Rabu, 11 November 2015

Cerita 49 - Amfoang juga Indonesia!

Dulu sebelum sampai di tempat ini aku berfikir. Perjuangan ke sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo itu klise. Tidak mungkin di saat zaman yang sudah canggih begini, kecuali dulu, jaman ketika mama dan papaku bersekolah. Kurasa sekarang sudah zamannya angkot, atau bahkan ojek. Berjalan kaki berkilo-kilo untuk sekolah bagiku mustahil. Sekolah ku pun jauh sekitar 5km, tapi aku bisa naik angkot. Aku selalu berpikir begitu.

Dulu sebelum tiba di tempat ini aku selalu berpikir, Indonesia ya seperti ini, seperti kotaku Cirebon. Tidak ramai namun juga tidak sepi. Akses mudah walaupun sedikit gedung tinggi. Kalau Indonesia Negara kepulauan, ya menurutku yang berbeda hanyalah suku, ras dan budayanya. Selebihnya ya sama saja. Semua dapat di jangkau.
ketika mereka berjalan di kali, ketika musim hujan.

Kali, ketika hujan mulai deras

Setelah sampai sini, pikiranku kemudian berubah. Kufikir Indonesia belum merdeka. Perjalanan berkilo-kilo untuk sampai ke sekolah memang benar adanya. Aku melihat sendiri, betapa anak muridku harus berjalan paling jauh 13km untuk sampai ke sekolah. Melewati hutan dan sungai dengan bahaya yang bisa datang kapan saja. Mereka harus menempuh perjalanan 2 jam dengan kaki untuk sampai ke sekolah. Tidak heran kalau di sekolah mereka hanya tinggal lelahnya saja.

Aku pernah ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki sejauh itu. Aku ingin mengunjungi temanku yang rumahnya di desa paling atas, sama seperti desa tempat tinggal siswaku. Aku ingin berjalan kaki. Anak-anak meremehkanku. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berjalan kaki jauh. Dan, ya 13 km ditempuh dengan 3 jam, melewati hutan dan entah berapa kali menyebrangi sungai. Jalanan yang tidak rata, bebatuan membuatku berkali-kali hampir jatuh. Setibanya di tempat tinggal kawanku, rasanya kakiku mau copot. Capek sekali, dan aku hanya bisa tidur setelahnya.

Aku tak bisa bayangkan mereka harus pulang pergi berjalan kaki sejauh itu.  Mereka memang sudah biasa, dan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kalau tidak berjalan kaki sejauh itu, mereka tidak sekolah.  Kalau mau naik kendaraan misalnya naik ojek, itu sangat mahal sekali, harga pulang pergi bisa sampai Rp. 100.000. Tidak sebanding dengan penghaslian mereka. Belum lagi kalau musim hujan, mereka harus berkejaran dengan sungai-sungai banjir yang memakan korban. Kenapa tidak dibagun jembatan? Well yeah tempat ini memang sedikit sekali tersentuh pembangunan, pembangunan yang ratusan juta terkadang hanya meninggalkan papan belaka. Lagipula kalau memang dibangun jembatan, berapa km jembatan yang harus dibangun? Ah, pelik.


Sehingga setelah sampai sini aku pupn tersadar bahwa, Indonesia bukan hanya Cirebon. Indonesia bukan hanya Jawa yang pembangunannya tak pernah habis. NTT juga masuk Indonesia kan? Amfoang juga kan? Kenapa tidak dibangun juga?

Cerita 48 - Bintang di Langit Gelap; Siswa Cerdas

Mengajar di daerah terpencil membuatku untuk tidak menaruh harapan yang tinggi. Karena terkadang ekspektasi hanya berujung kekecewaan atau bahkan membuat  terkejut. Tapi aku tidak boleh berputus asa, aku yakin mereka bukan tidak bisa melainkan tidak adanya fasilitas, lagi-lagi masalah akses. Aku pun tak melulu hanya mengajarkan mereka tentang program linear ataupun matriks, aku lebih mengajarkan tentang hidup pada mereka, paling tidak mereka tidak sekedar tahu yang itu-itu saja.

Setahun mengajar, sudah lumrah rasanya melihat hampir 90% siswaku remedial. Hal biasa, karena rasanya sulit memang mengajarkan polynomial ketika mereka belum pernah belajar aljabar atau mengajarkan program linear ketika perkalian mereka belum khatam. Pemahaman mereka memang harus dibentuk. Tidak cukup jika setahun. Logikanya kita belajar matematika di SMP selama tiga tahun, dan mereka tidak merasakan belajar matematika saat SMP, dan tiba-tiba setahun mereka harus paham semuanya, mustahil rasanya.

Hari-hari berlalu, dan aku mengajar semampuku. Aku paham betul fungsi sekolah untuk mereka. Sekolah merupakan tempat istirahat dari pekerjaan fisik yang cukup melelahkan. Ya, siswaku tak seperti siswa kebanyakan yang tugasnya hanya belajar. Banyak pekerjaan yang mereka lakukan di pagi hari sehingga siang hari ketika sekolah mereka hanya beristirahat. Fisik mereka lelah, mungkit otak mereka hanya menginginkan satu kata, tidur.

Tapi bagiku, mengajar mereka merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Mereka memang lelah dan beristirahat di sekolah, namun mereka tetap excited dengan pelajaranku, walaupun ujungnya nanti mereka bilang “Beta pusing ibu, kermana bisa begitu?”. Lalu aku menjelaskannya berulang-ulang sampai nanti mereka bilang “Nah, kalau begini beta su mengerti, tapi beta yakin besok pasti su lupa lagi.”

Diantara siswa yang seperti itu ada dua orang siswa yang menurutku sangat cemerlang. Mereka bagai bintang di hamparan langit luas. Aku tak berlebihan. Mereka adalah Tirsa Natbais kelas XI IPA dan Yani Taemnanu kelas X. Tirsa dan Yani tak hanya pintar matematika, mereka pintar sema pelajaran dan selalu menjadi juara umum.

Tirsa pernah tidak masuk sekolah karena sakit saat pelajaranku. Keesokan harinya di sekolah, dia bertanya padaku tentang pelajaran kemarin. Ketika ulangan, dia mendapat nilai paling besar. Ketika akan diadakan olimpiade matematika se-Kab. Kupang aku merekomendasikan dirinya. Aku pun menjadi pembimbingnya. Dia bersemangat sekali. Dia bisa menjawab soal denga benar. Aku hanya perlu mengajarkan sekali, dan dia sudah benar-benar paham. “Walaupun tidak jadi mengikuti olimpiade, paling tidak saya sudah belajar banyak, lebih dari teman-teman saya.” Itu kata Tirsa setelah akhirnya mengetahui kami tidak jadi ikut Olimpiade karena hujan besar yang melanda mengakibatkan jembatan putus, sehingga kami tak bisa ke kota.

Lain halnya dengan Yani. Yani adalah adik dari teman guruku di sekolah, dan anak perepmuan satu-satunya di keluarga. Dia pendiam orangnya, tapi otaknya sangatlah encer. Aku pernah melihat dia membaca buku dengan pelita saat aku berkunjung ke rumah teman guru. Dia juga satu-satunya siswa yang membawa buku untuk belajar saat disuruh orang tuanya membantu memasak untuk kami, guru-guru. Ketika aku bertanya di kelas, dia hanya menjawab lirih. Dia pemalu, padahal semua jawaban yang keluar dari mulutnya benar. Nilainya untuk mata pelajaran matematika juga selalu bagus. Pernah kakaknya (teman guru) bilang “Yani pernah dapat ulangan nilainya kecil, dia tak henti-hentinya menangis., dan nanti belajarnya akan lebih keras lagi.

Lalu aku tersadar. Selalu ada lilin terang di setiap kegelapan. Aka nada anak yang cemerlang di tengah semua keterbatasan. Aku yakin, jika Tirsa dan Yani hidup dari kecil di Jawa yang fasilitas serba ada, mereka akan menjadi bintang. Mereka cerdas alami, tanpa bantuan buku yang memadai, tanpa penerangan, dan tanpa fasilitas.

Yani (Tengah)

Tirsa (Kanan)


Aku berpesan pada kedua orang tua mereka saat berpamitan “Mama, mereka (Yani dan Tirsa) harus sekolah sampai tinggi. Mama harus tau, anak mama berdua sangat pintar.” Berkata seperti itu membuat orang tua mereka menangis, kemudian berkata “Pasti Bu, kami akan menyekolahkan mereka setinggi mungkin yang kami bisa.”