Jumat, 13 Maret 2015

Cerita 16 : pelajaran SD

Mengajar matematika di sekolah ini menuntut kesabaran. Paling tidak, mungkin setiap selesai pembelajaran aku selalu mengelus dada. Ada saja hal yang membuat demikian. Tapui mungkin ini tantangannya. Apakah aku bisa mengajar mereka, atau aku disini hanya sebagai symbol semata.

Seperti hari ini. Aku sudah kehilangan cara mengajarkan anak-anak tentang operasi hitung bilangan, positif dan negative. Menggunakan garis bilangan sudah, menggunakan perumpamaan pun acap kali aku lakukan. Tapi yaaaa, ketika mengajarkan paham, lewat sedikit babyar, lupa semuanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajarkan mereka klasikal seperti anak SD.

Aku tulis di papan tulis besar-besar “Operasi Hitung Bilangan Bulat”. Aku lalu bertanya

“Bosong tahu ini pelajaran kelas berapa?”

Mereka serempak menjawab “Pelajaran SD ibu.” Lalu ada yang nyeletuk “Ibu, masa kotong di kasih pelajaran SD. Nanti kalau-kalau ada anak SD yang melihat, kotong malu na ibu.”

Aku lalu tersenyum. Ini anak-anak ada juga rasa-rasa gengsinya. “Nah, kalau bosong son mau anak SD tahu, bosong harus paham betul materi ini. Kalau bosong son bisa, ibu son hapus materi ini. Ibu kasi tinggal sa materi di papan, biar nanti besok anak SD tahu.

“Jangaaaaaaan ibuuuuuu”

Aku pun mengajarkan mereka. Dan baru kali ini, mereka bersemangat sekali belajar matematika. Padahal yang aku ajarkan hanya seputar tambah, kurang, bagi, dan kali. Ketika pembahasan, mereka berteriak kencang-kencang. Aku senang. Yang kutangkap, mereka malu jika ketahuan tidak bisa pelajaran SD.

Hari ini, paling tidak mereka sudah mulai paham tentang bilangan positif dan negative. Walaupun setelahnya tetap saja masih banyak yang lupa, paling tidak mereka sudah belajar. Pembelajaran seharusnya memang seperti itu, kan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar