Minggu, 27 Desember 2015

Cerita 50 - Listrik oh Listrik

"Tenang aja, ditempatin dimana saja pasti sudah ada listrik. Wong listrik sudah masuk desa." - Mama
Sebelum berangkat ke penempatan, lebih tepatnya saat prakondisi dan memberi tahu mama ditempatkan di Kupang, via telepon saat itu, mama selalu bilang begitu.

Nyatanya, ketika sampai di Kupang yang merupakan ibukota provinsi NTT, listrik kerap kali mati. Sehari sebelum ke penempatan, di LPMP kami bertemu dengan Kepala Sekolah tempat tugas kami dan beliau bilang 
'Tenang sa Ibu, di AMBAL (Amfoang Barat Laut) su ada listrik, dari jam 6 sore sampai jam 12 malam." 
Mama ternyata salah. Sesampainya di penempatan Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, memang benar listrik hanya tersedia 6 jam. Jam 12 malam tepat, listrik mati. Gelap, sangat gelap. Agaknya jetlag, ketika biasanya bisa menyalakn lampu kapan saja, sekarang tiba-tiba harus terbiasa hanya terang ketika malam hari. Baterai hape dan laptop pun dipakai sehemat mungkin. Kadang aku dan Nesya jika ingin menonton film di laptop, harus bergantian. Maksudnya, jika laptop Nesya mati kita akan pindah nonton di laptopku.

Keuntungan hidup di dekat Bapa Kepala Desa adalah aku bisa mengetahui tentang semua yang ada di desa ini. Dan pertanyaanku pun muncul. Kenapa Listrik hanya 6 jam, sedangkan di Kupang 24 jam (ya walaupun banyak matinya dibanding nyalanya). Ternyata PLN belum masuk sini. Aku kaget. Lalu, dari mana asalnya listrik yang selama ini dipakai?

Jadi pada tahun *lupa*, pemerintah memberikan bantuan mesin diesel bertenaga solar untuk membantu penerangan desa. Masyarakat gotong royong untuk membuat aliran listriknya, seperti tiang listrik dan kabel semuanya dikerjakan oleh warga. Jangan pikir tiang listriknya sama seperti yang biasa kalian lihat, ya. Tiang listriknya hanya berupa batang-batang pohon yang ditanam di dalam tanah.

Walaupun satu desa diberi satu mesin, mesin itu tak dapat mengcover seluruh penerangan warga desa. Jarak antar rumah yang sangat jauh menjadi salah satu kendalanya. Dan kendala yang utama adalah masalah bahan bakar. Enam desa di kecamatan ini masing-masing mendapatkan mesin diesel, namun ketika saya datang pertama kali, hanya ada tiga desa yang menggunakan mesin tersebut. Sisanya? Mesin hanya didiamkan begitu saja hingga lama-kelamaan seperti tumpukan besi yang tak berguna.

Alasan utama kenapa mesin tidak digunakan adalah masalah solar. Seperti yang Bapak Desa pernah bilang kepadaku, masalah listrik ini masalah yang pelik. Untuk menyalakan listrik selama 6 jam, mesin membutuhkan 35liter solar. Dengan harga bahan bakar di wilayah amfoang yang diatas harga normal, ditambah kebutuhan solar yang tidak sedikit, dan perawatan mesin yang membutuhkan biaya, warga harus membayar listrik tiap bulan sebesar Rp. 50.000,- (sebelum bbm naik). harga itu mrupakan hanya pemakaian penerangan saja, jika memiliki barang elektronik selain lampu, harganya akan bertambah.

Dengan kemampuan ekonomi warga yang jauh dari kata cukup, hal ini membuat masalah listrik menjadi masalah yang tak pernah berujung. Sehingga tiga desa tersebut memutuskan untuk tidak menggunakan mesin lagi. Sehingga desa menjadi gelap ketika malam tiba.

Hal yang sama juga terjadi di desa Oelfatu, Desa penempatanku. Percaya atau tidak, setiap awal bulan Bapak menyuruhku untuk mengetik tunggakan listrik warga desa. Bapak lelah mengurus masalah listrik. bahkan setiap awal bulan listrik pasti mati, karena desa tak mampu untuk membeli solar. Hingga akhirnya, pada bulan Januari listrik desa Oelfatu benar-benar mati.

Aku dan Nesya yang saat itu baru datang dari Kupang karena liburan semester kaget ketika Mama dan Bapa memberitahuku. Aku dan Nesya hanya saling tatap, sedih. Selama listrik mati setiap malam aku dan Nesya hanya mengobrol sambil ngemil atau minum, duduk bercerita dalam gelap dan bantuan lilin. Aku belum terbiasa untuk membaca dalam gelap. Jadi hanya itu yang bisa kami lakukan. Untuk kebutuhan cas, setiap malam Minggu, genset gereja dihidupkan, sehingga aku dan Nesya biasa mengisi daya baterai alat elektronik kami.

Masalah listrik ini memang masalah yang tak berujung. Kebanyakan daerah di Kabupaten Kupang memang tak dilengkapi dengan listrik. Entah mengapa P*N tak masuk ke desa-desa di Kab. Kupang. Lalu yang kuadari bahwa medan disini sangat berat. Contoh paling gampang adalah desaku. Desa penempatanku dihubungkan dengan sungai-sungai besar yang jika musim hujan arusnya sangat dahsyat, mungkin itu hal yang mendasari P*N tidak masuk sisni. Tapi anehnya, kecamatan sebelah, Amfoang Utara yang merupakan kota kecamatan sudah dialiri aliran listrik dari P*N walau hanya 12 jam. Entahlah apa yang menyebabkan hal itu. Mereka hanya bilang karena kota kecamatan, jadi pembangunan  utama akan berpusat di kecamatan tersebut.

Semoga, tahun-tahun kedepannya akan ada sumber daya listrik yang lain yang dapat menerangi desa. Karena memang tak bisa dipungkiri bahwa listrik merupakan salah aspek untuk meningkatkan kualitas SDM.

Rabu, 11 November 2015

Cerita 49 - Amfoang juga Indonesia!

Dulu sebelum sampai di tempat ini aku berfikir. Perjuangan ke sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo itu klise. Tidak mungkin di saat zaman yang sudah canggih begini, kecuali dulu, jaman ketika mama dan papaku bersekolah. Kurasa sekarang sudah zamannya angkot, atau bahkan ojek. Berjalan kaki berkilo-kilo untuk sekolah bagiku mustahil. Sekolah ku pun jauh sekitar 5km, tapi aku bisa naik angkot. Aku selalu berpikir begitu.

Dulu sebelum tiba di tempat ini aku selalu berpikir, Indonesia ya seperti ini, seperti kotaku Cirebon. Tidak ramai namun juga tidak sepi. Akses mudah walaupun sedikit gedung tinggi. Kalau Indonesia Negara kepulauan, ya menurutku yang berbeda hanyalah suku, ras dan budayanya. Selebihnya ya sama saja. Semua dapat di jangkau.
ketika mereka berjalan di kali, ketika musim hujan.

Kali, ketika hujan mulai deras

Setelah sampai sini, pikiranku kemudian berubah. Kufikir Indonesia belum merdeka. Perjalanan berkilo-kilo untuk sampai ke sekolah memang benar adanya. Aku melihat sendiri, betapa anak muridku harus berjalan paling jauh 13km untuk sampai ke sekolah. Melewati hutan dan sungai dengan bahaya yang bisa datang kapan saja. Mereka harus menempuh perjalanan 2 jam dengan kaki untuk sampai ke sekolah. Tidak heran kalau di sekolah mereka hanya tinggal lelahnya saja.

Aku pernah ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki sejauh itu. Aku ingin mengunjungi temanku yang rumahnya di desa paling atas, sama seperti desa tempat tinggal siswaku. Aku ingin berjalan kaki. Anak-anak meremehkanku. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki jauh. Dan, ya 13 km ditempuh dengan 3 jam, melewati hutan dan entah berapa kali menyebrangi sungai. Jalanan yang tidak rata, bebatuan membuatku berkali-kali hampir jatuh. Setibanya di tempat tinggal kawanku, rasanya kakiku mau copot. Capek sekali, dan aku hanya bisa tidur setelahnya.

Aku tak bisa bayangkan mereka harus pulang pergi berjalan kaki sejauh itu.  Mereka memang sudah biasa, dan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kalau tidak berjalan kaki sejauh itu, mereka tidak sekolah.  Kalau mau naik kendaraan misalnya naik ojek, itu sangat mahal sekali, harga pulang pergi bisa sampai Rp. 100.000. Tidak sebanding dengan penghaslian mereka. Belum lagi kalau musim hujan, mereka harus berkejaran dengan sungai-sungai banjir yang memakan korban. Kenapa tidak dibagun jembatan? Well yeah tempat ini memang sedikit sekali tersentuh pembangunan, pembangunan yang ratusan juta terkadang hanya meninggalkan papan belaka. Lagipula kalau memang dibangun jembatan, berapa km jembatan yang harus dibangun? Ah, pelik.


Sehingga setelah sampai sini aku pupn tersadar bahwa, Indonesia bukan hanya Cirebon. Indonesia bukan hanya Jawa yang pembangunannya tak pernah habis. NTT juga masuk Indonesia kan? Amfoang juga kan? Kenapa tidak dibangun juga?

Cerita 48 - Bintang di Langit Gelap; Siswa Cerdas

Mengajar di daerah terpencil membuatku untuk tidak menaruh harapan yang tinggi. Karena terkadang ekspektasi hanya berujung kekecewaan atau bahkan membuat  terkejut. Tapi aku tidak boleh berputus asa, aku yakin mereka bukan tidak bisa melainkan tidak adanya fasilitas, lagi-lagi masalah akses. Aku pun tak melulu hanya mengajarkan mereka tentang program linear ataupun matriks, aku lebih mengajarkan tentang hidup pada mereka, paling tidak mereka tidak sekedar tahu yang itu-itu saja.

Setahun mengajar, sudah lumrah rasanya melihat hampir 90% siswaku remedial. Hal biasa, karena rasanya sulit memang mengajarkan polynomial ketika mereka belum pernah belajar aljabar atau mengajarkan program linear ketika perkalian mereka belum khatam. Pemahaman mereka memang harus dibentuk. Tidak cukup jika setahun. Logikanya kita belajar matematika di SMP selama tiga tahun, dan mereka tidak merasakan belajar matematika saat SMP, dan tiba-tiba setahun mereka harus paham semuanya, mustahil rasanya.

Hari-hari berlalu, dan aku mengajar semampuku. Aku paham betul fungsi sekolah untuk mereka. Sekolah merupakan tempat istirahat dari pekerjaan fisik yang cukup melelahkan. Ya, siswaku tak seperti siswa kebanyakan yang tugasnya hanya belajar. Banyak pekerjaan yang mereka lakukan di pagi hari sehingga siang hari ketika sekolah mereka hanya beristirahat. Fisik mereka lelah, mungkit otak mereka hanya menginginkan satu kata, tidur.

Tapi bagiku, mengajar mereka merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Mereka memang lelah dan beristirahat di sekolah, namun mereka tetap excited dengan pelajaranku, walaupun ujungnya nanti mereka bilang “Beta pusing ibu, kermana bisa begitu?”. Lalu aku menjelaskannya berulang-ulang sampai nanti mereka bilang “Nah, kalau begini beta su mengerti, tapi beta yakin besok pasti su lupa lagi.”

Diantara siswa yang seperti itu ada dua orang siswa yang menurutku sangat cemerlang. Mereka bagai bintang di hamparan langit luas. Aku tak berlebihan. Mereka adalah Tirsa Natbais kelas XI IPA dan Yani Taemnanu kelas X. Tirsa dan Yani tak hanya pintar matematika, mereka pintar sema pelajaran dan selalu menjadi juara umum.

Tirsa pernah tidak masuk sekolah karena sakit saat pelajaranku. Keesokan harinya di sekolah, dia bertanya padaku tentang pelajaran kemarin. Ketika ulangan, dia mendapat nilai paling besar. Ketika akan diadakan olimpiade matematika se-Kab. Kupang aku merekomendasikan dirinya. Aku pun menjadi pembimbingnya. Dia bersemangat sekali. Dia bisa menjawab soal denga benar. Aku hanya perlu mengajarkan sekali, dan dia sudah benar-benar paham. “Walaupun tidak jadi mengikuti olimpiade, paling tidak saya sudah belajar banyak, lebih dari teman-teman saya.” Itu kata Tirsa setelah akhirnya mengetahui kami tidak jadi ikut Olimpiade karena hujan besar yang melanda mengakibatkan jembatan putus, sehingga kami tak bisa ke kota.

Lain halnya dengan Yani. Yani adalah adik dari teman guruku di sekolah, dan anak perepmuan satu-satunya di keluarga. Dia pendiam orangnya, tapi otaknya sangatlah encer. Aku pernah melihat dia membaca buku dengan pelita saat aku berkunjung ke rumah teman guru. Dia juga satu-satunya siswa yang membawa buku untuk belajar saat disuruh orang tuanya membantu memasak untuk kami, guru-guru. Ketika aku bertanya di kelas, dia hanya menjawab lirih. Dia pemalu, padahal semua jawaban yang keluar dari mulutnya benar. Nilainya untuk mata pelajaran matematika juga selalu bagus. Pernah kakaknya (teman guru) bilang “Yani pernah dapat ulangan nilainya kecil, dia tak henti-hentinya menangis., dan nanti belajarnya akan lebih keras lagi.

Lalu aku tersadar. Selalu ada lilin terang di setiap kegelapan. Aka nada anak yang cemerlang di tengah semua keterbatasan. Aku yakin, jika Tirsa dan Yani hidup dari kecil di Jawa yang fasilitas serba ada, mereka akan menjadi bintang. Mereka cerdas alami, tanpa bantuan buku yang memadai, tanpa penerangan, dan tanpa fasilitas.

Yani (Tengah)

Tirsa (Kanan)


Aku berpesan pada kedua orang tua mereka saat berpamitan “Mama, mereka (Yani dan Tirsa) harus sekolah sampai tinggi. Mama harus tau, anak mama berdua sangat pintar.” Berkata seperti itu membuat orang tua mereka menangis, kemudian berkata “Pasti Bu, kami akan menyekolahkan mereka setinggi mungkin yang kami bisa.”

Rabu, 09 September 2015

Cerita 47 - Pengakuan Dosa

Selama setahun ini selain mengabdi (ciyeee) ada beberapa dosa yang harus kuakui. Duh sebenarnya malu untuk mengakuinya.
Yang pertama adalah aku pernah makan daging sapi dimana bukan aku yang menyembelihnya. Aku tahu aku diharamkan untuk memakan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, tapi saat itu apa daya. Setan banyak hingga aku memakannya. Makannya banyak lagi. Maaf ya Allah.
Yang kedua adalah pulang pagi saat pesta. Disini kalau pesta memang dari malam sampai pagi. Awalnya aku pulang pesta paling jam 12 malam, tapi lama kelamaan karena menganggap pesta adalah suatu hiburan aku pulang pagi, pernah pulang pesta jam lima pagi. Lalu di pestanya dansa sana sini. Abis gimana aku diajari dansa oleh tetua disana, dan diajak dansa sana-sini. Kalau nolak tidak enak. Lagian di jawa kan mana pernah pesta kaya gitu.
Yang ketiga adalah aku pernah ngamplopin ke pesta hanya dua ribu perak. Jadi biasanya adat disini ketika diundang acara syukuran atau pesta, para tamu memberikan amplop berisi uang. Aku tau dari bapa desa ketika aku berangkat pesta. Awalnya aku memberi amplop dalam jumlah yang banyak selayaknya di jawa. Tapi lama-kelamaan teman guru bilang, jangan banyak-banyak. Akhirnya menurun seiring berjalannya waktu, paling kecil lima ribu rupiah. Sampai suatu waktu saat mau pesta aku tidak memiliki uang pecahan. Cari sana sini tidak ada, akhirnya teman guru memberikan uang seribuan dua, yang kucel dan lecek lalu bilang. “Sudah ibu dua ribu ju son apa-apa.” Akhirnya Rizky datang ke pesta dengan amplop dua ribu rupiah, dan makan kenyang.
Yang keempat adalah aku pernah menyuruh orang minum sopi. Ini benarbenar terpaksa karena aku diminta minum untuk adat oleh tetua. Daripada terus menerus disuruh aku cari orang untuk minum sopi sebagai penggantiku. Disana juga aku tahu bau sopi, tahu warnanya, Duh, aku justru malah dekat-dekat dengan sopi karena mau tahu bentauk, warna dan baunya seperti apa.
Yang kelima aku sering ikut ibadah “mereka”. Jangan punya pikiran negative dulu. Biasanya disana banyak acara-acara pengucapan syukur, atau kalau disini lebih ngehitznya acara syukuran. Biasanya acara syukuran diawali dengan ibadah syukur. Aku mau tak mau harus duduk diam disitu. Kebanyakan ketika ada ibadah seperti itu aku duduk sambil tidur. Hehehe.

Hal-hal di atas merupakan dosa-dosa besarku selama setahun disana. Selebihnya Insya Allah aku masih tetap berada di jalan yang lurus. Malu sebenarnya mengakui hal ini. Tapi aku sudah berusaha seminimal mungkin untuk melakukan hal-hal diatas. Semoga Allah mengampuni dosaku.

Cerita 46 - Bapa Desa

Aku tinggal di dekat Bapa Desa, dan aku bersyukur tinggal disana. Bapak adalah sesosok pemuda yang semangat membangun desanya. Dengan kumis sepotong macam hitler Bapak justru tak ada hitlernya. Bapa amat sangat baik. Seperti kepadaku, Bapa menerima orang baru yang ingin memajukan Desanya. Dia bilang harus menghargai orang yang jauh-jauh datang untuk membuat pintar anak disini. Bapak memang bukan sarjana, tapi kalau sudah ngobrol sama Bapak, sarjana juga kalah pintarnya. Bapa memang gaptek, tapi dia tidak malu mengakui dirinya yang gaptek, Bapak tak segan meminta tolong padaku, bahkan kadang minta tolong padaku untuk mengajarkannya.

Bapak memiliki cirri khas, yaitu tertawanya. Sepanjang satu tahun disini aku tak pernah melihat Bapak seharipun tidak tertawa. Bahkan kadang aku yang bingung ini Bapak tertawa atau sedang marah. Tapi Bapak kalu marah juga serem. Hihi. Ciri khas yang lain adalah sirih pinag. Bapak merupakan “sirih pinang addict”. Bisa stress kalau tidak ada sirih pinang dan tembakau. Makanya bibir Bapak selalu merah gonjreng. Bapak juga yang menghadiahi aku sirih pinang ketika aku ulang tahun. Kalau kemana-mana tas Bapak selalu Mama isi bekel, apa bekelnya? Ya sirih pinang.

Seperti kebanyakan orang disana, Bapak hobi bercerita. Dan aku hobi mendengarkan cerita Bapak. Bahkan teman-teman SM3T yang berkunjung ke desaku menjuluki Bapak sebagai “Bapak Asik” atau “Bapaknya kita semua”. Karena tiap ada temanku yang abis berkunjung pulang ke penempatannya Bapak selalu bilang “Hati-hati ibu, jangan lupa pulang kesini ya.”  Makanya aku merasa memiliki seorang Bapak disini.

Sebagai Kepala Desa, Bapak sangat totalitas dalam melayani masyarakat. Bahkan kadang aku dan Mama yang ribut karena Bapak kerja tak tahu waktu. Bayangkan kadang ada warga desa yang malam hari minta ini itu, Bapak tetap melayani. Belum lagi rapat ini itu yang menghabiskan waktu berjam-jam. Atau orang laporan yang membuat denda adat Bapak juga harus duduk berjam-jam dengan masyarakat. Ah Bapak, seharusnya Kepala Desa bekerja 8 jam, Bapak malah 24 jam. Bapak hanya bilang “Pelayanan harus dengan sepenuh hati to Ibu.” Temanku sampai bilang “Kalau Bapak jadi calon presiden, kami siap jadi tim suksesnya.”

Itulah Bapak yang bercerita tanpa habis. Yang memiliki cita-cita setinggi langit. Yang ingin anaknya sekolah tinggi tidak seperti dirinya. Ah Bapak, kadang aku iri dengan keikhlasan dan ketulusannya dalam mengabdi. Yang sehat-sehat terus ya Pak. Semoga Bapak bisa jadi anggota DPR sesuai cita-cita Bapak. Mudah-mudahan seperti yang Bapak bilang “Ibu, biasanya orang yang pernah mengabdi di Oelfatu selepasnya dia akan menanjak dalam karirnya.” Aku aamiin kan Pak.



Sampai ketemu lagi Pak. Semoga aku bisa bertemu Bapak lagi. Terima Kasih Pak atas ilmu yang diberikan, semoga Bapak selalu diberi berkat lebih oleh Tuhan.

Cerita 45 - Kampung Lama

Bulan puasa kemarin saya diajak petugas sensus (Ka Ovry, Pa Jumles, Om Dan + Tante Oematan, Deky dan Om Ed) untuk pergi ke kampung lama desa Oelfatu yang berada di kaki gunung Timau. Ko satu desa bisa ada  Kampung Lama? Jadi pada jaman dahulu kala semua orang yang tinggal di desa Oelfatu yang sekarang tinggal di bawah kaki gunung Timau, pada tahun 80 an, Gubernur NTT menginstruksikan untuk pindah ke dekat pesisir pantai, jadilah para warga berduyun-duyun pindah di desa Oelfatu yang sekarang, namun masih banyak orang yang tinggal di kampung lama yang tidak ingin meninggalkan kampungnya dengan alasan untuk menjaga ternak dan hasil ladang.

Kami (aku dan petugas sensus) berangkat jam 2 siang. Empat motor berangkat bersama-sama. Jangan difikir perjalanan tanpa hambatan. Perjalanan memang mulus, namun jalan yang sangat terjal membuat kami yang di bonceng harus turun berkali-kali. Maklum, jalan menanjak dengan batu pasir membuat motor terkadang tak stabil. Tapi sepanjang perjalanan walaupun medannya berat,aku selalu takjub dengan pemandangan alamnya. Aku pernah melewati jalan ini ketika pergi ke kupang via poros tengah dimana saat itu adalah musim hujan. Nah, sekarang musim panas, memang tidak sehijau ketika saat musim hujan, tapi tak mengurangi pemandangan yang luar biasa gagah. Hamparan padang rumput yang indah, sapi dan kuda liar yang sedang makan. Ah membuatku tak henti-hentinya memuji nama-Nya.

Matahari terbenam pas ketika kami sampai air sirih. Aku berbuka dengan air sirih dan jajanan yang aku beli di kios. Segar rasanya. Hawa dingin mulai menusuk tulang. Kami melakukan perjalanan malam. Jalanan yang terjal hanya diterangi oleh lampu sepeda motor, maklum ini adalah hutan mana ada lampu jalan. Kufikir Kampung lama adalah pemukiman di tengah hutan. Jarak antara rumah sangatlah jauh.

Kami mendatangi rumah pertama untuk sekedar menghangatkan tubuh. Pemilik rumah tersebut adalah seorang janda dengan anak satu. Beliau senang sekali menerima tamu. Bahkan kami disuguhkan segala yang dia punya termasuk sismeto (daging kering) makanan khas kampung lama. FYI: Daging keringnya benar-benar kering sampai aku susah untuk mengunyahnya. Yang pertama aku cari di rumah persegi berdinding kayu ini adalh kamar mandi, maklum di udara dingin seperti ini hasrat buang airku semakin besar. Dan ya, si tante bilang “disini son ada kamar mandi”. Mulailah aku stress. Aku minta ke rombongan untuk mencari rumah yang ada kamar mandinya. Akhirnya tante Oematan mengusulkan untuk pergi ke rumah Bapak RT Nainefo, yang katanya rumahnya tidak jauh dari sini.

Rumah Pak RT hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, karena jalan yang menurun. Jadi kamii titip motor di rumah pertama dan mulai berjalan kaki. Kata-kata dekat yang sebenarnya adalah jauh. Sudah gelap, kita hanya diterangi rembulan dan Hape Nokia Senter kami berjalan kaki menurun ke bawah. Melewati hutan dan padang rumput yang berembun membuat kami harus berjalan berhati-hati. Maklum jalanan licin, Bahkan Om Edi saja terpeleset. Sekitar satu jam kami sampai di rumah pak RT. Hal yang pertama aku Tanya adalah “ada kamar mandi?” Dan harapan kosong ternyata, pak RT juga tidak memiliki kamar mandi, alhasil selama di kampung lama akhirnya pertama kali aku buang air di semak-semak.

Di rumah Pak RT kami tidur untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Aenoni. Untuk diketahui Kampung Lama terdiri dari tiga tempat yaitu Nainefo, Aenoni dan Nefonunuh.

Pak RT memiliki anak kecil yang baru berusia sekitar 2 bulan. Sang nenek memintaku untuk memberikan nama. Duh, Aku merasa sangat tersanjung member nama anak. Pikir-pikir dan kuberi nama “Avisena” entah ilham darimana aku ingin saja member nama itu.

Pagi hari aku dikejutkan oleh Pak RT yang bilang “Ibu tahu tidak tadi malam ibu berjalan dari mana?” Kemudian beliau menunjuk bukit nun jauh di atas sana. OMG! Ternyata semalam aku turun dari atas sana. Dan, siang ini mau tidak mau aku harus mendaki ke atas sana untuk mencapai Aenoni. Dalam keadaan puasa, siang hari aku mendaki ke atas sana. Rasanya capek, lelah dan dibayang-bayangi oleh “membatalkan puasa”. Tapi aku disemangati oleh kawan-kawan. “Ayo semangat, ibu pasti bisa”. Perjalanan cukup lama karena aku yang sebentar-sebentar istirahat. Alhasil, aku seperti sapi dari belakang didorong, dari depan ditarik. Sampai atas, kawan-kawan langsung mengambil motor dan kita langsung pergi ke Aenoni.

Sampai di Aenoni kami berkumpul di gereja. Karena jarak antar rumah sangat jauh dan tidak memungkinkan petugas sensus untuk mendatangi masing-masing rumah akhirnya masyarakat dikumpulkan di gerja. Aku yang kala itu masih lelah karena pendakian hanya duduk diam dan membantu alakadarnya sampai nyawaku terkumpul kembali. Sensus juga berjalan menyenangkan. Orang kampung memang polos sekali, ketika ditanya ini itu. Ada juga yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Yang paling membuat takjub adalah hewan ternak yang mereka miliki, ada yang memiliki 50 ekor sapi, 20 ekor babi dan 50 ekor kuda. Gila fikirku mereka memang orang kaya. Tapi yaaa rumah mereka alakadarnya, anak mereka tidak ada yang sekkolah tinggi aku juga bingung mengapa.

Saat-saat sensus tiba-tiba hasrat ingin buang air besarku muncul. Lalu aku bilang ke mama ingin BAB. Si mama bilang disini hanya ada wc darurat. Ah gapapa fikirku, saat-saat begini gak peduli mau darurat atau wc duduk habok aja. Di dekat gereja ada bangunan persegi. Duh susah menjelaskannya, pokonya hanya dari kayu dan langsung jatuh ke bawah, permasalahan bukan itu. Masalahnya adalah pintu wc tersebut gorden yang hanya setengah, jadi disitu aku bingung mau konsentrasi BAB atau berusaha untuk menutup pintu. Akhirnya aku menyerah dan keluar. Aku bilang pada kawan-kawan “Aku nggak bisaaaaa.” Kehebohan aku ingin BAB tersebar dan ada mama yang menawarkan untuk pergi kerumahnya, disana adalah satu-satunya WC sehat yang ada di kampung lama. Beliau bilang dekat. Tanpa piker panjang aku langsung pergi kesana, dan yaaa dekatnya orang sana ya jauhnya aku. Sampai sana rasanya aku menemukan surge. Aku bingung bagaimana mereka masih bisa hidup seperti itu di era modern seperti saat ini.

Matahari terbenam dan sensus pun selesai. Aku yang kala itu puasa disuruh mama disana untuk potong ayam. Hal yang lucu adalah. Ketika aku mau datang, rumor beredar kalau aku tidak meminum kopi, aku hanya meminum teh atau susu. Dan ya, buka puasa aku disuguhi susu. Kebayang gimana eneknya buka puasa pakai susu, saat itu aku piker “Tea is better madam”. Makan selesai, kami mengobrol dengan bai (kakek). Lucunya para bai  ini sebelum minum laru (minuman keras khas sana) tidak bisa bahasa Indonesia, eh abis minum lancer jayaaa.

Selepas berbincang, kami pun pamit untuk tidur, Nah di aenoni dinginnya bangeeeeet. Aku udah pake jaket sleepingbag tetep tembus, bahkan saat mau sahur untuk minum aja gak kuat banget bangunnya. Melebihi Nainefo. Di Nainefo aku masih bisa gak pake jaket, di Aenoni jaket dan selimutan terus.

Pagi hari kami panen lemon (jeruk). Bulan juli begini kampung lama sedang panen lemon. Dari mulai lemon besar sampai kecil, jeruk cina sampai jeruk bali semua ada. Ambil seberapa? Ambil sesukanya. Sayangnya kami naik motor jadi hanya membawa sebagian, tak banyak. Aku juga diberi ayam kampung sebagai oleh-oleh. Jadi sepanjang perjalanan naik motor aku tenteng ayam kampung terus. Sekitar siang kami pulang ke Oelfatu.








Ini adalah pengalaman berharga bagiku. Pengalaman yang membuatku belajar bahwa kita harus menghargai semua orang yang mau datang membangun. Belajar bahwa kita harus baik kepada semua orang. Ah, warga kampung lama, terima kasih atas pembelajarannya. Someday, aku akan kesini lagi.

Cerita 44 - Mengungsi Puasa

Sudah satu minggu aku berpuasa disini, sendirian. Kesibukan Glori Cup membuatku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku ksepian makan sahur dan buka seorang diri. Aku rindu ramadhan yang sesungguhnya dimana semua orang bersuka cita menyambut dan melaksanakannya, tapi disini berbeda ya mereka bukan dari golongan agamaku. Ramadhan tak seperti dulu.

Aku pun memutuskan untuk pergi ke naikliu, kecamatan sebelah yang memiliki masjid. Disana juga ada Menik dan Uyun teman SM3T-ku. Aku ijin susah payah ke Bapa desa, dan ketua panitia. Semua oke, asal jangan terlalu lama. Pikirku yang penting aku jalan dulu saja, urusan pulang ya bisa nanti-nanti lah.

Bersama Pak Yan aku jalan ke Naikliu. Rasanya excited. Ramadhan memiliki temam, mendengar suara adzan dan shalat berjamaah. Sampai di naikliu, justru aku sedih. Beginilah memang puasa di tanah rantau bersama teman-teman.

Naikliu merupakan kota kecamatan, yang lebih maju dibanding desaku. Disini listrik PLN 12 jam, yang berarti ketika sahur masih ada listrik, tidak perlu repot meminjam TS.

Memasak makanan berbuka bersama, saling bercanda riang, tidur, atau mengaji bersama. Ini semua menyenangkan, memiliki saudara sesame muslim yang membuat aku tak kesepian lagi.


“Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.”

Cerita 43 - Ramadhan di Tanah Rantau

Ramadhan memang tak pernah sama, selalu menghadirkan kisah berbeda di setiap tahunnya, begitu juga tahun ini.

Ramadhan kali ini aku berada di tanah raantauan desa Oelfatu Kec. Amfoang Barat Laut Kab. Kupang NTT. Mungkin terdengar biasa, banyak juga orang yang berpuasa di tanah rantauan. Tapi akan berbeda halnya ketika menjadi minoritas dimana aku adalah satu-satunya muslim di desa ini.

Kebanyakan warga beragama Kristen sisanya katolik. Mereka awam tentag agamaku, tidak seperti orang kota yang berbeda namun mengetahui, mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang agamaku. Maklum ini kampung informasi susah disapat, mereka hanya tau dari lingkungan saja, selebihnya tidak tahu. Seperti kemarin ketika aku meminta maaf ke tetangga, teman, dan siswa mereka langsung bertanya padaku ada apa. Setelah aku jelaskan baru mereka mengerti. Justru mereka bertanya-tanya padaku apa itu puasa, mengapa dan bagaimana. Jangan Tanya suasana ramadhan, sama sekali tidak dapat dirasakan disini.

Teman satu penempatanku juga Kristen, tapi dia sedikit banyak tahu tentang Islam, karena bapaknya muslim. Jadilah otomatis aku akan berpuasa sendirian selama disini.

Dari kecil hingga besar tak pernah aku berpuasa sendiri seperti ini. Kenyataan harus berpuasa sendiri membuat aku mempersipkan banyak hal seperti persediaan makanan dan penerangan. Kenapa penerangan? Karena jam 12 genset milik bapa akan dimatikan, jadi aku meminjam lampu ts (tenaga surya) milik bapa yang terang. Tidak lupa pasang alarm.

Khawatir terlambat, setiap jam aku bangun. Nesya akhirnya membangunkanku ketika jam 3. Aku bangun dan mempersiapkan sahur. Seperti mama-mama aku memasak. Nesya menemaniku, dia juga bangun. Aku merasakan bagaimana beratnya menjadi mama-mama yang harus bangun lebih pagi untuk memasak makan sahur. Makanan siap aku pun makan sendiri, melakuka aktivitas sahur sendiri kadang membuatku merasa sedih. But it’s the real life.

Ramdhan memang tak akan pernah sama tapi semoga ramadhan kali ini aku dapat menjalaninya lebih baik dari sebelumnya aamiin ya rabbal alamiin.


HAPPY RAMADHAN!!!!

cerita 42 - Perjalanan Poros Tengah

Nesya ke Kupang. Sakit kakinya makin parah bernanah dan bau, kebetulan sore itu ada kapal yang membawa orang untuk pergi ke rs DI Kupang, jadi Nesya langsung menumpang disana. Aelama Nesya di Kupang hidupku hanya seputar sekolah-malam tidur di pastori-pergi ke mama desa-sekolah lagi. Mama Pendeta menyuruhku untuk tinggal di pastori “daripada sendirian “ katanya. Aku juga tidak memasak, makan siang di mama desa dan makan malam di mama pendeta. Seperti biasa aku, mama pendeta dan bapa pendeta juga ada Pa Yan (pendeta desa timau yang ikut menginap disana) bercerita dan mengobrol.

“Pi Kupang yuk!” Pa Pendeta memulai percakapan

“Eh.” Aku kaget

Pa Pendeta mau pergi ke Kupang untuk berbelanja kebutuhan paskah, mama oendeta juga ikut, pa Yan juga. Aku galau. Berarti nanti aku sendirian. Aku dan Nesya memang berencana untuk pergi ke Kupang akhir Maret karena liburan Paskah (Libur paskah disana 2 minggu), tapi karena Nesya sakit jadi mau tak mau dia harus ke Kupang. Sebenarnya tidak masalah aku pergi ke Kupang, masalahnya dalah perekonomian aku dan Nesya sedang goyah *halah*. Uang bawaan kami ke kampung sudah habis. Bahkan sekarang akuk hanya memegang uang sebesar Rp.20.000,-, Sedangkan untuk pergi ke Kupang setidaknya memerlukan uang Rp. 100.000,-. Galau melanda. Akhirnya aku curhat ke Pa Yan dan merajuk ingin ikut ke Kupang. Jujur, aku juga sudah lumayan jenuh karena biasanya aku sebulan sekali ke kota, kali ini rekor tiga bulan belum pergi ke kota. Aku merajuk dan bilang pada Pa Yan untuk naik motor saja, paling tidak kalo naik motor aku bisa gratis. Pa Yan yang kasihan melihat anak rantauan akhirnya mengiyakan permintaanku. Jadi nanti aku dengan Pa Yan, Pa Pendeta dengan Om Vanuel.

“Kita nanti jalan lewat atas atau bawah” Om Vanuel bertanya.

Aku yang mendengar kata “atas” langsung excited dan bilang untuk lewat atas saja. Lewat atas maksudnya adalah jalan memutar atau biasa disebut poros tengah. Menurut banyak orang, poros tengah ini pemandangannya keren sekali. Aku kan langsung mupeng dan merajuk. Lagipula jalan bawah agak sulit untuk dilewati Maklum musim hujan apalagi pasca bencana seperti ini ikut jalan atas adalah pilihan yang baik, walaupun jalan bawah sudah dapat dilewati. Mereka setuju, dan Pa Yan bilang “Bu, nanti ibu siap-siap turun ya.”

Pagi hari aku siap semua. Dua motor jalan beriringan, tapi tetap saja Pa Pendeta selalu di depan, maklum beliau naik motor besar dan ngebutnya masya Allah, padahal di jalan yang gak bagus. Selama perjalanan memang kenyataannya aku harus turun berkali-kali, banyak jalan yang tidak bisa dilewati jika naik motor ada boncengannya. Jalanan mendaki. Perjalanan yang melelahkan tapi semua terbayar dengan pemandangan yang begitu keren. Hamparan padang rumput hijau. Sapi yang berlalu lalang, dan ah cuacanya dingin, seperti lembang di Bandung.

Kalau lewat poros tengah kita akan menemukan mata air, air sirih namanya. Menurut penelitian air sirih ini lebih sehat dibanding air a*ua. San bebas kapur. Aku yang alay nemu air seger sehat lagi langsung minum airnya. Aku basuh muka juga yak ali mendadak cantik gitu.

Lanjut perjalanan, karena kami jalan hari Selasa dimana hari pasar di Pohon Gunung Timau. Kufikir pasarnya besar seperti pasar Oelfatu, taunya pasarnya hanya di pinggiran jalan. Apa yang dijual? Selain barang kebutuhan pokok, disini terkenal pasar daging. Banyak daging yang dijual disini, mulai dari sapi, babi, burung, musang. Daging ini merupakan daging hasil buruan. Daging tersebut hanya dibakar saja. Dan apa pelengkapnya? Laru putih.



Sudah setengah perjalanan dan aku mulai bosan. Karena pemandangan hijau sudah hilang. Masuk ke Lelogama, Takari ah sudah sama seperti Oelfatu. Perjalanan yang melelahkan selama sepuluh jam akhirnya sampai juga di kota kupang. Such a long journey. Besoknya badan sakit semua karena naik motor. Yaaa namanya nyari pengalaman, ada aja yang harus dikorbankan, badan contohnya.

Cerita 41 - Pesta

Hidup disini berarti harus hidup dengan pesta. Kenapa? Karena disini dikit-dikit pesta, dikit-dikit syukuran. Apa yang dipestakan selain pernikahan? Ada baptisan, ada syukuran wisuda bahkan kematian dan peremian kuburan pun mereka ucap syukur (?).

Pesta disini dimulai malam hari dengan jam yang sangat karet. Karena ketika di undangan tertera jam enam, maka pesta akan dimulai jam delapan bahkan kadang sampai molor jam sepuluh. Jadi sistemnya bukan tamu yang menunggu melainkan yang pesta menunggu tamu, ketika kursi sudah terisi penuh maka baru pesta dimulai. Kalau kursinya belum penuh-penuh ya makin lama dimulainya.

Pesta biasanya dimulai dengan sambutan-sambutan, pemerintahan dan keluarga, lalu doa syukur yang dipimpin oleh pendeta, setelah itu kita akan makan bersama. Makan juga berurutan sesuai tempat duduk. Biasanya sang MC akan memberikan informasi.

“Untuk makanan internasional, di sebelah sana.”

“Untuk yang berhalangan karena kesehatan dan keyakinan ada di sebalah situ.”

Paham gak maksudnya apa? Jadi maksudnya makanan internasional adalah Babi, Anjing dll. Nah yang satunya adalah makanan halal, biasanya khusus untukku atau untuk orang-orang yang gtidak memakan babi.

Ketika ada pesta, aku diberi ayam untuk aku sembelih sendiri. Terkadang kambing atau sapi. Ketika aku bilang, aku tidak memakan hewan yang tidak aku sembelih sendiri, mereka menghargai keyakinanku. Mereka akan menyediakan hewan lain untuk makanku. Bahkan kalau tidak ada ayam, mereka akan berusaha mencari makanan lain yang stera dengan daging, misalnya telur. Tapi itu juga dibarengi dengan permintaan maaf mereka yang gak habis-habis. Bagiku tidak ada masalah ketika aku harus malan yang berbeda, bahkan sayur pun aku terima, aku tak ingin mereka repot karena kehadiranku, tapi menurut pandangan mereka berbeda. Kalau mereka makan daging, berarti aku juga harus makan daging, mereka akan merasa bersalah sekali ketika aku hanya makan yang biasa.

Setelah acara makan bersama akan diadakan acara bebas. Apa itu acara bebas? Dansa. Yap, orang sini gila dansa. Aku yang semula tak bisa, sampai ketagihan dansa. Maklum, pesta selain ajang makan enak, merupakan acara hiburan bagi kami. Awalnya kami pesta diajak oleh Bapa Desa, dan jam 11 malam sudah pulang. Namun Bapa desa ditegur oleh orang-orang sana, mereka bilang bahwa Ibu guru kalau pesta jangan pulang sedu (awal), harus dansa dulu biar tahu budaya sini.

Alhasil, ketika pesta teman guru aku dan Nesya pulang jam 2 pagi. Kami belajar dansa dan akhirnya diajak dansa sana sini. Aku awalnya canggung, lama-lama juga biasa. Malah senang, mereka mengajariku berdansa.

Yang lucu saat pesta adalah ketika masih awal-awal acara bebas, masih sepi orang yang berdansa karena belum panas, mereka belum minum sopi. Lama-lama, saat mereka sudah minum sopi, mulai satu per satu berdansa, bahkan kadang rebutan nona (perempuan). Nah ada aturan khusus untuk nona, jika sudah lelah berdansa boleh menolak, tapi jangan dansa lagi. Karena nanti akan menimbulkan keributan, maklum para Nyong yang berdansa sudah terkontaminasi oleh miras, otaknya sisa setengah.

Tidak jarang pesta diakhiri dengan keributan, ada yang bahkan sampai baku hantam. Cuma masalah dansa dan senggol-senggol saat goyang. Maklum mabok.Bagiku pesta ini memang merupakan hiburan, karena kapan lagi melihat Amfoang Terang sampai pagi, melihat orang tertawa renyah sampai pagi. Apalagi kalau tidak ada yang mabok, pasti pestanya bakal lebih menyenangkan. Bahkan, pesta terakhir disini aku pulang jam 5 pagi.




Cerita 40 - Selamat datang Januari Hujan berhari-hari

Bulan Januari banyak yang bilang adalah bulan dimana musim hujan datang. Di Indonesia yang hanya memiliki dua musim yaitu hujan dan panas, bagiku ya musim hujan biasa saja. Tapi beda disini, musim hujan adalah musim yang dinanti. Musim dimana pengharapan baru muncul.

Aku mengalami hujan yang dahsyat saat disini yang mengakibatkan bencana banjir. Saat itu pagi hari hujan besar datang, ya musim hujan hujan besar datang ya wajar. Tapi hujan kali ini beda. Hujan besar yang datang , angin bertiup kencang sampai membuat pepohonan tumbang, awan hitam penuh mengelilingi langit, tak ada cahaya matahari, dan petir yang menggelegar membuat bulu romaku berdiri. Kala itu aku takut. Bayanganku sudah seperti di film Hollywood dimana ketika hujan besar seperti itu nanti atap rumah akan terbang dan aku juga ikut terbang terbawa angin, oke itu hujan besar apa angin tornado (?)

Saat hujan besar seperti ini rasanya susah untuk sekedar mencuci piring atau pakaian, bahkan untuk sekedar pergi ke kamar mandi. Maklum, kamar mandi ada di luar rumah, berjarak lumayan. Mau tidak mau harus memakai paying, belum lagi genangan air di sepanjang jalan, alhasil kutu air menghinggapi kakiku. Belum lagi harus timba air, bingung mau pegang payung atau mau timba air. Disitu aku merasa menyedihkan.

Aku lalu bertanya pada Bapak kapan hujan berhenti. Bapak bilang jika menurut perhitungan adat hujan akan berhenti setelah 2 hari 2 malam, atau 4 hari 4 malam, atau 8 hari dan 8 malam, dan seterusnya. Buset kalau begini cucian piring sama pakaian gue apa kabar.

Hujan besar disertai angin begini membuat bingun “What should I do?” Ketika laptop nyala bisa saja akmi menonton film, tapi listrik padam dan barterai laptop sudah habis. Hujan begini juga membuat sinyal hilang. Tower pasar tidak ada hujan dan angin saja tak ada sinyal apalagi hujan begini, bahkan tower sinyal di kecamatan sebelah juga rusak. Jadi aku dan Nesya menghabiskan waktu dengan duduk ngobrol bercerita, kalau tidak tidur lagi.

Setelah hujan agak reda, aku bersiap ke sekolah mandi dengan air hasil timbaan yang berburu dengan hujan. Disekolah baru aku guru yang datang, anak sekolah juga bisa dihitung dengan jari. Katanya memang biasa seperti ini kalau hujan besar ya sekolah diliburkan. Sekolah juga tak ingin mengambil resiko, bisa saja musibah sewaktu-waktu terjadi. Jadi aku memimpin apel, menggabungkan kelas, ketika hujan besar datang kemabli aku memulangkannya. Aku sendiri juga takut kalau hujan datang speerti itu.

Sabtu, 24 Januari 2015
Hujan tak berhenti walau hanya sesaat. Piring-piring yang belum dicuci mau tak mau kami cuci dengan hujan-hujanan. Anak SD pulang awal, anak SMP pun juga demikian. Dan aku masih menunggu hujan agak reda untuk pergi ke sekolah. Namu, nampaknya hari ini hujan tidak akan reda. Tahu air yang tumpah dari ember? Begitulah kira-kira gambaran hujan pada hari itu.

Siang harinya banyak warga yang mengungsi ke Balai Pertemuan Desa. Kali meluap katanya sampai masuk ke pemukiman. Bapa bilang ini baru terjadi lagi, dulu pernah terjadi ketika tahun 2002. Gilak, ini sudah bisa dibilang bencana. Bapak mulai sibuk pergi melihat lokasi. Aku berdiam diri saja di kamar, takut. Membayangkan kalau sampai banjirnya sampai sini. Sekitar sore tiba-tiba hujan berhenti dan awan kembali terang.

Usut punya usut, siang tadi ada dua orang yang meninggal terbawa banjir. Menurut kepercayaan disini kalau kali sudah memakan korban, maka hujan akan berhenti. Wallahualam. Percaya gak percaya sih tapi kenyataannya gitu. Langsung berhenti banget. Kebayang kalau hujannya masih samapi sehari lagi aja, pasti tempat tinggalku juga kebanjiran.

Bencana ini membuat banyak rumah apalagi yang dekat dengan kali rusak terendam banjir. Rumah-rumah bundar terseret air banjir, hewan ternak juga ikut terbawa banjir. Dan yang lebih parah adalah sawah yang sudah ditanami padi dan jagung ikut terendam air membuat gagal panen. Jalanan juga banyak yang putus. Ah, banjir ini memang menakutkan sampai memakan 2 korban.

Alhamdulillah Tuhan masih melindungikku.



Cerita 39 - Perjalanan ke Utara

“Mau ikut ngga ke Naikliu?” Pagi hari kak Ale bertanya padaku dan Nesya. Naikliu adalah desa di Kecamatan Amfoang Utara. Desa dimana ada teman SM3T yang bertugas dan Kecamatan di Amfoang yang satu-satunya memiliki masjid. Tanpa babibu aku langsung mengiyakan ajakan Kak Ale. Aku penasaran, bagaimana rupa masjid di dearah minoritas.

Amfoang Utara merupakan Kota Kecamatan. Sebelum pemekaran, Amfoang merupakan suatu wilayah yang memiliki pusat kecamatan di Amfoang Selatan (Lelogama) dan Amfoang Utara (Naikliu). Apa kelebihan dari kota kecamatan. Jadi di Naikliu dan Lelogama PLN sudah masuk desa, walaupun hanya 12 jam yaitu dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, sinyal internet juga dapat disini walaupun hanya edge. Tapi itu kelebihan dari kota kecamatan. Selain itu ya sama aja, selayaknya desa-desa lain di Amfoang.

Setelah bersiap-siap kami pergi ke utara. Aku bersama Kak Elton dan Nesya bersama Kak Ale. Bagaikan perjalanan Tom San Chong mencari kitab Suci di Utara perjalan juga tak semudah yang dibayangkan. Jangan pernah mengharapkan jalanan rapi beraspal. Itu hanya sebatas angan dan impian. Medan jalan ini lebih parah dibanding jalanan di desaku. Jalanan batu pasir dengan debu yang aduhai menyambut kami selama perjalanan. Perjalanan membelah hutan ini menghabiskan waktu satu jam. Tak dianjurkan untuk menggunakan pakaian bagus disini, percuma nanti yang warnanya hitam berubah menjadi abu-abu.

Sampai di Amfoang Utara rasanya memang beda apalagi ketika sampai Naikliu. Di dekat Kantor kecamatan Amfoang Utara terdapat bangunan Bank NTT yang katanya akan dibuka bulan Oktober (kenyataannya sampai saya selesai tugas SM3T bank NTT capem Naikliu belum jua dibuka). Disana juga ada dermaga, tempat kapal berlabuh. Pertama kali kesana memang seperti biasa dermaga hanya bangunan di pinggir laut tapi sekitar bulan Maret ketika kapal Kiser dari Ambon yang berlabuh di Dermaga masuk, dermaga tersebut mulai kelihatan sedikit berfungsi ya walupun hanya dua minggu sekali. Selebihnya dermaga hanyalah tempat duduk-duduk menghabiskan waktu sore atau tempat foto yang mereka anggap gagah.

Ada dua orang  teman SM3T disana yaitu Menik dan Uyun. Sekolah mereka ada di desa Afoan dan tempat tinggal mereka ada di desa Naikliu, dan jarak antara tempat tinggal dengan sekolah adalah 6 km. Gilak. Kami langsung menuju ke tempat tinggal menik dan uyun, mereka tinggal di lingkungan masjid. Kalo disini mah namanya tempat tinggal marbot, bangunan semi tembok. Aku dan Nesya suka ngejek namanya “gubuk derita” ya padahal tempat tinggal kami juga gak lebih baik dari tempat mereka.

Melihat masjid bawaannya langsung pengen sholat. Gimana engga udah lama banget gak denger suara adzan. Emang di Masjid ini juga sdzan hanya dikumandangkan padaa saat Isya, Magrib dan subuh tapi gak mengurangi esensi masjid sebagai rumah ibadah. Muslim disini berjumlah 20 KK, mereka adalah orang bugis yang merantau disini.


Bertemu teman seperjuangan, tak henti-hentinya kami bercerita tentang penempatan masing-masing. Senang rasanya bersenda gurau sampai tak terasa waktu menunjukan jam 7 malam.  Kami memutuskan untuk pamit pulang. Kebayang buat aku yang penakut ini jalan dengan malam melewati hutan belantara yang gelap, ihhh serem. Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan walaupun dengan Perjalanan malam yang hanya diterangi oleh lampu motor disertai dengan doa Rizky.

Cerita 38 - Hati-hati orang mabok

“Orang NTT semuanya baik, kecuali orang mabok.” Begitulah kira-kira perkataan Kepala Dinas PPO Kab. Kupang ketika aku prakondisi di upi Bandung, saat beliau menjelaskan tentang keadaan di penempatan.

Orang mabok? Pasti tak berakal fikirku. Begitu sampai disini mabok atau minum minuman keras merupakan suatu kebudayaan dan kebiasaan. Bahkan ada yang bilang berbagi minuman keras adalah berbagi berkat (?). Sopi dan laru merupakan nama asli minuman keras disini. Dibuat dari fermentasi pohon laru dan tuak, minuman ini dibuat. Yang menjual kebanyakan orang-orang pribumi yang memproduksinya secara tradisional.

Bukan hanya acara pesta, terkadang mereka minum ketika sedang makan atau bahkan sebelum rapat kadang mereka minum dulu. Tapi anehnya nanti rapat berjalan seperti biasa dan mereka juga berbicara semakin lantang dan terarah, eits itu mungkin hanya beberapa orang. Selebihnya? Ada yang mabok rese, ada yang mabok gila.

Harga sopi atau laru satu botol 600ml adalah Rp. 15.000,- mahal? Bagiku mahal. Hanya untuk kenikmatan sesaat. Mendingan uangnya untuk beli telur anak supaya tidak makan kosong. Entahlah bagaimana pemikiran orang disini. Mereka mampu untuk membeli miras tapi untuk makan sehari-hari hanya makan nasi kosong.

Hal yang lucu adalah ketika pesta. Saat acara bebas (dansa), ketika masih jam-jam awal dimana orang-orang belum panas, jarang ada yang turun ke arena dansa. Tapi, setelah mereka menenggak satu gelas sopi, wih arena mulai ramai. Jadi menurut mereka miras itu membuat kepercayaan diri bertambah, yaeyalah mabok.

Aku banyak memiliki pengalaman dengan orang mabok, dari mulai mabok sadar sampai mabok rese. Bapak Desa adalah peminum, hamper setiap hari Bapak minum. Cara paling gampang mengetahui kalau bapak habis mabok adalah di pagi hari, ketika sikat gigi Bapak Oek Oek, maka malamnya atau kemarinnya beliau habis mabok. Karena sopi bukan merupakan barang illegal disini aku sampai-sampai tahu bau sopi seperti apa. Aku tahu cirri-ciri orang yang mabok. Ah, semacam sudah professional saja aku.

Pengalaman dengan orang mabok rese bahkan lebih banyak. Bulan awal aku disini aku dikejutkan dengan orang mabok yang memukul siswaku. Aku yang kala itu takut justru berlindung dibalik para siswa. Siswa juga tak mengizinkan aku untuk bertemu dengan orang maboknya. Mereka bilang “Aman sa ibu, kami bisa atasi, ibu diam-diam sa.”

Ada yang lebih parah adalah bertemu dengan Om Tinus yang tidak lain dan tidak bukan adalah omnya Bapa Desa. Om Tinus berasal dari kampung lama dan hobinya mabok. Nah, karena dia tak pernah menikah, setiap mabok dia maunya dekat-dekat perempuan. Ih menyeramkanlah pokonya, padahal kalau tidak mabok dia pendiem banget. Sampai-sampai aku sama Nesya kalau ada Om Tinus hanya diam saja di kamar, tidak berani keluar, daripada dikejer-kejer.

Ah masih banyak pengalaman dengan orang mabok. Tak kenal usia dan jenis kelamin, semuanya mabok sampai pusing aku melihatnya. Yang kasihan adalah aku pernah melihat mama-mama yang di KDRT-in sama suaminya. Duh, muka dan badannya bonyok-bonyok mengenaskan.

akibat mabok bukan hanya KDRT pada istri, kadang orang mabok yang tidak sadar  lalu memaki tetangga, atau bahkan mudah terpancing emosi yang akhirnya memicu perkelahian, dan ujung-ujungnya denda adat. Yang rugi siapa?


Disini aku melihat kemungkaran, tapi aku bisa apa. Sebisa mungkin aku menghindari. Tapi ini budaya, budaya yang bagiku tidak baik untuk dilestarikan, budaya yang seharusnya direvitalisasi, jika masyarakat paham dan mengerti.

Cerita 37 - Cita-cita




“Apa cita-cita kalian?” Aku bertanya pada mereka di sela-sela pembelajaranku. Memang menjadi kebiasaanku untuk “mengobrol” ketika sedang menulis atau ya seperti saat ini. Mereka antusias menjawab. Aku pun bertanya pada mereka satu per satu. Ada yang ingin jadi dokter, guru, bidan, TNI, Polisi, Petani (?). Linmas (?), Membantu orang tua (?).

Kufikir memang ada beberapa yang memang cita-cita. Tapi untuk petani, Linmas, dan memabntu orang tua apakah itu sebuah cita-cita? Aku pun bertanya pada mereka apa itu cita-cita. Mereka asal-asal menjawab, banyak bilang cita-cita merupakan suatu pekerjaan. Dan kebanyakan mereka memang tak kreatif dalam menajwab masalah cita-cita ini. Bahkan kebanyakan cita-cita mereka hanya ikut-ikutan.

Aku lalu memberikan motivasi pada mereka tentang cita-cita. Mereka mendengarkan dengan seksama walau kadang banyak keraguan di benak mereka. Kadang mereka bertanya “mungkinkah kami bisa, Bu?”. Lalu aku menjawab “Pasti, kalian pasti bisa.” Keraguan-keraguan mereka memang beralasan, tapi jangan jadikan alasan itu sebagai suatu kegagalan di awal, sehingga mereka tak mau mencoba.

Aku pun meminta teman-temanku untuk mengirim surat pada mereka. Di sela-sela pembelajaran aku membacakan surat itu pada mereka. Mereka sangat excited. Ketika dapat surat dari Farid yang seorang perawat di Jepang, mereka tiba-tiba bertanya “Ko perawat bisa sampai ke Jepang, Bu?” Di akhir surat Farid menuliskan tulisan Hiragana dan aku tulis ulang di papan tulis, mereka langsung menuliskannya di buku mereka, dan bilang “Wah, kalau begini lama-lama Be su sampai Jepang.” Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka.

Lain halnya ketika mendapat surat dari Via yang seorang Jr. Research di PT. Aspal Button, mereka terkesima, karena wah ternyata ada pekerjaan seperti itu. Maklum, mereka hanya mengetahui pekerjaan sekeliling mereka, seperti Guru, Pendeta, Polisi, Perawat, dan Pegawai Kecamatan. Selebihnya? Mereka tidak mengetahui apa-apa.

Aku senang membacakan surat dari teman-temanku untuk mereka. Paling tidak mereka memiliki wawasan baru tentang pekerjaan dan juga tentang cita-cita. Di akhir pembacaan surat, aku meminta mereka untuk menulis cita-cita mereka. Yaa, walaupun masih ada yang cita-citanya nyeleneh tapi ada beberapa yang berubah.


Ah kalian. Memang kalian tidak seberuntung teman-temanku disana yang mengetahui banyak hal. Tapi Ibu yakin, dengan kalian yang rajin belajar, lambat laun kalian akan lebih banyak tahu. Kejar terus cita-citanya ya. Ibuu harap salah satu dari kalian ada yang bisa seperti teman-teman Ibu. Pekerjaan yang sempat kalian fikir sebagai pekerjaan aneh yang tak mampu kalian jangkau. Kalian pasti bisa.

Cerita 36 - GLORI CUP III

Menyambut hari ulang tahun Gereja Lahai Roi Manufui, akan diadakan turnamen sepak bola se-klasis amfoang utara, Glori Cup III namanya.

Seperti biasa hari Minggu adalah harinya mencuci. Nesya pergi ke Gereja, aku beres-beres kamar. Selepas Ibadah aku dan Nesya diajak untuk mengikuti rapat pembentukan panitia Glori Cup. Ini acara gereja, tapi bagiku sah-sah saja selama tidak mencampur baurkan akidah, toh ini hanya acara turnamen sepakbola. Rapat berjalan, Nesya menjadi Sekretaris dan aku menjadi koor dokumentasi. Aku senang-senang saja, paling tidak kehidupanku di kampung tidak monoton, maksudnya ada kegiatan lain selain mengajar.

Selepas aku liburan paskah, di kampung mulai disibukkan dengan persiapan kegiatan Glori. Rapat ini rapat itu. Mulai dari tugasku sebagai koor yang tiba-tiba merangkap menjadi publikasi. Aku yang (agak) sedikit bisa photosop, didaulat untuk membuat ini itu. Hari-hari menjelang turnamen, aku begadang terus menyelesaikan tugasku. Kadang sampai tidur di rumah orang karena persiapan ini. Tapi bagiku ini menyenangkan karena aku bisa kenal dengan pemuda Oelfatu yang mengasyikkan. Kegiatan paling menyita waktu adalah Dana dan Usaha, kita berjualan di pasar pagi hari untuk mencari dana. Tapi ini yang aku salut, semuanya benar-benar berpartisipasi dalam acara ini. Bahkan Pa Pendeta sebagai ketua majelis sangat all out dalam turnamen ini.

Turnamen dibuka pada tanggal 20 Agustus which is aku sedang puasa. Yap Turnamen ini dilaksanakan 3 minggu selama bulan puasa. Bahkan Remaja Masjid Naikliu pun turut serta. Saat pembukaan aku didaulat ikut serta dalam menyambut tamu, Aku mengenakan pakaian adat, dan ini kali pertamaku mengenakan pakaian adat Timor. Semua orang takjub. Aku lebih merasa seperti Ibu pejabat karena pakaian yang kugunakan, kebaya, sarung, kerudung. Berasa istri anggota DPR. Wkwk.

Selama tiga minggu turnamen dilaksanakan. Dan selama tiga minggu aku puasa di kampung. Biasanya acara dimulai pada jam 3 sore. Jadi aku habis ashar datang ke lapangan, lalu jam 5 pulang untuk buka puasa, setelah buka kembali lagi ke lapangan untuk evaluasi. Tapi yak arena acara ini puasaku sungguh tak berasa, tau tau sudah pagi, tau tau sudah buka lagi. Mereka menghormati sekali aku yang sedang puasa. Kadang, kalau aku magrib masih disana mereka berteriak “Ibu Kiky su buka ko belum?”.

Pertandingan selama tiga minggu ini amat sangat seru dan ramai. Untuk sekelas pertandingan antar kampung, bagiku Pemuda Desa Oelfatu menyajikan turnamen yang super Waw. Mulai dari sponsor, acara, pertandingan, aturan dsb. Alhamdulillah acara lancar. Dan aku mendadak suka dengan sepak bola, walaupun tidak mengerti aku terhanyut dalam Euphoria turnamen.

Di babak final dilakukan penarikan undian kupon berhadiah sebagai kegiatan danus. Acara penutupan malam hari dan aku didaulat sebagai MC. Padahal aku belum pernah jadi MC di depan banyak orang. Bayangkan se-kecamatan tumpah ruah di lapangan. Mereka bilang biar terlihat lintas agama. Aku mau tak mau harus mau.

Alhamdulillah, turnamennya lancar jaya walaupun ada sedikit drama. Tapi ini menjadi salah satu pengalaman berharga bagiku bekerja sama dengan mereka. Esok hari setelah penutupan, aku merasa sepi. Euphoria masih ada, tapi acara sudah berakhir.






Ah, Glori juga membuatku dekat dengan para pemuda desa. Yang semula tak kenal jadi saling kenal. Yang semula tak sapa jadi saling sapa. Terimakasih, semoga kehadiranku dapat bermanfaat aamiin.

Rabu, 22 Juli 2015

cerita 35 - GGD

GGD merupakan singkatan dari Guru Garis Depan, yaitu guru-guru yang telah mengikuti program SM3T dan PPG, lalu mengikuti tes cpns formasi khusus dan ditempatkan di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). SMA tempatku bertugas mendapatkan 3 orang guru GGD, kedatangan mereka membuatku berpikir…

Mereka hebat, mau mengajar di daerah terpencil, bukan sepertiku yang hanya satu tahun. Mereka harus mengajar di daerah penempatan minimal 5 tahun baru boleh mengajukan mutasi. Bagiku itu hal yang sangat jauh dari bayanganku harus tinggal seumur hidup di daerah seperti ini. Hidup berumah tangga dengan kondisi tempat yang tak menentu atau membesarkan anak dengan lingkungan yang keras.

Memang kenyataannya GGD mendapatkan financial yang sangat cukup bagi seorang guru, gaji pokok dan tunjangan-tunjangan lain yang bisa membuat kantong tebal. Aku tahu amat tahu hidup harus realistis, tapi hidup bukan semata-mata tentang uang kan? Aku hanya takut nanti pada akhirya menjadi sampah birokrasi seperti apa yang dikatakan oleh temanku. Mengejar PNS tapi ujungnya malah tidak mengajar.

Disini banyak sekali PNS yang hanya mengajar setahun sekali tapi mendapat gaji penuh. Bukankah berarti kita bersikap tidak amanah? Mengejar uang tapi tanpa kerja, sama saja dengan kita korupsi. Dapet duit iya kerjanya tidak ada. Menurutku GGD ini adalah kegiatan mulia, yang seharusnya untuk orang-orang mulia yang bukan semata-mata hanya mengejar PNS, lalu selebihnya sibuk mutasi sana sini karena tidak mau mengajar di daerah terpencil.

Seharusnya, ketika mengikuti GGD, berarti kita memang telah siap dengan konsekuensinya dan membaktikan diri kita mengabdi mencerdaskan anak bangsa. Terdengar klise memang, tapi aku yakin pemerintah telah membuat program ini untuk mencerdaskan anak bangsa bukan semata-mata untuk memberikan “hadiah” PNS kepada para peserta SM3T.

Hmm, entahlah. Aku pun belum tahu akan mengikuti GGD atau tidak. Banyak pertimbangan yang aku pikirkan. Yang utama adalah karena aku perempuan. Ah, sudahlah SM3T saja belum kelar, PPG sama sekali belum. Aku masih memiliki waktu kurang lebih satu tahun untuk memikirkan semua ini. Yang jelas seperti yang pernah kakakku bilang “rejeki itu bukan hanya PNS”. Tuhan Maha Mengetahui mana-mana yang baik bagiku, keluargaku, agama juga bangsa.


Wallahualam

cerita 34 - ujian di atas ujian

Hari ini…

Apa yang terjadi hari ini? Sebenarnya hari ini tidak ada yang istimewa. Hanya ujian akhir semester, ya memang ini adalah ujian akhir semesterku selama mengajar disini. Semua awalnya biasa.

Jam pertama, aku tidak ada jadwal mengawas. Seperti guru-guru lain yang tidak mengawas kami berkumpul di ruang guru, dengan kesibukan masing-masing. Semuanya mendadak diam ketika ada orang tua murid yang datang ke sekolah sambil teriak-teriak. Orang tua murid yang malam harinya aku datang kerumahnya untuk pesta ulang tahun. Marah, karena masalah uang iuran sekolah. Aku yang sedang tidur langsung melonjak kaget. Mama yang datang mengamuk suaranya sangat keras, tau kan orang timor jika sedang emosi.

Jadi, peraturan menentukan bahwa anak yang belum bayar uang iuran tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian, ketika dia sudah bayar dia bisa mengikuti ujian susulan. Sang mama tidak terima, karena anaknya pulang begitu saja. Mama tidak tahu peraturan itu karena anaknya memang jarang sekolah. Dengan penuh emosi, mama mengamuk ke guru. Digiring ke kantor tidak mau, marah-marah di depan ruang kelas. Untungnya hal ini cepat ditangani dan mama cepat mengerti, semua selesai semua aman.

Masalah satu sudah aman. Semua kembali ke pekerjaan semula. Sampai…
Ada guru SMK yang lewat sambil teriak “itu ada guru SMA yang pukul anak sampai pingsan”
Hah? Ini yang lebih membuat kaget. Kufikir ini hanya main gila saja. Aku datang ke kelas yang bersangkutan. Memang banyak anak yang sedang berkerumun disana, ada juga anak yang berteriak keskitan, lagi-lagi kufikir ah, ini paling biasa. Aku pun kembali ke ruang guru. Taunya, anak yang tadi dipukul oleh oknum guru dipapah menuju ruang guru. Badannya kaku, kuning, bergetar. Duh, pokoknya mengenaskan lah.

Di ruang guru, dia dibaringkan di atas meja. Panik, semua guru dan kepala sekolah panic. Panggil tukang urut, panggil tukang doa, panggil pendeta. Ambil minum, ambil bawang, ambil minyak. Lari sana lari sini, ujian juga jadi tak karuan. Sang oknum hanya duduk terdiam.

Tukang urut bilang darah sang anak tidak mengalir. Akupun melihat demikian. Pengalamanku yang melihat papa sakit stroke membuatku iba terhadap sang anak. Bagaimana tidak, masa depan sang anak masih panjang kalau lumpuh bagaimana. Tukang urut tidak mempan untuk membuat darah sang anak mengalir. Usut punya usut sang anak dipukul di bagian belakang leher. Mau langsung dibawa ke puskesmas, tapi badan sang anak kaku. Kalau nanti taruh di muka bersama supir, tidak akan bisa, taruh di bak truk takutnya kenapa-napa karena cuaca yang panas sekali.

Pendeta bilang sang anak tidak apa-apa, hanya shock saja. Tukang doa bilang sang anak memiliki beban sehingga bisa sampai begini. Entahlah mana yang benar, yang jelas setelah diurut dan didoakan sang anak akhirnya sadar, darah mulai mengalir, badannya pun tidak kaku lagi.

Apa yang menyebabkan oknum guru memukul sang anak? Ya seperti biasa hanya masalah sepele, hanya masalah buku perpustakaan yang sang anak pinjam. Kali lalu, sang anak sudah mengembalikan ke pegawai perpustakaan, tapi dikarenakan sudah mau pulang sekolah anak tidak tanda tangan di buku pengembalian. Sehingga ketika oknum guru yang merupakan wakasek sarpras mendata anak yang belum kembalikan buku nama sang anak ada dalam daftar tersebut. Ketika ujian tengah berlangsung terjadilah pemukulan tersebut.

Sang anak sudah baikan, sudah dibawa ke puskesmas, masalah baru muncul. Wali sang anak yang merupakan mantan kepala desa Honuk datang dan melaporkan sang oknum guru ke kantor polisi, Panik. Oknum guru langsung dibawa ke pos pelayanan. Kami guru-guru juga ikut ke pos pelayanan. Seumur-umur baru aku ke pos pelayanan yang ada penjaranya.

Kami iba melihat oknum guru. Si wali anak keukeuh ingin masalah ini diselesaikan melalui proses hokum. Namun, bapak kapospol melihat ini masalah yang tidak seharusnya sampai memenjarakan seseorang, sehingga Kapospol meminta penyelsesaian masalah esok hari bersama bapa desa dan bapa komite, tapi sang oknum akan tidur di penjara malam itu.

Keesokan harinya semua berkumpul untuk menyelesaikan masalah. Masalah yang cukup pelik karena wali korban igin masalahnya diusut terus. Namunbapak desa menengahinya. Setelah berbicara sampai 6 jam akhirya diberi keputusan bahwa korban harus divisum dulu di rumah sakit, selama menunggu visum oknum guru dikenakan wajib lapor. Setelah visum selesai dan hasilnya baik, oknum guru akan bebas dengan membuat surat pernyataan, namun jika hasil visum ada gangguan pada kesehatan anak, maka masalah akan diusut kembali.


Dari dulu, aku tidak pernah setuju pada kekerasan yang dilakukan di sekolah. Dengan dalih untuk mendidik anak, banyak guru yang menghalalkan tindakan pemukulan. Kejadian ini merupakan pelajaran bagi guru yang ringan tangan agar tidak melakukan kekerasan lagi.

Cerita 33 – Oepoli, Perjalanan tapal batas Indonesia

Hari Minggu aku diajak panitia Glori Cup menyebarkan undangan ke daerah Timur Amfoang, sampai ke Oepoli perbatasan Republik Indonesia dengan RDTL (Republic Democratic of Timor Leste). Aku yang belum pernah sampai ke Oepoli langsufng mengiyakan ajakan tersebut. Setelah surat-surat sudah lengkap akhirnya aku, Pak Elfen, Yabes, Jitro, Matias dan Derven pergi sekitar jam 9 malam. Kami tiga motor, aku di bonceng Pak Elfen. Perjalanan pertama menuju Naikliu. Kami akan bermalam di tempat teman SM3T. Keesokan harinya sekitar jam 6 kami langsung melanjutkan perjalanan.

Tujuan utama perjalanan ini adalah menyebarkan undangan ke gereja-gereja. Jadi sepanjang perjalanan kami berhenti untuk membagikan undangan. Dimulai dari desa-desa di amfoag utara. Jalanan di Amfoang utara ini parah sekali. Bebatuan, membuat motor kadang selip. Kalau orang yang tidak ahli bawa motor jangan coba-coba lakukan perjalanan ini. Aku dan Elfen memiliki perjanjian, bagaimanapun keadaan jalan, aku tidak diperkenankan untuk menurunkan kaki, kakiku harus tetap berada di kuda-kuda.
Lanjut dari perjalanan yaitu Naikliu, Fatumonas, Kolabe, Bakuin sampai Nunuanah perjalanan sungguh offroad. Tidak jarang aku harus turun berjalan kaki, karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Kalau mau lihat jalanan di Indonesia, ya disinilah jalanan sesungguhnya, mendaki menurun penuh bebatuan. Kita juga melewati kali sitoto, kali terbesar di Amfoang yang lebarnya hampir 1 km, dan selalu tergenang air. Sampai disana kami istirahat sebentar untuk membersihkan motor yang penuh debu. Perjalanan lanjut ke Nunuanah. Ketika sampai di Nunuanah aku mampir ke rumah Orang tuanya Mama Desa. Berhenti sejenak disana untuk meluruskan kaki. Lalu melanjutkan perjalanan kembali.
kali sitoto
Nah, jalan dari Nunuanah sampai Oepoli licin. Aspal maksudnya. Bahkan sampai gang-gang juga di aspal. Mereka bilang karena jalan ini merupakan jalan perbatasan, sehingga diperhatikan pemerintah. Tapi Nunuanah juga sama tanpa listrik, kebanyakan orang menggunakan tenaga surya. Diperjalanan menuju Oepoli terhampar Lautan yang sangat indah. Sampailah kita di Fatuike. Pantai yang memiliki karang sangat tinggi.

Kami sangat excited melihat karang-karang yang tinggi menjulang sangat indah, kami langsung turun dari motor berlari sampai disana. Naik ke karang-karang yang tinggi, mengabadikannya, naik ke karang yang lain. Tak henti-hentinya aku mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan. Dan, ternyata bukan hanya di Bali, disini daerah perbatasan yang tak tersentuh sekalipun memiliki keindeahan alam yang sangat menawan.

Walaupun kurang puas, kami lalu melanjutkan perjalanan. Memasuki Oepoli ada hal yang berbeda disana. Rasanya seperti buikan berada di perkampungan, Oepoli ramai, tidak seperti daerah-daerah Amfoang lain yang pernah aku kunjungi, rumah-rumah di Oepoli saling berdekatan. Sawah-sawah yang besar sekali di sepanjang perjalanan. Kalau di desaku biasanya orang tanam padi bisa di pekarangan rumah, lain halnya di Oepoli, pemukiman sendiri sawah sendiri. Jadi terlihat lebih teratur.
 





Undangan semua telah dikirim.  Aku ingin bertemu dengan teman SM3T yang di Oepoli, tapi saying sekali mereka sedang mengikuti panen raya. Tadinya aku juga mau ikut panen raya tapi terlambat. Akhirnya kami pulang. Oh ya, kami juga tidak sampai ke pos perbatasan karena satu dan lain hal. Tapi paling tidak aku sudah sampai di perbatasan Indonesia-Timor Leste, dan melihat sisi lain Indonesia.