Kamis, 08 Januari 2015

Cerita 9 : First Day

Hari ini hari pertama aku dan Nesya berangkat ke sekolah. Aku bertugas di SMAN 1 Amfoang Barat Laut. Sekolah kami baru berdiri 2 tahun kemarin. Baru ada kelas X dan XI. Belum mempunyai gedung sendiri, gedungnya masih menumpang di SD Nainefo. Oleh karena itu kami masuk sekolah siang, menunggu SD pulang dahulu.

Aku excited sekali pertama kali datang. Ah senang rasanya. Aku berkenalan dengan guru-guru di sekolah. Kami lalu diperkenalkan ketika apel siang. Setelah memperkenalkan diri, anak-anak lalu bertanya “status”. Haha, mereka bukan anak kecil ternyata, ya anak SMA.

Lalu aku berkeliling ke tiap kelas, masuk keluar untuk memperkenalkan diri. Aku meminta anak-anak untuk memperkenalkan diri masing-masing. Siapa namamu, nama kecilmu, alamat rumah, dan asal sekolah maksudnya asal SMP. Mereka punya nama agak asing ya ditelingaku. Nama orang timor ini belakangnya adalah nama fam. Ada yang nama belakangnya Taemnanu, Tamelab dll. Dari sini kita bisa melihat, mereka saling bersaudara.

Mereka malu-malu memperkenalkan diri. Aku senang melihat wajah mereka. Wajah asli orang timor. Ketika ditanya tempat tinggal, mereka akan menyebutkan desa atau daerah tempat tinggal mereka. Ada yang di saukibe, honuk, manufui dan yang paling jauh Leonai. Mereka ke sekolah jalan kaki. Kufikir daerah-daerah itu dekat, taunya… mereka harus berjalan kaki 2 jam untuk sampai sekolah. Kebayang kan, jam 11 siang jalan kaki, melewati sungai untuk sampai ke sekolah. Hatiku terenyuh. Aku kemudian bersyukur. Alhamdulillah, hidupku lebih mudah dari mereka.

Mereka lalu bertanya tentangku, tentang Jawa, tentang sekolahku. Aku senang. Mereka menyenangkan, walaupun kita belum dekat, tapi kuyakin mereka akan menjadi temanku selama disini, lupakan tentang guru dan murid. Anggap aku sebagai teman jika mereka mau.





Hari ini, menyenangkan. Semoga terus menyenangkan sampai satu tahun kedepan. Aamiin.

Cerita 8 : Welcome to Amfoang Barat Laut

Aku sampai di Amfoang Barat Laut. Tepatnya di rumah dinas Kepala Sekolah. Antara kaget sedih campur aduk rasanya melihat rumah yang akan menjadi rumah tinggal sementara saya dan Nesya. Rumah tinggal (dinas) Kepala Sekolah tergantung baru. Baru jadi minggu kemarin. Kepsek beserta keluarga juga baru tinggal dirumah dinas minggu lalu. Kepsek beserta keluarga berasal dari Amfoang Utara.

Rumah dinas kepsek ini beratapkan ilalang, beralaskan tanah, dan berdinding bamboo. Kamar mandinya? Hanya bangunan persegi dari bamboo tanpa atap dan tanpa pintu. Hari pertama kami datang, kami mandi di bawah sinar rembulan. Terdengar romantic, namun menyedihkan. Seperti reality show jika aku menjadi. Kemudian aku menangis. Entah kenapa. Tapi ini pilihanku kan? Aku harus menghadapinya. Love your choice Ky!


Semua ini jauh, amat jauh dari ekspektasi. Saya fikir rumah dinas/mess itu seperti kebanyakn rumah yang beralas keramik, berdinding tembok, beratap genting. Tapi ini amfoang, daerah tertinggal. Rumah-rumah disini ya memang seperti ini kebanyakan, rumah kayu mereka bilang. Jarak satu rumah dengan rumah yang lainnya berjauhan. Satu kepala keluarga memiliki rumah dengan halaman yang sangat luas. Biasanya mereka memiliki bangunan depan untuk rumah tinggal dan ruang tamu, bangunan tengah untuk berkumpul, dan bangunan terakhir biasanya dapur, dan terakhir kamar mandi seadanya.


Sampai dirumah dinas, kami disambut oleh mama kepala sekolah, 3 orang anak yang masih kecil dan anak tinggal. Mama kepala baik sekali, beliau tak mangizinkan kami menimba air. Semuanya beliau sediakan. Mama kepala menyiapkan makanan untuk kami, beliau potong ayam dan membeli ikan. Saya ingat, saya tidak boleh memakan ayam yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Saya urung makan tersebut.

Ah, kehidupan setahun akan begini. Semoga semuanya berjalan lancer, dan semua orang baik kepada kami. Aamiin.



Bismillahirrahmanirrahiim. Luruskan niat…

Cerita 7 : Hello Amfoang

Pagi hari sekitar jam 6 aku sudah dijemput dengan otto bus. Busnya semacam elf kalo di Cirebon. Ketika di Cirebon, aku paling takut untuk naik elf, kadang supirnya suka seenaknya ketika mengemudi. Tapi untuk sampai ke penempatan aku dan Nesya harus meniki bis ini, yang bisa dibilang jauh dari kata layak alias kondisi body nya sudah tidak bagus lagi.

Aku dan Nesya bergegas masuk ke dalam otto dengan barang bawaan kami yang terlampau banyak. Sebagian barang bawaan disimpan di atas otto, mereka menyebut bagasi dan sebagian di dalam otto. Otto penuh dengan manusia dan berbagai macam karung.




Kami dijemput oleh kakak beradik Ibu Rina dan Ibu Novri. Ibu Rina merupakan guru Kimia di SMAN 1 Amfoang Barat Laut, SMA dimana tempat kami bertugas, sedangkan ibu Novri guru SMK. Sepanjang perjalanan (aku yang duduk di muka bis dengan Ibu Novri) diceritakan banyak hal. Beliau selalu bilang “Tenang saja Ibu Kiky, Amfoang aman.”

Semua barang bisa diangkut dengan otto. Awalnya kami ragu apakan otto mau mengangkut barang bawaan kami yang seabrek. Ternyata, barang bawaan kami bisa diangkut, bahkan motorpun bisa diangkut, diikat di bagian belakang otto. Pemandangan yang sangat baru bagi kami. Otto sangat ramai, aku senang melihat masyarakat yang saling tegur sapa di dalam otto. Semua saling kenal.

Perjalanan sangat jauh dari ekspektasi. Yang aku dengar, menurut cerita dari kepala dinas, kaka senior perjalanan ke Amfoang sangat jauh dan melewati kali-kali yang kering. Tapi kufikir jalanannya rata, alias aspal. Ternyataaaa, jangan harap jalanan lurus. Jalanan berbatu, pasir dan debunya? Masya Allah. Semua yang tadinya bersih, bagai kena hujan debu. Perjalanan 8 jam melewati hutan belantara dengan pohon-pohon kering yang gersang. Bagaikan lagu ninja hatori “mendaki gunung, lewati lembah”. Jika kebelet buang air kecil, otto akan berhenti, dan penumpang silakan buang air di hutan. Aku sih serem buang air begitu.

Kepala dinas memang benar, perjalanan ke Amfoang melewati kali kering, jumlahnya? Ratusan mungkin. Kali-kali yang ketika kemarau berfungsi sebagai jalan dan beralih fungsi menjadi sungai ketika musim hujan.

Aku takjub dengan supir otto Amfoang. Bagaimana tidak, selain dia menguasai medan yang amat dahsyat, mereka juga hafal jalanan. Gila, lewat hutan, lewat kali kering yang tidak ada jalannya mereka hafal, tanpa nyasar, tanpa peta apalagi GPS. Kebayang kalo otto tiba-tiba mogok, malam hari di hutan atau di kali. Jangan harap ada lampu, jalan aja susah. Tapi tenang mereka sudah persiapkan semuanya.

Perjalanan panjang, sangat panjang. Di Jawa, perjalanan panjang seperti ini mungkin dari Cirebon sudah bisa sampai ke Jogjakarta, tapi ya jalanan licin aspal. Tapi ini sungguh, sepanjang perjalanan saya menggunakan masker karena debu.


Di Amfoang Barat Daya kami istirahat makan siang. Baru kali ini makan dikelilingi anjing. Lalu saya tersadar, ini NTT. Anjing Babi berkeliaran, dan kamu harus sisap bertemu mereka, harus siap.