Sabtu, 30 Juni 2012

That's why I called her "sister"


Kadang aku ingin seperti dia, orang yang aku anggap sebagai saudaraku. Saudara yang baru aku kenal sejak 3 tahun belakangan. Sifatnya terlalu saklek, bahkan dia lebih saklek dari kakak mentorku. Dia terlalu logis, untuk hal apapun. Dan terkadang sifatnya menyakitkan hatiku. Sepertinya mulutnya tidak memiliki filter, hingga semua kata dapat ia keluarkan. Dia orang yang sangat menyebalkan ketika membalas sms, selalu singkat dan tidak jelas, dankalau panjang sedikit lebih tidak jelas. Dia tipe orang yang sangat supel, dan percaya diri, bahkan ibuku saja sampai dibuat kangen olehnya. Dia paling suka sayur asem buatan ibuku, dan ibuku kadang tanpa diminta membuatkan untuknya.  Dia orang yang sering kuminta untuk menasihatiku, ketika aku galau. Yaah walopun jawabannya terlalu menjengkelkan, tapi aku suka dengan tiap nasihatnya, karena dia menyadarkanku, bukan malah ikut menye-menye denganku. Dia tidak pernah ikut menangis ketika aku sedang menangis, bahkan ketika aku sedang putus cinta, dia bahkan tak memelukku. Bagi dia, menangis adalah kegiatan yang sangat melelahkan. Dia selalu bilang padaku kalu sedang menangis, lihatlah kaca, dan kamu akan melihat seberapa jeleknya kamu ketika menangis. Dia orang yang sangat tegar, dan ketika aku menangis, dia selalu tertawa melihatku, jelek katanya. Jahat bukan? Kalau lagi eling, dia akan mengeluarkan perkataan bijaknya, tapi jika aku meminta untuk mengulanginya pasti dia lupa, haha. Tapi semua yang dilakukannya membuatku sadar dan paham tentang hal-hal yang tak penting untuk ditangisi. Untuk masalah lawan jenis, dia pun saklek. Dia tidak perduli dengan pacar, tapi aku tau kalu dia pun pernah menyukai seorang pria dia pun pernah pacaran, tapi dia santai. Pokonya motto dia “Jodoh di tangan Tuhan, mantan di tangan teman”.  Haha, parah kan. Dia selalu bilang padaku supaya aku tidak pernah takut tidak mendapat jodoh. Dia bilang padaku, kalau aku itu pacaran selalu memakai hati, sehingga ketika putus terlalu dalam jatuhnya, berbeda dengan temanku yang pacaran karena uang. Bingung aku dengan setiap statement nya, dan dia bilang dia dulu pacaran ya karena Cuma buat seneng-seneng aja, kalo suka jalan, kalo engga ya udahan. Segampang itu pemikirannya, segampang hidupnya.  Tentang masalah pacaran, dia selalu memberikan kata-kata yang sangat logis. Bohong kalau ada pacaran secara islami, dan alasan-alasan kenapa dia santai saja tidak mempunyai pacar, kalu aku Tanya mengapa dia hanya menjawab, makanya kalau mentoring jangan bolos aja, jadi ilmunya belum sampai. Pffft, tapi bagiku berbicara dengannya seperti sedang mentoring, tapi jangan harap serius! Dia orang yang paling tidak bisa serius, khusyuk itu paling ketika sholat, selain itu dia tertawa.  Aku ingin seperti dia, santai tidak mempunyai pacar, santai tidak ada yang sms, ah dia terlalu logis tentang percintaan! Dan satu hal yang paling aneh ialah, dia hidup tidak bergantung pada ponselnya, itu yang menurutku hebat. Tak masalah jika tidak ada yang menghubunginya seharian penuh, dan ketika aku bilang “hapeku sepi” dia hanya tersenyum dan mengatakan “jangan tergantung sama hape”. Ketika aku merasa menjadi orang yang paling menderita dia selalu mengingatkanku bahwa selalu ada orang yang lebih menderita dibandingkanku. Dan ketika aku tidak mendapatkan yang aku inginkan, dia pun selalu mengingatkanku, akan hal yang lebih aku butuhkan dibanding aku inginkan. Dia bukan tipikel orang yang perhatian, dan tidak suka kalau aku manja, tapi dia berusaha menjadi saudara yang baik. Selera kami berbeda, dan Kita seringkali berbeda pendapat, diantara kami tidak ada yang ingin mengalah, merasa paling benar tapi itu tidak membuat kami lalu bertengkar, karena ada kata-kata andalannya yang bikin suasana mencair “gullet aja gimana”, dan kami pun tertawa. Dia itu orangnya keras, wataknya sangat keras, kalau kata orang Cirebon mah “bener jare dewek bae”, dan tidak ingin disalahkan. Menyebalkan, tapi Dia tidak segan membantuku ketika aku sedang kesulitan, tapi kalo sudah ada setannya, jangan haraaaap. Aku suka mengenalnya, dia seperti alarmku, memberitahu ketika aku salah, dan mensuportku ketika aku jatoh, dan mencubitku ketika aku futur. Aku suka dengan pandangan hidupnya, dia sangat gampang dalam menjalani hidup, tidak dianggap sulit, karena menurutnya apa yang kita tanam, akan kita petik. Dan aku sangat berterima kasih padanya akan semua hal yang telah dia lakukan padaku. Semoga kita akan terus bersaudara hingga Izroil mencabut nyawa kita, aamiin. uhibuki fillah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar