Rabu, 22 Juli 2015

cerita 34 - ujian di atas ujian

Hari ini…

Apa yang terjadi hari ini? Sebenarnya hari ini tidak ada yang istimewa. Hanya ujian akhir semester, ya memang ini adalah ujian akhir semesterku selama mengajar disini. Semua awalnya biasa.

Jam pertama, aku tidak ada jadwal mengawas. Seperti guru-guru lain yang tidak mengawas kami berkumpul di ruang guru, dengan kesibukan masing-masing. Semuanya mendadak diam ketika ada orang tua murid yang datang ke sekolah sambil teriak-teriak. Orang tua murid yang malam harinya aku datang kerumahnya untuk pesta ulang tahun. Marah, karena masalah uang iuran sekolah. Aku yang sedang tidur langsung melonjak kaget. Mama yang datang mengamuk suaranya sangat keras, tau kan orang timor jika sedang emosi.

Jadi, peraturan menentukan bahwa anak yang belum bayar uang iuran tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian, ketika dia sudah bayar dia bisa mengikuti ujian susulan. Sang mama tidak terima, karena anaknya pulang begitu saja. Mama tidak tahu peraturan itu karena anaknya memang jarang sekolah. Dengan penuh emosi, mama mengamuk ke guru. Digiring ke kantor tidak mau, marah-marah di depan ruang kelas. Untungnya hal ini cepat ditangani dan mama cepat mengerti, semua selesai semua aman.

Masalah satu sudah aman. Semua kembali ke pekerjaan semula. Sampai…
Ada guru SMK yang lewat sambil teriak “itu ada guru SMA yang pukul anak sampai pingsan”
Hah? Ini yang lebih membuat kaget. Kufikir ini hanya main gila saja. Aku datang ke kelas yang bersangkutan. Memang banyak anak yang sedang berkerumun disana, ada juga anak yang berteriak keskitan, lagi-lagi kufikir ah, ini paling biasa. Aku pun kembali ke ruang guru. Taunya, anak yang tadi dipukul oleh oknum guru dipapah menuju ruang guru. Badannya kaku, kuning, bergetar. Duh, pokoknya mengenaskan lah.

Di ruang guru, dia dibaringkan di atas meja. Panik, semua guru dan kepala sekolah panic. Panggil tukang urut, panggil tukang doa, panggil pendeta. Ambil minum, ambil bawang, ambil minyak. Lari sana lari sini, ujian juga jadi tak karuan. Sang oknum hanya duduk terdiam.

Tukang urut bilang darah sang anak tidak mengalir. Akupun melihat demikian. Pengalamanku yang melihat papa sakit stroke membuatku iba terhadap sang anak. Bagaimana tidak, masa depan sang anak masih panjang kalau lumpuh bagaimana. Tukang urut tidak mempan untuk membuat darah sang anak mengalir. Usut punya usut sang anak dipukul di bagian belakang leher. Mau langsung dibawa ke puskesmas, tapi badan sang anak kaku. Kalau nanti taruh di muka bersama supir, tidak akan bisa, taruh di bak truk takutnya kenapa-napa karena cuaca yang panas sekali.

Pendeta bilang sang anak tidak apa-apa, hanya shock saja. Tukang doa bilang sang anak memiliki beban sehingga bisa sampai begini. Entahlah mana yang benar, yang jelas setelah diurut dan didoakan sang anak akhirnya sadar, darah mulai mengalir, badannya pun tidak kaku lagi.

Apa yang menyebabkan oknum guru memukul sang anak? Ya seperti biasa hanya masalah sepele, hanya masalah buku perpustakaan yang sang anak pinjam. Kali lalu, sang anak sudah mengembalikan ke pegawai perpustakaan, tapi dikarenakan sudah mau pulang sekolah anak tidak tanda tangan di buku pengembalian. Sehingga ketika oknum guru yang merupakan wakasek sarpras mendata anak yang belum kembalikan buku nama sang anak ada dalam daftar tersebut. Ketika ujian tengah berlangsung terjadilah pemukulan tersebut.

Sang anak sudah baikan, sudah dibawa ke puskesmas, masalah baru muncul. Wali sang anak yang merupakan mantan kepala desa Honuk datang dan melaporkan sang oknum guru ke kantor polisi, Panik. Oknum guru langsung dibawa ke pos pelayanan. Kami guru-guru juga ikut ke pos pelayanan. Seumur-umur baru aku ke pos pelayanan yang ada penjaranya.

Kami iba melihat oknum guru. Si wali anak keukeuh ingin masalah ini diselesaikan melalui proses hokum. Namun, bapak kapospol melihat ini masalah yang tidak seharusnya sampai memenjarakan seseorang, sehingga Kapospol meminta penyelsesaian masalah esok hari bersama bapa desa dan bapa komite, tapi sang oknum akan tidur di penjara malam itu.

Keesokan harinya semua berkumpul untuk menyelesaikan masalah. Masalah yang cukup pelik karena wali korban igin masalahnya diusut terus. Namunbapak desa menengahinya. Setelah berbicara sampai 6 jam akhirya diberi keputusan bahwa korban harus divisum dulu di rumah sakit, selama menunggu visum oknum guru dikenakan wajib lapor. Setelah visum selesai dan hasilnya baik, oknum guru akan bebas dengan membuat surat pernyataan, namun jika hasil visum ada gangguan pada kesehatan anak, maka masalah akan diusut kembali.


Dari dulu, aku tidak pernah setuju pada kekerasan yang dilakukan di sekolah. Dengan dalih untuk mendidik anak, banyak guru yang menghalalkan tindakan pemukulan. Kejadian ini merupakan pelajaran bagi guru yang ringan tangan agar tidak melakukan kekerasan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar