Rabu, 09 September 2015

Cerita 37 - Cita-cita




“Apa cita-cita kalian?” Aku bertanya pada mereka di sela-sela pembelajaranku. Memang menjadi kebiasaanku untuk “mengobrol” ketika sedang menulis atau ya seperti saat ini. Mereka antusias menjawab. Aku pun bertanya pada mereka satu per satu. Ada yang ingin jadi dokter, guru, bidan, TNI, Polisi, Petani (?). Linmas (?), Membantu orang tua (?).

Kufikir memang ada beberapa yang memang cita-cita. Tapi untuk petani, Linmas, dan memabntu orang tua apakah itu sebuah cita-cita? Aku pun bertanya pada mereka apa itu cita-cita. Mereka asal-asal menjawab, banyak bilang cita-cita merupakan suatu pekerjaan. Dan kebanyakan mereka memang tak kreatif dalam menajwab masalah cita-cita ini. Bahkan kebanyakan cita-cita mereka hanya ikut-ikutan.

Aku lalu memberikan motivasi pada mereka tentang cita-cita. Mereka mendengarkan dengan seksama walau kadang banyak keraguan di benak mereka. Kadang mereka bertanya “mungkinkah kami bisa, Bu?”. Lalu aku menjawab “Pasti, kalian pasti bisa.” Keraguan-keraguan mereka memang beralasan, tapi jangan jadikan alasan itu sebagai suatu kegagalan di awal, sehingga mereka tak mau mencoba.

Aku pun meminta teman-temanku untuk mengirim surat pada mereka. Di sela-sela pembelajaran aku membacakan surat itu pada mereka. Mereka sangat excited. Ketika dapat surat dari Farid yang seorang perawat di Jepang, mereka tiba-tiba bertanya “Ko perawat bisa sampai ke Jepang, Bu?” Di akhir surat Farid menuliskan tulisan Hiragana dan aku tulis ulang di papan tulis, mereka langsung menuliskannya di buku mereka, dan bilang “Wah, kalau begini lama-lama Be su sampai Jepang.” Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka.

Lain halnya ketika mendapat surat dari Via yang seorang Jr. Research di PT. Aspal Button, mereka terkesima, karena wah ternyata ada pekerjaan seperti itu. Maklum, mereka hanya mengetahui pekerjaan sekeliling mereka, seperti Guru, Pendeta, Polisi, Perawat, dan Pegawai Kecamatan. Selebihnya? Mereka tidak mengetahui apa-apa.

Aku senang membacakan surat dari teman-temanku untuk mereka. Paling tidak mereka memiliki wawasan baru tentang pekerjaan dan juga tentang cita-cita. Di akhir pembacaan surat, aku meminta mereka untuk menulis cita-cita mereka. Yaa, walaupun masih ada yang cita-citanya nyeleneh tapi ada beberapa yang berubah.


Ah kalian. Memang kalian tidak seberuntung teman-temanku disana yang mengetahui banyak hal. Tapi Ibu yakin, dengan kalian yang rajin belajar, lambat laun kalian akan lebih banyak tahu. Kejar terus cita-citanya ya. Ibuu harap salah satu dari kalian ada yang bisa seperti teman-teman Ibu. Pekerjaan yang sempat kalian fikir sebagai pekerjaan aneh yang tak mampu kalian jangkau. Kalian pasti bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar