Rabu, 15 Juli 2015

Cerita 25 – KUPANG AMFOANG PP

Bapa desa mau punya hajat. Sebagai anak angkat bapa desa yang baik hati harus ikut berpartisipasi dalam acara Bapa Desa. Kan tidak enak, masa pesta di orang lain ikut heboh tapi dorang tua sendiri tidak. Masalahnya Nesya ada di Jakarta dan aku berada di Kupang. Bapak menelponku memberitahu bahwa tanggal 29 Desember pesta anak-anak Sidi dan Angga dibaptis. Dari nada suaranya sepertinya bapa sangat berharap aku ikut.

Janjian dengan anak bapa yang kuliah di kupang kami berangkat. Aku mengajak teh kiki untuk turut serta. Sebelum berangkat terjadilah drama. Anak bapa desa memesan kursi untuk tiga orang, bus Om sultan. Aku dan the kiki berangkat dari Oesapa. Kami tunggu, bis om sultan lewat dan penuh sesak, aku tidak jadi naik. Anak bapa telah menungguku, tapi justru dia naik bis yang lain dan sudah jalan. Akhirnya aku mengejar bis ke Oelamasi, dengan perasaan kesal karena tidak dapat bis. “pokonya kalo ngga dapet bis kita pulang aja.” Ujarku pada the kiki. 

Sampai Oelamasi untungnya ada bis yang memang menungguku. Sepanjang perjalanan yang exited adalah teh kiki, maklum penempatannya di Takari, daerah gunung. Sepanjang perjalananku adalah laut, mata dia langsung segar melihat pemandangan laut yang aduhai. Perjalanan masuk dan keluar kali membuat the kiki berkata “Gila jalanannya parah banget.” Yap, inilah Amfoang.

dibelakang kali yang banjir
Sore kami sampai di rumah.  Aku bilang ke supir bis untuk menjemput lagi besok, liburanku di Kupang belum kelar. Sampai rumah, aku melihat bapa dan anak-anak senang atas kedatanganku. Malam hari pesta dimulai. Dan kami galau mau pulang kapan. The kiki bilang mau jalan-jalan Amfoang dulu, tapi masalahnya tanggal 30 sampai 1 Januari tidak ada bis yang berangkat. Diputuskanlah kami pulang besok..

Pesta berlangsung sampai malam atau bahkan samapi pagi, tapi aku dan the kiki pulang lebih awal. Pagi-pagi sekali bus sudah datang, aku pamit ke Bapa yang masih dalam suasana pesta (maklum pesta disini sampai siang). Muka Bapaseperti bertanya-tanya “Ko pergi lagi”. Tapi aku langsung bilang ke Bapa “Urusannya belum kelar.”




bus mogok, sama-sama doorooong
fatkolo
Sepanjang perjalanan aku hanya tidur, tapi di tengah perjalanan aku harus bangun karena bus yang mogok di daam kali. Panik, karena musim hujan dan kemungkinan banjir datang bisa kapan saja. Penumpang di dalam bus juga Cuma sedikit. Akhirny aku the kiki dan penumpang yang tersisa lain ikut membantu tarik bus. Berkali-kali tak kunjung jalan. Sampai kami makan mangga juga tak kunjung jalan. Hampir putus asa tapi untungnya bus kembali jalan.

Perjalanan kali-kali sudah mulai banjir. Bus harus mampu melewati kali yang berair. Kufikir seperti di film-film. Hehe. Karena penumpang yang sedikit kami bebas minta turun ke supir. Lihat pantai turun untuk foto. The kiki paling heboh.

Sore sampai Kupang, dan kami langsung di ajak ke Pulau Semau.

Merasa hebat karena bisa pulang pergi amfoang. hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar