Rabu, 22 Juli 2015

Cerita 33 – Oepoli, Perjalanan tapal batas Indonesia

Hari Minggu aku diajak panitia Glori Cup menyebarkan undangan ke daerah Timur Amfoang, sampai ke Oepoli perbatasan Republik Indonesia dengan RDTL (Republic Democratic of Timor Leste). Aku yang belum pernah sampai ke Oepoli langsufng mengiyakan ajakan tersebut. Setelah surat-surat sudah lengkap akhirnya aku, Pak Elfen, Yabes, Jitro, Matias dan Derven pergi sekitar jam 9 malam. Kami tiga motor, aku di bonceng Pak Elfen. Perjalanan pertama menuju Naikliu. Kami akan bermalam di tempat teman SM3T. Keesokan harinya sekitar jam 6 kami langsung melanjutkan perjalanan.

Tujuan utama perjalanan ini adalah menyebarkan undangan ke gereja-gereja. Jadi sepanjang perjalanan kami berhenti untuk membagikan undangan. Dimulai dari desa-desa di amfoag utara. Jalanan di Amfoang utara ini parah sekali. Bebatuan, membuat motor kadang selip. Kalau orang yang tidak ahli bawa motor jangan coba-coba lakukan perjalanan ini. Aku dan Elfen memiliki perjanjian, bagaimanapun keadaan jalan, aku tidak diperkenankan untuk menurunkan kaki, kakiku harus tetap berada di kuda-kuda.
Lanjut dari perjalanan yaitu Naikliu, Fatumonas, Kolabe, Bakuin sampai Nunuanah perjalanan sungguh offroad. Tidak jarang aku harus turun berjalan kaki, karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Kalau mau lihat jalanan di Indonesia, ya disinilah jalanan sesungguhnya, mendaki menurun penuh bebatuan. Kita juga melewati kali sitoto, kali terbesar di Amfoang yang lebarnya hampir 1 km, dan selalu tergenang air. Sampai disana kami istirahat sebentar untuk membersihkan motor yang penuh debu. Perjalanan lanjut ke Nunuanah. Ketika sampai di Nunuanah aku mampir ke rumah Orang tuanya Mama Desa. Berhenti sejenak disana untuk meluruskan kaki. Lalu melanjutkan perjalanan kembali.
kali sitoto
Nah, jalan dari Nunuanah sampai Oepoli licin. Aspal maksudnya. Bahkan sampai gang-gang juga di aspal. Mereka bilang karena jalan ini merupakan jalan perbatasan, sehingga diperhatikan pemerintah. Tapi Nunuanah juga sama tanpa listrik, kebanyakan orang menggunakan tenaga surya. Diperjalanan menuju Oepoli terhampar Lautan yang sangat indah. Sampailah kita di Fatuike. Pantai yang memiliki karang sangat tinggi.

Kami sangat excited melihat karang-karang yang tinggi menjulang sangat indah, kami langsung turun dari motor berlari sampai disana. Naik ke karang-karang yang tinggi, mengabadikannya, naik ke karang yang lain. Tak henti-hentinya aku mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan. Dan, ternyata bukan hanya di Bali, disini daerah perbatasan yang tak tersentuh sekalipun memiliki keindeahan alam yang sangat menawan.

Walaupun kurang puas, kami lalu melanjutkan perjalanan. Memasuki Oepoli ada hal yang berbeda disana. Rasanya seperti buikan berada di perkampungan, Oepoli ramai, tidak seperti daerah-daerah Amfoang lain yang pernah aku kunjungi, rumah-rumah di Oepoli saling berdekatan. Sawah-sawah yang besar sekali di sepanjang perjalanan. Kalau di desaku biasanya orang tanam padi bisa di pekarangan rumah, lain halnya di Oepoli, pemukiman sendiri sawah sendiri. Jadi terlihat lebih teratur.
 





Undangan semua telah dikirim.  Aku ingin bertemu dengan teman SM3T yang di Oepoli, tapi saying sekali mereka sedang mengikuti panen raya. Tadinya aku juga mau ikut panen raya tapi terlambat. Akhirnya kami pulang. Oh ya, kami juga tidak sampai ke pos perbatasan karena satu dan lain hal. Tapi paling tidak aku sudah sampai di perbatasan Indonesia-Timor Leste, dan melihat sisi lain Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar