Sabtu, 12 Mei 2012

Muslimah dalam Peradaban Islam Masa Kini


Menjadi seorang muslimah merupakan suatu kenikmatan dan kebanggaan tersendiri bagi kita kaum perempuan. Bagaimana tidak, sebagai perempuan saja sudah sangat berharga apalagi diwarnai oleh iman islam serta akhlak yang baik, menjadikan seorang muslimah memiliki nilai tambah. Selain itu, muslimah dapat menjadi seorang yang multi-talenta. Muslimah dapat melakukan banyak hal yang bermanfaat, tanpa menyimpang dari kodratnya sebagai perempuan. Muslimah dapat menjadi seorang ibu rumah tangga, aktivis dakwah bahkan pekerja social, semuanya dapat dilakukan oleh seorang muslimah. Islam memberikan ruang yang luas untuk muslimah, dimana perannya bukan hanya di dalam keluarga melainkan juga terhadap masyarakat, Negara dan juga agama. Islam memberikan keleluasaan muslimah untuk dapat berprestasi dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Karena itulah muslimah merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat menentukan  perannya dalam membentuk generasi dan menciptakan peradaban.
Di era globalisasi saat ini, peran muslimah sangat kentara dalam membentuk peradaban. Terlihat dari banyaknya karya-karya muslimah untuk agama, keluarga, masyarakat dan Negara. Namun, masih banyak orang berpendapat konvensional yang mengaharuskan muslimah hanya sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurus suami dan anak, berdakwah pun hanya dalam keluarga saja. Kita sebagai muslimah yang ingin memajukan peradaban harus merubah paradigma konvensional seperti ini. Paradigma ini membuat muslimah tidak dapat berkarya dan bermanfaat, padahal Rasulullah berkata “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi selama kita bermanfaat, haruskah kita berpangku tangan dengan diam, sambil mengurus anak pun kita masih bisa produktif, selama ada keinginan kuat dalam diri kita.
Muslimah yang produktif bukanlah muslimah yang terus-menerus bekerja tanpa kenal lelah, sehingga mengabaikan perannya sebagai seorang perempuan, muslimah produktif adalah muslimah yang dapat menyeimbangkan antara kehidupan agama, keluarga dan sosialnya. Dan muslimah yang hanya dapat berada dirumah belum tentu dapat disebut sebagai muslimah yang tidak produktif, muslimah dapat memperbanyak ilmunya dan berdakwah dirumah atau melalui social media seperti yang sedang happening saat ini, muslimah juga dapat menuangkan ide-ide kreatifnya dalam sebuah tulisan sehingga dapat diketahui orang banyak. Sebagai contoh kita dapat melihat Asma Nadia, yang seorang penulis buku bestseller, Dia banyak menulis buku tentang muslimah yang dapat merubah paradigma masyarakat tentang muslimah, dan akhirnya dia dapat bermanfaat bagi orang lain. Eksistensi muslimah ini harus didukung dengan teknologi karena itu muslimah harus melek teknologi, karena dengan perkembangan zaman, teknologi terus berkembang, dan dengan teknologi muslimah dapat mempublikasikan karyanya ke masyarakat luas. Jangan sampai gagap teknologi menghambat produktivitas seorang muslimah.
Pada hakikatnya Islam menganjurkan muslimah untuk beraktifitas di dunia profesional, namun muslimah perlu mengerti bahwa sifat dari beraktivitas tersebut adalah untuk berdakwah membangun umat, bukan karena ingin berkarrier apalagi untuk menuntut persamaan gender, yang berujung pada kehancuran umat. Adalah faktor internal dan eksternal yang harus dijalani seorang muslimah dalam membangun peradaban.
Faktor internal adalah faktor yang paling penting, karena disinilah peradaban pertama mulai terbentuk, yaitu keluarga. Muslimah secara kodrati memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya, sebagai sosok istri dan sosok ibu. Sebagai seorang istri muslimah wajib berbakti kepada suami, dan bersama suaminya membangun keluarga islami yang menjadikan rumahku adalah surgaku. Sebagai seorang ibu, muslimah memiliki peran dalam membentuk generasi muda yang merupakan asset bangsa secara islami. Ibu yang memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga akan menggembleng anaknya dengan keimanan yang kokoh sejak kecil sehingga sehingga di kemudian hari anak mampu untuk menghadapi tantangan zaman, bahkan mampu menundukkan lingkungan dan masyarakatnya untuk tunduk pada aturan Allah SWT.
Faktor eksternal adalah faktor dari luar yang menuntut muslimah untuk memebentuk peradaban. Faktor ini adalah social, ekonomi, pendidikan, kesehatan dalam tugasnya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Setelah melaksanakan faktor internal, muslimah baru dapat melaksanakan kewajiban selanjutnya yaitu sebagai anggota masyarakat, melalui aktivitas social atau dakwah atau bekerja secara professional, dengan catatan harus seizin orang tua atau suami dan sesuai dengan syariat Islam. Muslimah wajib berdakwah dimanapun Ia berada untuk menegakkan nilai-nilai Islam, hal ini dapat dilakukan dari lingkup kecil sampai yang besar, disini terlihat bahwa aktivitas seorang muslimah tiada lain untuk mengemban amanah dakwah. Muslimah juga bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsanya.
Untuk melayani kebutuhan obyektif perempuan, muslimah dituntut untuk menjadi seorang profesional di bidang tertentu. Misalnya profesi bidan, perawat, dokter kandungan, dokter kulit dan kelamin wanita, penjahit pakaian wanita, polisi dan pengacara untuk kasus-kasus kewanitaan, untuk memikul tugas yang disebutkan di atas, kaum perempuan harus menggali dan menekuni berbagai ilmu pengetahuan Muslimah juga diwajibkan untuk mengamalkan tiap ilmu yang dimiliki, sehingga Islam tidak melarang muslimah untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, justru islam menganjurkannya.  Banyak muslimah yang bersekolah tinggi bahkan sampai profesor, ini tidak dilarang selama masih dalam kodratnya dan tidak meninggalkan kewajiban internalnya, juga tidak lupa mengenai tujuannya dalam menuntut ilmu. Sebagi contoh seorang Aisyah ra. yang memiliki kecerdasan dan hafalan yang mampu meriwayatkan banyak hadist dan banyaknya para sahabat yang belajar darinya, juga Khadijah ra. Seorang enterpreneur yang handal, ekonom terbaik, dan mampu mendampingi Rasulullah di saat-saat tersulit menghadapi kaum kafirin. Aisyah dan Khadijah adalah sosok yang cemerlang pada masa Rasulullah Muhammad SAW, yang membuktikan ruang gerak muslimah berperan dalam pengembangan peradaban Islam. Muslimah-muslimah masa kini harus mengikuti jejak Aisyah dan Khadijah, yang dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang dimilikinya dan juga berperan dalam kemaslahatan umat, sehingga dapat membentuk peradaban Islam di masa kini.
Untuk menjadi muslimah yang berkualitas sehingga dapat membentuk peradaban kita harus melaksanakan faktor internal dan eksternal sebaik-baiknya, kita tidak boleh memilih salah satunya. Muslimah juga harus pandai memanajemen dan mengelola waktu kegiatannya dengan baik, memilih mana yang prioritas dan mana yang bukan, sehingga tidak ada kewajiban yang terbengkalai. Apabila semuanya telah berjalan dengan baik, keberadaan muslimah mampu memberikan sebuah kontribusi nyata untuk membangun mental dan karakter bangsa melalui perannya dalam keluarga, masyarakat dan agama. Dalam setiap masanya muslimah diharapkan menjadi seorang cahaya yang dapat menerangi peradaban Islam bagi keluarga, masyarakat, negara, dan umat dengan berbagai kontribusinya melalui kemampuan dan kecerdasannya dalam memanfaatkan segala potensi yang ada dalam dirinya.
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

(diikutsertakan dalam lomba artikel Rumah Cantik Muslimah, yang diadakan oleh Departemen Keputrian IMMNI Unwagati, dan belum berhasil menjadi salah seorang dari tiga pemenang:))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar