Rabu, 22 Juli 2015

Cerita 32 - Translator ala-ala untuk dokter dari Perancis

Nanti hari Rabu dan Kamis ada pemeriksaan gratis dari dokter-dokter Perancis, di Puskesmas dan gratis. Begitu pengumuman di desa yang aku dengar. Aku bersama warga desa turut dalam euphoria menanti para dokter tersebut. Di benakku hanya satu, Perancis, Negara yang sangat aku ingin kunjungi. Memang tujuan utamanya memang mau berobat dan konsultasi tentang batukku yang tak kunjung sembuh, selebihnya? Mungkin aku bisa berbincang dengan mereka, terus diajak deh ke Perancis *Loh?

Rabu pagi aku dan Nesya ke Puskesmas, belum mandi langsung berangkat. Kan emang orang sakit. Haha. Sampai sana, memang nampaknya hanya kami yang belum mandi, muka kucel dan memakai baju tidur. Oke abaikan. Di Puskesmas, ternyata para dokter belum datang. Kami bersama “pasien” yang lain menunggu dengan sabar, sampai rombongan datang. 12orang dokter dari Perancis dan 2 orang penerjemah? Nahloh, 12 orang dengan hanya 2 penerjemah. Mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau kebanyakan orang Perancis kurang memahami bahasa Inggris. Disitu kehebohan mulai terjadi.

Adanya kesalahpahaman dengan staff Puskesmas dan para dokter, justru yang membuat pasien yang meilhat keriuhan tertawa. Kepala Puskesmas yang bingung dan dokter-dokter yang berlalu lalang berputar-putar. Akhirnya, dengan gerak bahasa tubuh plus isyarat yang aduhai ditetapkanlah ruang perawatan masing-masing dokter. Kenapa masing-masing? Ya karena dokter-dokter tersebut bidanganya masing-masing. Terus nanti yang berkomunikasi sama pasien siapa? Pasien notabene hanya mengerti bahasa Timor dan paling TOP bahasa Indonesia.

Mulai lagi terjadi keramaian. Ada beberapa yang bisa bahasa Inggris. “Ibu guru dua-dua bisa bahasa Inggris koh?” Kepala Puskesmas bertanya padaku. Aku dan Nesya saling tatap dan buru-buru mengangguk. Eh gila, terakhir ngomong pake bahasa Inggris kapan gue? Batinku. Akhirnya kami menjadi penerjemah dokter, Aku di bagian kandungan dan ginekologi, Nesya di bagian dokter umum.

Dokter peganganku adalah dokter Hafidah berkebangsaan perancis berumur 45 tahun dan cantik syekali. Terdengar familiar namanya? Ya dia muslim. Kaget? Sama aku juga. Aku didampingi oleh dua bidan asli Puskesmas. Dengan bahasa Inggris yang paspasan, dan kemampuan bahasa Inggris sang dokter juga yang sama denganku kami memulai praktek. Aku diminta sang dokter untuk bertanya pada setiap pasien “Hari pertama menstruasi terakhir”. Dan oh, si dokter selalu melakukan pemeriksaan dalam pada setiap pasien yang hamil.

Aku yang basicnya bukan kesehatan terkadang bingung dengan istilah kedokteran yang digunakan sang dokter. Terkadang sang dokter bingung mencari padanan kata, begitu pula aku. Ketika sulit mencari padanan kata, beliau langsung berbicara bahasa perancis yang membuat aku langsung bengong. Nah untungnya ada dua ibu bidan yang paham bahasa medis. Coba siapa yang tahu bahasa Inggrisnya keputihan? Aku susah payah menjelaskan, hingga aku Tanya ke bu bidan bahasa ilmiahnya baru sang dokter mengerti.

Puluhan pasien masuk dan keluar di ruang kami, aku jadi tahu denyut nadi seorang bayi. Banyak bayi yang diperiksa kembar. Tahu jadi bagaimana cara memasang KB implant, yang paling penting tahu kalau KB suntik dan PIL itu tidak baik bagi kesehatan jangka panjangnya. Aku juga melihat bagaimana mama-mama yang masih muda mengandung, yang kandungannya besar, bahkan ada yang kecil. Bagaimana cara menaikkan bobot kandungan. Walaupun dengan bahasa yang kadang terbata-bata aku merasa memiliki pengalaman yang baru.

Di hari terakhir kami berfoto, maklum hari pertama tampangku gak oke karena belum mandi dan masih pakai baju tidur. Kami juga banyak bercerita tentang keluarganya, beliau memiliki dua anak, suaminya seorang diplomat di Italia. Tentang perjalanannya berkeliling dunia, fyi: dia sudah naik haji, dan ah masih banyak lagi. Lucunya, ketika selesai pengobatan, beliau mencari-cari seuatu dalam tasnya. Ternyata beliau mencari bullpen, untuk diberikan padaku sebagai souvenir. Seneng gak sih? Tapi sayangnya bulpennya gak ketemu, akhirnya dia memberiku sabun asli dari perancis dan tisu. Bakal aku simpen dan aku pake nanti pas di Jawa, hihi.



Berbicara dengan native aksen perancis, dokter pulak. Ah, unforgettable moment in my life. Coba kan kalo aku gak ada disini, mana bisa aku begini hihi :p

Thank you dr. Hafida, see you in france 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar