Minggu, 12 Mei 2013

BELANDA : "Mengatasi Masalah dengan Masalah"


Siapa yang tidak tahu beasiswa Erasmus mundus? Erasmus Mundus adalah beasiswa berbasis dana hibah Uni Eropa dimana penerima beasiswa dapat berkuliah di paling sedikit di 2 universitas dan 2 negara anggota Uni Eropa yang berbeda dengan Ijazah double, multiple, joint degree dan juga tunjangan yang sangat menggiurkan. Tapi siapa sangka beasiswa Erasmus mundus diambil dari seorang bernama Desiderious Erasmus Rotterdamus, seorang Ahli Theologi dan Humanis kebangsaan Belanda abad ke-15 yang belajar di sekolah monastik terbaik di berbagai negara Eropa dan terkenal sebagai pelajar terpandai pada masanya.

Ternyata, Belanda telah melahirkan banyak tokoh seperti Desiderious Erasmus Rotterdamus yang namanya diabadikan untuk nama beasiswa bergengsi. Belum lagi banyaknya peraih nobel yang berasal dari Belanda. Ataupun ilmuwan Belanda yang diakui dunia. Wah, penasaran, apasih yang membuat Belanda dapat melahirkan tokoh-tokoh diatas? Yap, salah satunya adalah sistem pendidikannya.

Sistem pendidikan yang dianut oleh Belanda adalah Problem Based Learning (PBL) yang saat ini diikuti Indonesia dan Negara-negara lain. PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai dasar atau basis bagi untuk belajar. PBL membuat Pembelajaran teacher centered berubah menjadi student centered, membuat siswanya berfikir keratif, kritis serta inovatif. Adalah Maastricht University sebagi pioneer, pengembang dan ahli di bidang PBL selama lebih dari 35 tahun.

Kalau di flashback, trnyata negara Belanda memiliki banyak masalah, masalah utama yang paling signifikan adalah dataran yang rendah. Dataran rendah ini mengakibatkan dua pertiga dari wilayah Belanda termasuk wilayah rawan banjir. Untuk mengatasinya, pemerintah membuat tanggul, bendungan, dan kincir angin.

Pada tahun 1912 terjadi badai dan banjir besar. Sehingga Belanda membuat tanggul yang bernama Afsluitdijk, dengan cara “mengeringkan air laut”, yang dapat menimbulkan masalah baru bagi Belanda, namun dengan teknik modern, kegigihan, kerja keras dan inovasi, Aufsluitdijk berhasil dibangun dan merupakan proyek konstruksi bendungan yang luar biasa yang mampu membelah Laut Selatan.


Nah, inilah yang menjadi senjata Belanda melawan banjir.  Dan, tidak dapat dipungkiri, tanggul, bendungan, kincir yang digunakan Belanda untuk mengatasi masalah, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Belanda. Seolah, ketiga hal tersebut menjadi ciri khas Belanda.

Masalah kompleks satu ini menegaskan bahwa, Belanda mengatasi masalahnya dengan masalah, dan menjadikan masalah sebagai sebuah solusi penyelesaiannya. Disini terlihat bahwa kekokohan Belanda saat ini adalah hasil dari tempaan masalah alam yang dialami negaranya secara menahun.


Walaupun PBL baru 35 tahun yang lalu dikembangkan di Belanda, namun penyelesaian masalah lewat masalah ini telah Belanda terapkan sejak ratusan tahun yang lalu, terlihat dari inovasi-inivasi Belanda terhadap berbagai masalah negaranya. PBL dikembangkan sangat baik di Belanda, dibuktikan dengan banyaknya universitas riset yang ada di Belanda yang bahkan 85% diantaranya  masuk dalam 200 universitas terbaik di dunia. PBL yang awalnya diterapkan Universitas Maastricht di bidang kedokteran, sekarang dapat diterapkan di segala bidang, dan bahkan dapat memajukan Negara Belanda. Dan Indonesia, boleh loh menerapkan PBL, agar mahasiswanya dapat berfikir think out the box, sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan permasalahan Indonesia yang lebih runyam dibanding Belanda J
"Karena jika masalah dibiarkan menjadi masalah akan tetap manjadi masalah, namun jika masalah diselesaikan dengan masalah dapat menjadi solusi yang menyelesaikan masalah." Berfikir global, bertindak local!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar