Rabu, 09 September 2015

Cerita 38 - Hati-hati orang mabok

“Orang NTT semuanya baik, kecuali orang mabok.” Begitulah kira-kira perkataan Kepala Dinas PPO Kab. Kupang ketika aku prakondisi di upi Bandung, saat beliau menjelaskan tentang keadaan di penempatan.

Orang mabok? Pasti tak berakal fikirku. Begitu sampai disini mabok atau minum minuman keras merupakan suatu kebudayaan dan kebiasaan. Bahkan ada yang bilang berbagi minuman keras adalah berbagi berkat (?). Sopi dan laru merupakan nama asli minuman keras disini. Dibuat dari fermentasi pohon laru dan tuak, minuman ini dibuat. Yang menjual kebanyakan orang-orang pribumi yang memproduksinya secara tradisional.

Bukan hanya acara pesta, terkadang mereka minum ketika sedang makan atau bahkan sebelum rapat kadang mereka minum dulu. Tapi anehnya nanti rapat berjalan seperti biasa dan mereka juga berbicara semakin lantang dan terarah, eits itu mungkin hanya beberapa orang. Selebihnya? Ada yang mabok rese, ada yang mabok gila.

Harga sopi atau laru satu botol 600ml adalah Rp. 15.000,- mahal? Bagiku mahal. Hanya untuk kenikmatan sesaat. Mendingan uangnya untuk beli telur anak supaya tidak makan kosong. Entahlah bagaimana pemikiran orang disini. Mereka mampu untuk membeli miras tapi untuk makan sehari-hari hanya makan nasi kosong.

Hal yang lucu adalah ketika pesta. Saat acara bebas (dansa), ketika masih jam-jam awal dimana orang-orang belum panas, jarang ada yang turun ke arena dansa. Tapi, setelah mereka menenggak satu gelas sopi, wih arena mulai ramai. Jadi menurut mereka miras itu membuat kepercayaan diri bertambah, yaeyalah mabok.

Aku banyak memiliki pengalaman dengan orang mabok, dari mulai mabok sadar sampai mabok rese. Bapak Desa adalah peminum, hamper setiap hari Bapak minum. Cara paling gampang mengetahui kalau bapak habis mabok adalah di pagi hari, ketika sikat gigi Bapak Oek Oek, maka malamnya atau kemarinnya beliau habis mabok. Karena sopi bukan merupakan barang illegal disini aku sampai-sampai tahu bau sopi seperti apa. Aku tahu cirri-ciri orang yang mabok. Ah, semacam sudah professional saja aku.

Pengalaman dengan orang mabok rese bahkan lebih banyak. Bulan awal aku disini aku dikejutkan dengan orang mabok yang memukul siswaku. Aku yang kala itu takut justru berlindung dibalik para siswa. Siswa juga tak mengizinkan aku untuk bertemu dengan orang maboknya. Mereka bilang “Aman sa ibu, kami bisa atasi, ibu diam-diam sa.”

Ada yang lebih parah adalah bertemu dengan Om Tinus yang tidak lain dan tidak bukan adalah omnya Bapa Desa. Om Tinus berasal dari kampung lama dan hobinya mabok. Nah, karena dia tak pernah menikah, setiap mabok dia maunya dekat-dekat perempuan. Ih menyeramkanlah pokonya, padahal kalau tidak mabok dia pendiem banget. Sampai-sampai aku sama Nesya kalau ada Om Tinus hanya diam saja di kamar, tidak berani keluar, daripada dikejer-kejer.

Ah masih banyak pengalaman dengan orang mabok. Tak kenal usia dan jenis kelamin, semuanya mabok sampai pusing aku melihatnya. Yang kasihan adalah aku pernah melihat mama-mama yang di KDRT-in sama suaminya. Duh, muka dan badannya bonyok-bonyok mengenaskan.

akibat mabok bukan hanya KDRT pada istri, kadang orang mabok yang tidak sadar  lalu memaki tetangga, atau bahkan mudah terpancing emosi yang akhirnya memicu perkelahian, dan ujung-ujungnya denda adat. Yang rugi siapa?


Disini aku melihat kemungkaran, tapi aku bisa apa. Sebisa mungkin aku menghindari. Tapi ini budaya, budaya yang bagiku tidak baik untuk dilestarikan, budaya yang seharusnya direvitalisasi, jika masyarakat paham dan mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar