Rabu, 09 September 2015

Cerita 36 - GLORI CUP III

Menyambut hari ulang tahun Gereja Lahai Roi Manufui, akan diadakan turnamen sepak bola se-klasis amfoang utara, Glori Cup III namanya.

Seperti biasa hari Minggu adalah harinya mencuci. Nesya pergi ke Gereja, aku beres-beres kamar. Selepas Ibadah aku dan Nesya diajak untuk mengikuti rapat pembentukan panitia Glori Cup. Ini acara gereja, tapi bagiku sah-sah saja selama tidak mencampur baurkan akidah, toh ini hanya acara turnamen sepakbola. Rapat berjalan, Nesya menjadi Sekretaris dan aku menjadi koor dokumentasi. Aku senang-senang saja, paling tidak kehidupanku di kampung tidak monoton, maksudnya ada kegiatan lain selain mengajar.

Selepas aku liburan paskah, di kampung mulai disibukkan dengan persiapan kegiatan Glori. Rapat ini rapat itu. Mulai dari tugasku sebagai koor yang tiba-tiba merangkap menjadi publikasi. Aku yang (agak) sedikit bisa photosop, didaulat untuk membuat ini itu. Hari-hari menjelang turnamen, aku begadang terus menyelesaikan tugasku. Kadang sampai tidur di rumah orang karena persiapan ini. Tapi bagiku ini menyenangkan karena aku bisa kenal dengan pemuda Oelfatu yang mengasyikkan. Kegiatan paling menyita waktu adalah Dana dan Usaha, kita berjualan di pasar pagi hari untuk mencari dana. Tapi ini yang aku salut, semuanya benar-benar berpartisipasi dalam acara ini. Bahkan Pa Pendeta sebagai ketua majelis sangat all out dalam turnamen ini.

Turnamen dibuka pada tanggal 20 Agustus which is aku sedang puasa. Yap Turnamen ini dilaksanakan 3 minggu selama bulan puasa. Bahkan Remaja Masjid Naikliu pun turut serta. Saat pembukaan aku didaulat ikut serta dalam menyambut tamu, Aku mengenakan pakaian adat, dan ini kali pertamaku mengenakan pakaian adat Timor. Semua orang takjub. Aku lebih merasa seperti Ibu pejabat karena pakaian yang kugunakan, kebaya, sarung, kerudung. Berasa istri anggota DPR. Wkwk.

Selama tiga minggu turnamen dilaksanakan. Dan selama tiga minggu aku puasa di kampung. Biasanya acara dimulai pada jam 3 sore. Jadi aku habis ashar datang ke lapangan, lalu jam 5 pulang untuk buka puasa, setelah buka kembali lagi ke lapangan untuk evaluasi. Tapi yak arena acara ini puasaku sungguh tak berasa, tau tau sudah pagi, tau tau sudah buka lagi. Mereka menghormati sekali aku yang sedang puasa. Kadang, kalau aku magrib masih disana mereka berteriak “Ibu Kiky su buka ko belum?”.

Pertandingan selama tiga minggu ini amat sangat seru dan ramai. Untuk sekelas pertandingan antar kampung, bagiku Pemuda Desa Oelfatu menyajikan turnamen yang super Waw. Mulai dari sponsor, acara, pertandingan, aturan dsb. Alhamdulillah acara lancar. Dan aku mendadak suka dengan sepak bola, walaupun tidak mengerti aku terhanyut dalam Euphoria turnamen.

Di babak final dilakukan penarikan undian kupon berhadiah sebagai kegiatan danus. Acara penutupan malam hari dan aku didaulat sebagai MC. Padahal aku belum pernah jadi MC di depan banyak orang. Bayangkan se-kecamatan tumpah ruah di lapangan. Mereka bilang biar terlihat lintas agama. Aku mau tak mau harus mau.

Alhamdulillah, turnamennya lancar jaya walaupun ada sedikit drama. Tapi ini menjadi salah satu pengalaman berharga bagiku bekerja sama dengan mereka. Esok hari setelah penutupan, aku merasa sepi. Euphoria masih ada, tapi acara sudah berakhir.






Ah, Glori juga membuatku dekat dengan para pemuda desa. Yang semula tak kenal jadi saling kenal. Yang semula tak sapa jadi saling sapa. Terimakasih, semoga kehadiranku dapat bermanfaat aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar