Rabu, 09 September 2015

Cerita 39 - Perjalanan ke Utara

“Mau ikut ngga ke Naikliu?” Pagi hari kak Ale bertanya padaku dan Nesya. Naikliu adalah desa di Kecamatan Amfoang Utara. Desa dimana ada teman SM3T yang bertugas dan Kecamatan di Amfoang yang satu-satunya memiliki masjid. Tanpa babibu aku langsung mengiyakan ajakan Kak Ale. Aku penasaran, bagaimana rupa masjid di dearah minoritas.

Amfoang Utara merupakan Kota Kecamatan. Sebelum pemekaran, Amfoang merupakan suatu wilayah yang memiliki pusat kecamatan di Amfoang Selatan (Lelogama) dan Amfoang Utara (Naikliu). Apa kelebihan dari kota kecamatan. Jadi di Naikliu dan Lelogama PLN sudah masuk desa, walaupun hanya 12 jam yaitu dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, sinyal internet juga dapat disini walaupun hanya edge. Tapi itu kelebihan dari kota kecamatan. Selain itu ya sama aja, selayaknya desa-desa lain di Amfoang.

Setelah bersiap-siap kami pergi ke utara. Aku bersama Kak Elton dan Nesya bersama Kak Ale. Bagaikan perjalanan Tom San Chong mencari kitab Suci di Utara perjalan juga tak semudah yang dibayangkan. Jangan pernah mengharapkan jalanan rapi beraspal. Itu hanya sebatas angan dan impian. Medan jalan ini lebih parah dibanding jalanan di desaku. Jalanan batu pasir dengan debu yang aduhai menyambut kami selama perjalanan. Perjalanan membelah hutan ini menghabiskan waktu satu jam. Tak dianjurkan untuk menggunakan pakaian bagus disini, percuma nanti yang warnanya hitam berubah menjadi abu-abu.

Sampai di Amfoang Utara rasanya memang beda apalagi ketika sampai Naikliu. Di dekat Kantor kecamatan Amfoang Utara terdapat bangunan Bank NTT yang katanya akan dibuka bulan Oktober (kenyataannya sampai saya selesai tugas SM3T bank NTT capem Naikliu belum jua dibuka). Disana juga ada dermaga, tempat kapal berlabuh. Pertama kali kesana memang seperti biasa dermaga hanya bangunan di pinggir laut tapi sekitar bulan Maret ketika kapal Kiser dari Ambon yang berlabuh di Dermaga masuk, dermaga tersebut mulai kelihatan sedikit berfungsi ya walupun hanya dua minggu sekali. Selebihnya dermaga hanyalah tempat duduk-duduk menghabiskan waktu sore atau tempat foto yang mereka anggap gagah.

Ada dua orang  teman SM3T disana yaitu Menik dan Uyun. Sekolah mereka ada di desa Afoan dan tempat tinggal mereka ada di desa Naikliu, dan jarak antara tempat tinggal dengan sekolah adalah 6 km. Gilak. Kami langsung menuju ke tempat tinggal menik dan uyun, mereka tinggal di lingkungan masjid. Kalo disini mah namanya tempat tinggal marbot, bangunan semi tembok. Aku dan Nesya suka ngejek namanya “gubuk derita” ya padahal tempat tinggal kami juga gak lebih baik dari tempat mereka.

Melihat masjid bawaannya langsung pengen sholat. Gimana engga udah lama banget gak denger suara adzan. Emang di Masjid ini juga sdzan hanya dikumandangkan padaa saat Isya, Magrib dan subuh tapi gak mengurangi esensi masjid sebagai rumah ibadah. Muslim disini berjumlah 20 KK, mereka adalah orang bugis yang merantau disini.


Bertemu teman seperjuangan, tak henti-hentinya kami bercerita tentang penempatan masing-masing. Senang rasanya bersenda gurau sampai tak terasa waktu menunjukan jam 7 malam.  Kami memutuskan untuk pamit pulang. Kebayang buat aku yang penakut ini jalan dengan malam melewati hutan belantara yang gelap, ihhh serem. Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan walaupun dengan Perjalanan malam yang hanya diterangi oleh lampu motor disertai dengan doa Rizky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar