasaan satu tahun ini. Ini yang membuat perpisahan menjadi sulit.

Satu tahun bukan waktu yang sebentar mengukir pengalaman disini. Hal-hal yang dulu kuanggap tabu harus menjadi biasa disini. Hal yang sebelumnya tak pernah kufikir bisa kulakukan, kulakukan disini. Hal-hal yang belum pernah aku lakukan, kulakukan disini. Hal yang tak pernah kutahui, aku tahu disini.Ah begitu banyak hal-hal tersebut yang membuatku sedih meninggalkan tempat ini. Tapi, perpisahan ini memang harus begini adanya. Karena setiap yang bertemu memang harus berpisah.

Minggu-minggu akhir berada disini rasanya memang tak ingin pulang. Banyak kegiatan disini, dari mulai sekolah, desa sampai kecamatan. Teman-teman guru dan anak-anak makin sering berkunjung kerumah. Bahkan di akhir-akhir setiap hari mereka ke rumah hanya untuk sekedar menemani atau bersenda gurau sambil ngecas hape. Lalu mereka membuat kopi dan aku memasak alakadarnya. Kami semua makan sambil tertawa. Sudah malam kuusir mereka karena aku yang mengantuk, tapi mereka pasti bilang “Nanti do ibu, Ibu su mau pulang ju.” Jadilah aku tidak jadi tidur. Menunggui mereka yang belum pulang.

Minggu-minggu terakhir juga aku makin sering mengobrol dengan orang rumah. Mama dan Bapa yang super sibuk. Kadang aku menemani mama yang bertani di belakang Balai Desa. Atau iseng-iseng bertamu kerumah orang. Atau main ke rumah Bai Tapatab gara-gara mau makan ikan lele, dan Bai bilang “cukup empat su”, padahal aku ambilnya lima. Atau juga memasak bareng mama dan anak-anak. Mereka bilang masakan Jawa. Entah aku masak apa pokonya nanti mereka akan komentar “Enak dan Pedis.” Padahal aku yakin makananku kurang ini kurang itu, maklum koki amatiran.


Sampai di acara perpisahan. Banyak yang menitihkan air mata. Aku pun demikian. Aku baru melihat Bapa menangis sampai tersedu-sedu. Teman-teman guru juga demikian. Bahkan anak-anak yang histeris. Lalu aku sadar, tinggal beberapa hari lagi, aku tak akan bertemu mereka dan entah kapan aku bisa menginjakkan kaki kesini lagi.

Sampai saatnya tiba aku pamit kepada masyarakat, aku mendatangi rumah mereka satu per satu dan tangis itu mulai pecah. Tangis yang tulus dari dalam diri mereka. Tangisan yang penuh arti bagiku. Dan juga kata-kata mereka “Pulang bae-bae Ibu, terimakasih.” Seharusnya aku yang berterimakasih, bukan mereka.



Tim sepakbola sekolah tak menghadiri perpisahan
karena harus bertanding di kecamatan
malam harinya mereka datang ke tempat tinggalku dan berkata
'Ibu su mau pulang, mari kotong foto!"

Perjalanan satu tahun ini merupakan perjalanan yang luar biasa bagiku. Trelalu berlebihan jika dikatakan “mengabdi”. Justru aku yang banyak belajar disini, belajar tentang arti hidup sesungguhnya, belajar untuk lebih bersyukur, dan belajar bahwa banyak anak kurang beruntung yang harus kudidik. Terimakasih atas pembelajaran kehidupan yang telah diberikan. Aku tidak akan melupakan pengalaman yang luar biasa ini. Semoga semuanya dapat bermanfaat. Aamiin yra.

Rizky Purnama
SM-3T IV UPI
Kab. KUPANG

Rabu, 02 Maret 2016

Cerita 53 - Chef Dadakan

Aku hidup mandiri di penempatan, maksudnya tidak tinggal bersama penduduk asli. Aku hanya tinggal berdua dengan Nesya, teman sepenempatanku. Kami tidur, makan, memasak, mencuci sendiri.

Masalah perut adalah masalah yang krusial dan amat sangat penting. Kami harus memasak, karena jika kami tak memasak, kami tidak bisa makan. Tak mungkin juga kalau minta makanan terus ke Mama Desa atau Mama Pendeta. Tak mungkin juga kalau harus tiap hari makan mie instan atau telur (anw telur harganya mahal). Karena hal itu, dimulailah kreasi makanan ala ala chef Kiky.

Aku tahu masak. Nesya tahu makan. Nesya bilang dia malas masak karena panas. Jadi dia menyerahkan urusan masak memasak kepadaku. Untungnya Nesya tipe omnivore, pemakan segala. Kadang masakan yang menurutku rasanya gak karuan, Nesya tetap memakannya. Sayang kalau dibuang, begitu katanya.

Kebiasaan dirumah adalah makan makanan lebih dari satu macam. Mamaku selalu memasak makanan lebih dari satu macam. Kebiasaan itu yang aku terapkan di penempatan, Nesya menyetujuinya. Di penempatan aku menjadi kreatif mengolah bahan makanan. Sudah bukan menjadi hal yang aneh manusia yang terdesak oleh keadaan akan lebih kreatif.

Biasanya kami (aku dan Nesya) membeli stok makanan instan di Kupang seperti sarden, kornet, bihun, mie instan, spageti, kuetiauw, saus,cemilan  bahkan mayones. Oke, kami memang termasuk yang lebay dalam membeli stok makanan. Kadang kami membeli tomyam instan, atau bahkan keju dan meisis. Alibi kami adalah agar tidak bosan makan yang itu-itu saja. Sempat ingin seperti Fitrah yang membeli bumbu instan rendang dan opor, kemudian menggunakan terong sebagai pengganti daging, tapi kami urungkan niat tersebut, kami lebih memilih rasa rendang dan soto pada mie instan.

Biasanya makanan instan stok dari Kupang untuk sarapan, sedangkan siang dan malam hari kami berbelanja di pasar, yang ada setiap hari Senin. Sarapan kami seputar nasi goring, spageti, mie instan, dan kwetiau. Sebenarnya di Pasar hanya ada sayur-mayur, jadi kami membeli sayur untuk hari Senin, Selasa dan Rabu. Sedangkan Kamis, Jumat dan Sabtu kami makan kering alias tanpa sayur, dan hari Minggu akan makan sarden. Begitu awal mula di penempatan.

 Lama-kelamaan kami merasa makanan instan tak sehat, akhirnya aku mulai berpikir untuk mengolah makanan dan menghindari sarden (fyi: kami sampai merasa makan sarden seperti makan kaleng). Di Kupang kami membeli sayuran yang tahan lama seperti kentang. Kentang kuolah menjadi perkedel atau campuran sup, atau kubuat kentang mayones. Pernah juga ku olah menjadi bola kentang isi keju dimasak asam manis. Rasanya, ya kalau kata Nesya enak. Kataku, ya begitulah. Pernah kami diberi kol segelondong, besar. Lalu kubuat soto, tanpa ayam tanpa daging. Yaa intinya kol, bihun, dan kuah kuning. Soto kan namanya? Atau pernah di pasar ada ikan kering, katanya namanya ikan krismon. Aku memasaknya dengan saos, rasanya hampir mirip sarden tanpa rasa kaleng. Tapi setelahnya badan Nesya gatal-gatal, jadi besok-besok kami tak membeli ikan kering lagi.
ini soto ala-ala

Hidup di Amfoang berarti hidup menurut musim. Setahun hidup disini kami pernah membali cabe dari mulai satu genggam Rp. 2000,- sampai 8 buah Rp. 8.000,- Kalau sudah harganya mahal begitu, kami siasati dengan cabe bubuk. Pernah makan tumis kangkung pakai cabe bubuk? Atau bumbu pecel pakai cabe bubuk? Kami sering kalau cabe mahal. Rasanya enak, gitu kata Nesya.Di musim panas, kami bisa dapat tomat Rp. 2000,- satu kresek, tapi di musim panas, jangankan tomat, pasar isinya hanya labu, sayur pucuk labu tak ketinggalan sirih dan pinang yang setiap musim tak pernah absen. Fyi, aku pernah masak sayur pucuk labu, kemudian perutku langsung kontraksi, dan diare. Memang, katanya labu dan sayur pucuk labu tak cocok bagi sebagian perut orang.

Pernah saat musim panen jagung, kami diberi jagung oleh mama desa, mama pendeta. Pagi siang sore. Awalnya diolah menjadi perkedel jagung, lalu kadang sup jagung, sampai kadang semua masakan kucampur jagung. Aku juga pernah membuat emping melinjo. Di desa bawah banyak pohon melinjo, aku memakai daunnya untuk membuat sayur asem, dan penasaran mengolah melinjo menjadi emping. Arinda (teman SM-3T dari Siumate yang berkunjung ke tempatku) saat kuberi emping, dia bilang rasanya enak. Iya enak, membuat emping nya sedikit, korbannya cobek kami terbelah menjadi lima. Aku juga sempat iseng membuat kolang kaling, karena di desa atas banyak pohon kolang kaling, tapi buahnya dibiarkan saja membusuk jatuh di tanah. Masyarakat tak memakannya, mereka bilang gatal. Kemudian aku dibantu dengan Mama desa mengolahnya, dan berhasil, lalu kubuat manisan, tidak gatal namun agak keras karena terlalu banyak kapur saat merendamnya.

Walaupun dekat dengan pantai, tapi bukan berarti ada ikan setiap saat.Ikan melimpah ketika musim penghujan. Saat itu harga ikan sedang murah-murahnya. Rp. 20.000 untuk 3 ekor kakap merah, Rp. 5000 untuk cakalang. Tapi kalau tiap hari makan ikan juga ada bosannya. Jadi aku memasaknya berbagai varian. Kadang ku masak balado, kadang ku filet kemudian goreng tepung dan dimasak asam manis, atau kadang dimasak acar ikan, kalau sudah mentok ya di goreng aja udah. Pernah kami membeli udang dan kepiting, kemudian kutanya pada Nesya “mau dimasak apa?”, Nesya langsung menjawab “Terserah Lo.” Kucampur saja dengan saos, jadilah udang dan kepiting saus tomat.

Kami juga hobi ngemil. Pokonya kalau ke Kupang, pasti satu kardus belanjaan penuh dengan cemilan, yang direncanakan untuk tiga bulan tapi kenyataannya hanya dalam waktu seminggu sudah lenyap. Jadi mau tak mau aku membuat cemilan sendiri. Kami membeli berbagai tepung di Kupang, tepung terigu, tepung ketan, tepung beras, tepung kanji. Mulailah membuat klepon, pempek, cireng yang seperti karet, donat yang bantat, rempeyek, onde-onde, ah kadang kalo iseng campur-campur semuanya hehe, mayan buat di kunyah.

Aku sering mengirim masakan ke Mama Desa, Mama Pendeta, atau teman-teman guru. Kalau aku kirim, mereka langsung bilang "wah masakan Jawa"(?). Nanti kutanya rasanya bagaimana, mereka pasti menjawab "enak'. Entah itu karena hanya menyenangkan hatiku, atau memang beneran enak.


Kami memang hidup dengan keterbatasan dan makan alakadarnya, tapi satu tahun di penempatan berat badan kami naik, apalagi Nesya. Bulan pertama hidup dipenempatan, hidupku tak jauh dari diare, hingga beratku turun hampir 6 kilo, tapi setelah adaptasi malah berat badanku melonjak lagi, hingga nmelebihi berat badan yang awal. Kufikir memang benar, Alah bisa bukan karena biasa namun karena terpaksa. Seperti aku yang tiba-tiba bisa menjadi chef disaat terdesak.